MUI Akui ‘Kecipratan’ 10%

  • Presiden Direktur GTIS Michael Ong dan Direktur Edward sejak pekan lalu menghilang dari Jakarta.
  • “Kasus seperti itu sebenarnya sudah sering terjadi. Dulu pernah mencuat kasus PT QSAR di Sukabumi. Skemanya sama yakni money game atau skema Ponzi yakni cara memutar dana nasabah dengan cara membayar bonus nasabah lama dengan sumber uang dari nasabah baru. Hal itu terus berlangsung hingga jumlah dana dari nasabah baru tak bisa lagi menutupi pembayaran bonusnya,” papar Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas Syahrul R. Sempunajaya

Inilah beritanya.

***

PERUSAHAAN INVESTASI BODONG: GTIS Dapat Seterfikat Dari MUI

JAKARTA — PT Golden Traders Indonesia Syariah yang tengah jadi pembicaraan terkait keterlambatan pemberian imbal hasil bulanan kepada nasabah dan isu kaburnya sang Dirut ternyata bukan perusahaan biasa.

GTIS pernah mendonasikan Rp40 juta untuk pembangunan rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Sebuah piagam ucapan terimakasih disampaikan Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) pada November 2012 ditandatanagani ketuanya Sarbini Abdul Murad.

Sementara GTI (tanpa embel-embel syariah) pernah mendapat ucapan terimakasih dan penghormatan dari Detasemen D Satuan III Pelopor atas dukungannya dalam HUT Brimob ke-66 tahun 2011. Lembar berjudul “Piagam Kemitraan” itu ditandatangani oleh Kepala Detasemen D Selamet Rianto.

Dewan Syari’ah Nasional saja memberikan sertifikat kepada PT Golden Traders Indonesia sebagai kelompok usaha bisnis syariah pada 23 Agustus 2011. Sertifikat itu ditandatangani Ma’ruf Amin sebagai ketua pelaksana dan H.M. Ichwan Sam selaku sekretaris. 

Bahkan, perusahaan ini mendapat penghargaan dalam ajang “1st Indonesia Islamic Award 2012” sebagai The Best Company of The Year. Mereka pun aktif menyumbang dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Foto-foto yang dipajang menunjukkan kedekatannya dengan kalangan atas Majelis Ulama Indonesia. Dirutnya sendiri, Taufiq Michael Ong, adalah seorang muallaf.

Pada laman Facebook-nya mereka menyebut KH.Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI) sebagai penasihat GTIS. Lewat foto-foto yang dipajang terlihat bahwa ketua MUI itu juga tampak dalam beberapa kegiatan GTIS. (if)

Taufikul Basari

Jum’at, 01 Maret 2013 | 20:32 WIB

bisnis.com

***

MUI Akui ‘Kecipratan’ 10%

Sabtu, 02/03/2013 | 13:40 WIB

Jakarta – Dugaan dua kasus penipuan berkedok investasi emas–Raihan Jewellery (diduga Rp 13,2 triliun) dan Golden Traders Indonesia Syariah/GTIS (Rp 600 miliar)–menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) murni pidana dan menjadi ranah polisi.

Terbaru, terkait keterlibatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam bisnis GTIS, diakui Ketua Bidang Perekonomian MUI, KH Amidhan, ada keuntungan saham sebesar 10% yang diterima Yayasan Dana Dakwah Pembangunan milik MUI.

Menurut Amidhan, keuntungan tersebut diterima karena pengurus MUI duduk sebagai dewan penasihat di GTIS. “MUI hanya menjadi dewan pengawas syariah di GTIS,” ujarnya dikutip tempo.co, Sabtu (2/3). Dewan pengawas dari MUI, kata dia, adalah Sekretaris Jenderal Ichwan Sam dan Ketua Bidang Fatwa KH Ma’ruf Amin.

Sekadar diketahui, investasi emas GTIS mendapat sertifikat halal dari MUI pada 24 Agustus 2011.

Amidhan juga menjelaskan, emas yang dikelola GTIS hanya 1,2 ton atau bernilai sekitar Rp 600 miliar. Dengan demikian, kabar bahwa dana nasabah Rp 10 triliun raib tidak benar. Nilai emas ratusan miliar rupiah, kata dia, masih aman karena sudah diblokir oleh Bank BCA dan Bank Mandiri.

Menurut Amidhan, Presiden Direktur GTIS Michael Ong dan Direktur Edward sejak pekan lalu menghilang dari Jakarta. Manajemen langsung mengamankan rekening perusahaan dan rekening pribadi dua direktur asal Malaysia itu. Namun dia mengakui kedua direktur itu telah membobol Rp 4 miliar dari rekening pribadi dan Rp 10 miliar dari rekening perusahan untuk dibagikan ke sembilan orang. Menurut Amidhan, nama penerima dana masih dalam penyelidikan.

Nasabah GTIS di Mal Taman Anggrek, Jakarta, Hendry, menyatakan menunggu hasil rapat umum pemegang saham Senin depan untuk penyelesaian uang miliknya. Ia mengaku berinvestasi Rp 1 miliar di GTIS.

Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Sri Wahyuni Widodo mengatakan pihaknya tak bisa mencabut izin GTIS. Upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan rekomendasi pencabutan izin usaha. “Kepada lembaga yang mengeluarkan izinnya,” ujarnya kemarin.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas Syahrul R. Sempunajaya menyatakan polisi berwenang melakukan penyelidikan. “Itu bentuknya perdagangan bilateral biasa antara nasabah dan perusahaan. Dalam kontrak komoditi tidak dikenal imbal hasil tetap tiap bulan. Yang ada adalah marjin.

Model mereka adalah transaksi emas fisik biasa dimana harga emas yang ditawarkan lebih mahal tetapi nasabah mendapatkan bonus tiap bulan,” paparnya.

Syahrul mengatakan, skema dan tata cara investasi yang dilakukan oleh Raihan Jewellery dan GTIS sama sekali berbeda dengan sistem transaksi di perdagangan berjangka komoditi. “Lebih tegas lagi usaha itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perdagangan berjangka. Itu murni pidana,” katanya.

Menurut dia, investasi tersebut tidak hanya dilakukan oleh Raihan dan GTIS. Masih ada sejumlah perusahaan yang juga mempraktekkan hal sama yakni Virgin Gold Mining dan Trimas Mulia. “Kasus seperti itu sebenarnya sudah sering terjadi. Dulu pernah mencuat kasus PT QSAR di Sukabumi. Skemanya sama yakni money game atau skema Ponzi yakni cara memutar dana nasabah dengan cara membayar bonus nasabah lama dengan sumber uang dari nasabah baru. Hal itu terus berlangsung hingga jumlah dana dari nasabah baru tak bisa lagi menutupi pembayaran bonusnya,” paparnya.

Sementara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjanji akan meminta pemberi izin perusahaan investasi non keuangan untuk memperketat izin. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengatasi maraknya dugaan investasi emas bodong yang terjadi belakangan seperti Raihan Jewellery dan GTIS

Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono, menyatakan, OJK akan memperjelas perizinan lembaga non keuangan seperti perusahaan-perusahaan investasi emas. “Trading syariah adalah perusahaan yang bukan mendapat izin dari Bank Indonesia (BI) dan bukan dari Bapepam-LK,” kata dia kepada KONTAN, Jumat (1/3).

OJK sendiri akan meneruskan kasus investasi ini ke Satgas Waspada Investasi. Nah, Satgas Waspada Investasi akan menelusuri guna mencari tahu otoritas pemberi izin perusahaan-perusahaan investasi bodong itu. “Belum ditetapkan perizinan ada di mana. Masih dikoordinasikan dalam forum itu,” tutur Kusumaningtuti.

Ia menduga, perusahaan investasi yang bermasalah saat ini tidak menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan surat izin usaha perdagangan (SIUP). Kemungkinan perusahaan tersebut memiliki izin usaha perdagangan, tetapi tidak mencakup menerima dan mengelola dana masyarakat.

Karena itu, OJK akan aktif menjalankan edukasi untuk mencegah penyimpangan investasi. Jika sudah telanjur terjadi seperti sekarang, verifikasi akan dilakukan Satgas Waspada Investasi.

Kusumaningtuti mengakui, OJK kerap menerima pengaduan masyarakat melalui call centre OJK. Masyarakat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap uang investasi mereka yang tidak dapat kembali. Tetapi, proses pengusutan kasus penyimpangan investasi tak bisa dilaporkan ke publik. “Jika hasilnya sudah final, baru bisa kita sampaikan,” tandasnya.

Penipuan di Kediri

Tak hanya perusahaan investasi emas skala nasional yang melakukan penipuan dengan modus iming-iming return tinggi. 93 Warga Kediri, Jawa Timur, tertipu broker investasi emas. Kasus penipuan dengan modus investasi emas itu, kini ditangani pihak Polres Kediri Kota.

Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro membenarkan kalau saat ini pihaknya tengah menangani kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh pihak perusahaan East Cape Mining Corporation (ECMC) tersebut.

“Kami memang tengah menangani kasus tersebut. Untuk informasi lebih detail bisa menghubungi Kasat Reskrim, AKP Siswandi,” kata Kuncoro.

Bahkan, selain melakukan koordinasi ke pihak Polda Jawa Timur, pihak Polres Kediri Kota juga tengah melakukan gelar perkara dengan beberapa korban. “Kami masih terus melakukan pendalaman atas laporan para korban,” kata Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Siswandi.

Menurut Siswandi, dalam laporan yang diterima pihaknya, ada tiga orang yang menjadi terlapor. Tiga orang tersebut merupakan pimpinan dari perusahaan ECMC. “Dalam kasus ini, ada tiga orang terlapor yaitu, masing-masin berinisial MLK, BHN dan AGG. Dan saat ini, kami masih mengumpulkan keterangan-keterangan dari para korban,” katanya.

Dijelaskannyadalam gelar perkara kasus penipuan bermodus investasi emas ini, mengarah pada penentuan status terlapor menjadi tersangka. “Penipuan dengan modus investasi emas ini, telah merugikan para korbannya hingga puluhan miliar. Dan dari hasil gelar perkara yang kami lakukan hari ini, kami sudah menemukan titik terang kasus investasi emas yang menjadi tindak pidana penipuan,” tandasnya.

Dari keterangan salah seorang korban, saat itu mereka  ditawari investasi emas dengan mencontohkan orang yang telah sukses karena mengikuti investasi emas di ECMC. Orang tersebut telah berhasil memiliki rumah dan mobil. Para korbanpun tergiur dengan iming-iming tersebut.

Untuk per-lot, sahamnya dijual seharga Rp 11 juta. Dalam kurun waktu 45 hari, investasi emas akan meningkat dua gram emas per lot-nya. “Ada sekitar 93 orang yang tertipu investasi emas ini,” tandasnya.ins,ktn,kcm

surabayapost.co.id

***

Petingatan tentang fitnah harta

عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِى الْمَالُ ». (أحمد ، والترمذى – حسن صحيح غريب – وابن سعد ، والحاكم ، والطبرانى  

تحقيق الألباني

( صحيح ) انظر حديث رقم : 2148 في صحيح الجامع .(

Dari Ka’ab bin ‘Iyadl berkata: Aku mendengar nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya setiap ummat itu memiliki fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR At-Tirmidzi/ Abu Isa: Hadits ini hasan shahih gharib, Ahmad, Al-Hakim, At-Thabrani, kata Al-Albani shahih dalam shahih al jami’ 2148).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.671 kali, 1 untuk hari ini)