Heboh Seminar Dukun Dikabarkan Bersama GP Ansor NU

  • Dalam Islam sudah jelas ada larangan mempercayai dukun.

    Dalam sebuah hadits dijelaskan:

     

  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu mempercayainya, sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[HR Abu Dawud, no. (3004), Tirmidzi, no. (135), Ibnu Mâjah, no. (639).]

  • Bekerjasama dengan dukun itu telah melanggar ayat suci Al-Qur’n:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [المائدة: 2]

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [Al Ma”idah:2]

 

Silakan simak berita ini.

 

***

 

Namanya Muncul di Seminar Dukun Banyuwangi, Gus Miftah Diprotes Kiai dan Ustaz

  • Pada pamflet itu tertera logo PC GP Ansor Banyuwangi, Matan Banyuwangi, dan Perdunu. Kemudian terdapat tulisan Seminar Internasional bersama Ansor Banyuwangi Mewujudkan Perdamaian Dunia,

     


Gus Miftah meminta klarifikasi terhadap panitia kegiatan seminar Internasional yang bertema ‘DUKUN & PERDAMAIAN DUNIA’. Munculnya foto dirinya sebagai narasumber acara tersebut banyak dikomplain oleh para kiai, ustaz, dan jemaahnya.

 

“Tolong pihak yang bertanggung jawab klarifikasi ke public apa maksudnya, karena saya banyak dikomplain oleh para kyai dan ustadz serta jamaah,” tulis Gus Miftah dalam akun Instagram-nya yang dilihat detikcom, Jumat (19/2/2021).

 

Tak hanya para Kiai, ustaz, dan jemaah, Gus Miftah juga sempat ditegur oleh Ustaz Yusuf Mansur terkait keterlibatannya dalam seminar yang rencananya digelar di Banyuwangi, 6 Maret 2021 ini. Bahkan kata Gus Miftah, dirinya langsung ditelepon sendiri oleh Yusuf Mansyur terkait dengan ada gambar foto dirinya disana.

 

“Saya ditelpon langsung oleh Ustaz Yusuf Mansyur. Tanya apa benar saya ikut serta di seminar perdukunan. Saya langsung bilang itu hoaks,” ujar Gus Miftah.

 

Gus Miftah meminta klarifikasi seiring beredarnya pamflet Seminar Internasional tentang dukun di Banyuwangi. Gus Miftah mengaku tak dikonfirmasi terkait acara tersebut.

 

Pamflet itu beredar di Banyuwangi sejak beberapa waktu lalu. Namun, hari ini, Jumat (19/2/2021) muncul permintaan klarifikasi Gus Miftah, melalui akun medsos-nya.

 

“Klarifikasi…….. saya tidak ada konfirmasi dengan acara ini, saya tidak tahu sebelumnya, kok nama saya ada di dalamnya ya?” tulis Gus Miftah di akun instagramnya.

 

Dalam pamflet tersebut, muncul foto Gus Miftah sebagai salah satu keynote speaker. Selain Gus Miftah, juga tercantum nama Gus Rofiq selaku staf ahli supranatural Gus Dur sebagai keynote speaker.

 

Pada pamflet itu tertera logo PC GP Ansor Banyuwangi, Matan Banyuwangi, dan Perdunu. Kemudian terdapat tulisan Seminar Internasional bersama Ansor Banyuwangi Mewujudkan Perdamaian Dunia,

 

Selain dua pemateri di atas, adapula pemateri yakni Mochtar Nabeel (Pengamat Supranatural dari Universitas Al-Azhar), Abdul Fatah Hasan (Ketua Umum Perdunu), Fatchan Himami Hasan (Bendum PC GP Ansor Banyuwangi), dan Ali Nurfatoni (Sekjen Perdunu).(dtk)

 

Gelora News

19 Februari 2021

***

 

HUKUM PERDUKUNAN DALAM ISLAM

Berikut ini beberapa dalil yang menjelaskan tentang hukum perdukunan dalam Islam. Perdukunan bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia, ia sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyanggah tuduhan orang-orang kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

 

Maka tetaplah memberi peringatan, dengan sebab nikmat Rabb-mu engkau bukanlah seorang dukun dan bukan pula seorang gila. [ath-Thûr/52:29].

 

Dalam ayat ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala membantah tuduhan bohong kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia seorang dukun (tukang tenung) atau orang gila. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada mereka tentang hal-hal yang akan datang pada hari kiamat melalui perantaraan wahyu yang diwahyukan Allâh Azza wa Jalla kepadanya. Mereka ingin menyamakan antara seorang nabi dengan seorang dukun yang suka meramal kejadian-kejadian yang akan datang, sebagai alasan untuk menolak ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dari ayat di atas juga dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang memberitakan kabar yang akan datang itu ada tiga jenis.

Pertama, seorang nabi yang mendapat wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ

Demikianlah dari berita-berita ghaib yang Kami (Allâh) wahyukan kepadamu. [Ali Imran/3:44].

 

Kedua, dukun, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tentang hakikatnya.

Ketiga, orang gila yang berbicara di luar kesadaran.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menperingatkan umatnya untuk tidak mendatangi dan mempercayai dukun ataupun membuka praktek perdukunan. Berikut ini beberapa hadits berkenaan dengan hal tersebut.

1. Larangan tentang mendatangi dukun.

Telah ditegaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِىِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ كُنَّا نَأْتِى الْكُهَّانَ. قَالَ «فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ». رواه مسلم

Dari Mu’awiyah bin Hakam Radhiyallahu anhu, ia berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ada beberapa hal yang biasa kami lakukan pada masa jahiliyah, kami terbiasa datang ke dukun?” Jawab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan kalian datang ke dukun”.[10].

2. Larangan bertanya kepada dukun.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ». رواه مسلم

Diriwayatkan lagi oleh sebagian isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung untuk bertanya tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama empat puluh malam“.[11]

Dalam hadits ini dijelaskan tentang besarnya dosa mendatangi dukun untuk sekedar bertanya tentang sesuatu, menyebabkan pahala amalan shalatnya selama empat puluh malam atau hari hilang. Ini menunjukkan betapa besar dosa mendatangi dukun.

3. Larangan mempercayai dukun.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu mempercayainya, sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[12]

Dalam hadits di atas Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara hukum mendatangi dukun dengan hukum mempercayainya. Hukum mendatangi dukun berisiko tidak diterima shalat bagi pelakunya selama empat puluh hari. Adapun hukum mempercayai perkataan dukun tentang hal yang ghaib berisiko membuat seseorang tersebut telah terjatuh kepada perbuatan kufur, meskipun Ulama berbeda pendapat tentang maksud kata kufur tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kufur akbar (besar). Namun sebagian mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kufur asghar (kecil). Sebagian lagi lebih memilih tidak merinci kepada akbar maupun asghar, karena konteksnya berbicara tentang ancaman.[13]

Sebahagian Ulama mengomentari tentang ancaman yang terdapat dalam hadits di atas.[14 Jika demikian ancaman bagi orang yang mendatangi dan mempercayai dukun, bagaimana dengan si dukun itu sendiri ? Tentu ancaman dan adzabnya lebih berat lagi.

4. Larangan meminta perdukunan dan membuka praktek perdukunan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس منَّا من تَكَهَّنَ أو تُكُهِّنَ له رواه الطبراني وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة

 

Bukanlah termasuk golongan kami orang yang mencari perdukunan atau melakukan perdukunan.[15]

 

Baca Juga Kiat Membentengi Keluarga Dari Sihir

Sangat jelas dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang meminta bantuan dukun atau memberi bantuan perdukunan.

5. Hukum harta hasil perdukunan.

Berikut ini hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang hukum harta yang diperoleh melalui praktek perdukunan :

 

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِىِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ متفق عليه

 

Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (memakan) hasil jual anjing, upah pelacur dan upah dukun“.[16]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,[17] “Ketahuilah bahwa perdukunan, mendatangi dukun, mempelajari perdukunan, ilmu nujum, meramal dengan pasir, gandum dan batu kerikil, termasuk mengajarkan semua hal ini adalah haram dan mengambil upah atasnya juga haram berdasarkan dalil yang shahîh”.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa Abu Bakar ash-Shidiq Radhiyallahu anhu pernah diberi makanan oleh hamba sahayanya. Setelah makanan itu ditelan Abu Bakar ash-Shidîq Radhiyallahu anhu, hamba sahaya tersebut bertanya kepadanya, “Tahukah Anda dari mana makanan ini?” Abu Bakar menjawab, “Tidak!” Jawab hamba sahaya, “Dulu semasa jahiliyah aku pernah berpura-pura jadi dukun, lalu ini upahnya,” maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu memasukkan anak jarinya ke kerongkongannya hingga ia memuntahkan apa yang ada dalam perutnya.[18]

 

Adapun sisi-sisi kemungkaran yang dilakukan oleh para dukun, secara ringkas ada tiga jenis.

1. Mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, hal ini adalah syirik dalam tauhid rububiyyah, karena mengaku dapat mengetahui hal-hal yang ghaib. Padahal ini adalah kekhususan bagi Allâh semata, sebagaimana dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, “Tiada seorang pun di langit maupun di bumi yang dapat mengetahui yang ghaib kecuali Allâh”. [an-Naml/27:65].

2. Bermitra dengan jin atau setan. Kerjasama ini memiliki konsekwensi agar seseorang tersebut memberikan sebagian ketaatan kepada jin atau setan. Hal ini adalah syirik dalam tauhid ulûhiyyah.

3. Telah berbuat kebohongan di tengah-tengah masyarakat dan memakan harta mereka dengan cara batil atau haram.

 

BAGAIMANA CARA MENANGKAL PERDUKUNAN?

Tidak diragukan lagi bahwa cara paling ampuh untuk menangkal perdukunan adalah dengan banyak berdzikir kepada Allâh
Azza wa Jalla . Terutama do’a dan dzikir yang diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita baca pada pagi dan sore hari. Demikian pula dzikir dan do’a yang berhubungan dengan berbagai aktifitas sehari-hari.

Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan keutamaan beberapa dzikir yang dapat menangkal perdukunan atau gangguan setan.

1. Membaca ayat Kursy pada pagi dan sore, setiap selesai sholat fardhu dan saat akan tidur.

Hal ini dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang kisah ketika Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ditugaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat fitrah. Di akhir kisah tersebut setan membongkar rahasia yang dapat menyelamatkan seorang Muslim dari gangguannya, yaitu membaca ayat Kursy saat akan tidur. Lalu Abu Hurairah Radhiyallahu anhu memberitahu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut.

فَقَالَ : إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ – رواه البخاري

Setan berkata: “Bila kamu mau berbaring di tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursy, niscaya engkau senantiasa akan dijaga oleh Allâh dan engkau tidak akan didekati oleh setan sampai pagi hari!” Jawab Rasûlullûh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ia telah jujur padamu (tentang hal tersebut), dan ia (pada hakikatnya) adalah pembohong yang ulung, ia itu setan”.[19]

2. Membaca بسم الله
ketika membuka pakaian dan ketika mau masuk WC.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan, apabila kita membuka pakaian saat akan mandi atau untuk berganti pakaian atau dan sebagainya, hendaklah kita membaca: بسم الله . Barangsiapa yang membaca بسم الله saat membuka pakaiannya sesungguhnya setan tidak akan bisa melihat auratnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada :

سِتْرُمَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ – إِذَا دَخَلَ أَحدُهُمُ الْخَلاَءَ – أَنْ يَقُوْلَ : بِسْمِ اللهِ

رواه الترمذي وصححه الألباني

Penghalang antara pandangan jin dengan aurat bani Adam adalah apabila salah seorang kalian akan masuk WC, ia membaca بسم الله .[20]

3. Membaca do’a ketika masuk WC.

Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan memasuki WC beliau membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Ya Allâh, lindungilah aku dari gangguan jin laki-laki dan jin wanita.[21]

Tidakkah selayaknya kita mencontoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , meskipun beliau hamba yang ma’shûm dan terjaga dari sisi Allâh, akan tetapi beliau tetap memohon lindungan Allâh dari gangguan setan/Jin.

4. Membaca do’a saat akan berhubungan suami isteri.

Begitu sempurnanya agama Islam sampai adab berhubungan suami-isteri mendapat perhatian dan tuntunan pula. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya ketika mereka akan menggauli isteri hendaklah membaca :

«بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا». متفق عليه

“Dengan nama Allâh, ya Allâh jauhkanlah setan dari kami dan dari rizki yang engkau berikan kepada kami,” jika ditakdirka antara keduanya mendapat anak saat itu, niscaya ia tidak akan diganggu setan selamanya.[22]

5. Menghiasi rumah dengan sering membaca surat al-Baqarah di dalamnya.

Banyak rumah kita bangunannya mentereng tetapi tidak merasa nyaman dan tenteram di dalamnya. Bahkan terkadang terdapat hal-hal yang menakutkan bagi penghuninya. Mengapa begitu? Karena kebanyakan rumah kita dihiasi dengan hiasan yang merangsang untuk kedatangan makhluk halus, seperti foto dan patung. Dan yang lebih fatal lagi para penghuni jarang melakukan shalat-shalat sunnah dan membaca al-Qur`ân di dalamnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ». رواه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah”.[23]

6. Membaca do’a ketika masuk rumah.

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada:

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّه رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ- رواه مسلم

Dari Jabir bin Abdillâh Radhiyallahu anhuma, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang memasuki rumahnya menyebut nama Allâh ketika saat masuknya dan ketika saat akan menyantap hidangannya, maka Setan berkata: ‘Tidak ada jatah tempat tinggal untuk kalian dan tidak pula jatah makan’. Apabila ia masuk tanpa menyebut nama Allâh saat ketika masuk, Setan berkata: ‘Kalian mendapat jatah tempat tinggal’. Dan apabila ia tidak menyebut nama Allâh lagi ketika saat menyantap hidangannya, Setan berkata: ‘Kalian mendapat jatah tempat tinggal dan jatah makan’.”[24]

7. Membaca do’a ketika singgah di sebuah tempat atau memasuki daerah baru.

Diriwayatkan dari Khaulah binti Hukim, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang singgah di sebuah tempat, kemudian ia membaca:

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ ». رواه مسلم

 

Aku memohon lindungan Allâh dari kejahatan makhluk yang telah diciptakan-Nya, maka tidak satupun yang akan membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat tersebut”[25].

 

Dan masih banyak lagi do’a dan dzikir-dzikir yang dapat menghindarkan kita dari gangguan setan/Jin. Para ulama, banyak yang sudah mengumpulkan do’a dan dzikir-dzikir tersebut ke dalam satu kitab kumpulan do’a dan dzikir, dan mudah dicari di toko-toko buku. Tetapi perlu berhati-hati dalam memilih buku-buku do’a yang beredar di pasaran, sebab tidak sedikit pula buku-buku do’a yang dijual penuh dengan hadits-hadits palsu dan dhaif. Dianatara buku do’a yang ringkas, disusun dengan sistematis serta sesuai dengan Sunnah, dan harganya pun sangat terjangkau, yaitu buku do’a Hisnul-Muslim, disusun oleh Syaikh Sa’id bin Ali al-Qahthany. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan dicetak oleh banyak percetakan. Penulis sangat mengajurkan para pembaca untuk memilki dan menghafalnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote

[10]. HR Muslim, 7/35 (5949).

[11]. HR Muslim, 7/37 (5957).

[12]. HR Abu Dawud, no. (3004), Tirmidzi, no. (135), Ibnu Mâjah, no. (639).

[13]. Lihat Syarah Thahâwiyah, Shâlih Alu Syaikh, 704.

[14]. Ibid.

[15]. HR Thabrani, al-Mu’jam al-Kabîr, 18/162 (355); al-Mu’jam al-Awsath, 4/302 (4262).

[16]. HR al-Bukhâri, 5/2172 (5428); Muslim, 5/35 (4092).

[17]. Lihat Raudhah ath-Thâlibîn, 9/346.

[18]. Lihat Shahîh al-Bukhâri, 3/1395 (3629).

[19]. Lihat Shahîh al-Bukhâri, 3/1194 (3101).

[20]. Lihat Sunan Tirmidzi, 2/503 (606).

[21]. HR al-Bukhâri, 1/66 (142); Muslim, 1/195 (857).

[22]. HR al-Bukhâri, 5/2347 (6025); Muslim, 4/155 (3606).

[23]. HR Muslim, 2/188 (1860).

[24]. HR Muslim, 6/108 (5381).

[25]. HR Muslim, 8/76 (7053).

https://almanhaj.or.id/4304-ilmu-perdukunan-dalam-tinjauan-islam.html (dikutip bagian akhirnya).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 375 kali, 1 untuk hari ini)