Ilustrasi


Saat itu pemangku pura di Bali tersebut lari terbirit-birit dalam keadaan tanpa busana.

Aib Pemangku Pura Merajapati berinisial NS (37) di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali terlanjur terumbar.

Aksinya yang tertangkap basah sedang berhubungan dengan wanita idaman lain disebuah kamar vila, Rabu (18/10/2017) lalu, membuat sejumlah tokoh maupun perangkat Desa Gitgit merapatkan barisan.

Mereka membahas dan mencarikan solusi terbaik atas kasus yang tanpa disengaja turut menyeret nama desa tersebut.

Ketut Sukertia mengatakan, selain diberhentikan sebagai pemangku di Pura Merajapati Desa Gitgit, hasil paruman juga menyatakan jika NS rencananya akan dikenai denda sebesar Rp 2,2 juta.

Dengan rincian Rp 200 ribu untuk membayar banten prayascita, serta Rp 2 juta untuk membayar denda karena perbuatannya yang tercela.

Sementara itu, Sukertia juga menegaskan jika prajuru, adat, maupun dinas Desa Gitgit tidak mau terlalu ikut campur terkait permasalahan hukumnya.

Diberitakan sebelumnya, NS (37), pemangku Pura Merajapati di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, tertangkap sedang berduaan dengan seorang perempuan NLK (25) di vila.
Perkaranya, NLK dipergoki oleh suaminya sendiri, NSD(25).

Mereka kedapatan sedang berhubungan intim, di sebuah kamar vila di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Rabu (18/10) siang.

Satu jam berselang, sang suami tiba-tiba datang.Ia masuk dan memergoki.Saat itu pemangku tersebut lari terbirit-birit dalam keadaan tanpa busana.

Dua kali tertangkap basah

Menurut Kepala Desa I Putu Wardana, NS menjadi pemangku di Pura Merajapati sekitar satu tahun belakangan ini.

Pria itu pun, sebut Wardana sejatinya sudah memiliki dua orang istri. Dimana, istri keduanya itu juga terpaksa ia nikahi karena kasus yang serupa. Yakni membawa kabur istri orang.

“Berarti totalnya sudah dua kali dia berbuat seperti ini. Kejadian yang pertama saya tidak tahu persis, karena saya belum menjabat sebagai kepala desa waktu itu. Kalau tidak salah kejadiannya juga hampir sama. Tapi istri orang itu dia ajak ke rumahnya sendiri. Bukan ke penginapan,” terang Wardana saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (19/10/2017) siang.(anya/tbn)kabarsatu.news

***

Enake mung seklentheng, larane nganti serendheng, kata orang Jawa. Enaknya hanya sebesar biji kapuk randu, tapi deritanya sampai sepanjang musim hujan. Rugi tenan! Maka hendaknya hidup ini berhati-hati.

Krim

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.224 kali, 1 untuk hari ini)