www.youtube.com


“Patut kami sesalkan, seorang nazir masjid bernama Samadi yang tidak berdemo, diseret dari dalam masjid ketika hendak azan Asar. Bahkan dikeroyok hingga babak belur. Apa salah Samadi dan warga perkampungan hingga harus mendapatkan kekerasan itu. Apa salah kami berdemo menyampaikan pendapat?” ujar Ketua Formas Sarirejo Pahala Napitupulu, seperti dikutip Tribun Medan, Selasa (16/8/2016).

MEDAN (Panjimas.com) – Aksi unjukrasa warga Karangsari, Medan Polonia, yang menolak pembangunan Rusunawa TNI AU, berujung bentrok, Senin (15/8/2016) sore. Ratusan personel TNI AU membubarkan demonstran secara brutal. Seorang nazir masjid, Samadi, diseret dari dalam masjid saat hendak azan asar.

Ketua Formas Sarirejo Pahala Napitupulu mengatakan, ratusan personel TNI AU menyerang warga yang hendak pulang ke rumah masing-masing setelah demonstrasi.

Tidak hanya merusak puluhan sepeda motor, TNI AU juga mengejar warga hingga kepermukiman.

https://youtu.be/41NgsBG5ib4

 (Baca: [VIDEO] Astaghfirullah, Terekam CCTV Aksi Brutal TNI AU Seret dan Aniaya Orang dari dalam Masjid)

“Patut kami sesalkan, seorang nazir masjid bernama Samadi yang tidak berdemo, diseret dari dalam masjid ketika hendak azan Asar. Bahkan dikeroyok hingga babak belur. Apa salah Samadi dan warga perkampungan hingga harus mendapatkan kekerasan itu. Apa salah kami berdemo menyampaikan pendapat?” ujarnya, seperti dikutip Tribun Medan, Selasa (16/8/2016).

Selain itu, kata dia, beberapa warga hanya bisa mengintip dari dalam rumah tatkala personel TNI AU mengeroyok Samadi. Berdasarkan informasi yang diterimanya, aksi pemukulan tersebut dipimpin langsung oleh perwira berpangkat melati dua.

“Nama perwira itu warga tidak tahu, karena tidak nampak. Berbahagia masyarakat karena tahu watak TNI AU jelang Hari Kemerdekaan ini. Presiden harus melek tentang masalah ini. Kami sebagai warga juga mengutuk tindakan TNI AU yang menganiaya wartawan,” ujarnya.

Ia menambahkan, adanya aksi demonstrasi warga akibat adanya pemasangan spanduk akan dibangun Rusunawa di atas tanah warga. Padahal, sengketa tanah antara TNI AU dengan warga telah berakhir. Warga sudah menangkan sengketa di Mahkamah Agung.

“Pada 3 Agustus 2016 terjadi gelombang massa, kemudian tadi pagi TNI AU kembali mematok tanah warga dan kemarin masyarakat berkumpul lagi. Ratusan warga menolak keberadaan patok-patok di atas tanah warga. Tanpa komando warga kembali berunjuk rasa,” ujarnya.

Dia menyampaikan, jelang petang, TNI AU menyerang warga hingga ke perkampungan dan menyerang warung-warung milik warga. Sedikitnya ada dua kali suara tembakan ke arah warga. Alhasil, satu warga menderita luka tembak peluru karet.

“Sikap saya sebagai pimpinan tidak dapat menerima perlakuan TNI AU supaya negara menindak mereka. Dan supaya pihak TNI AU maupun Armed bertanggungjawab mengganti 30 roda dua dan melakukan pengobatan warga dan mengganti alat wartawan yang dirusak,” katanya.

Unjuk rasa warga Karangsari berujuk dengan aksi ratusan personel TNI AU memukuli dan menghajar kaum ibu bahkan anak-anak.

“Keterlaluan mereka itu. Mamak-mamak bahkan anak-anak pun dihajar sama orang itu (TNI AU),” kata warga Andi, warga sari Rejo, Senin (15/8/2016) di rumah sakit Mitra Sejati.

Menurutnya, setelah warga melakukan demo dengan membakar ban, anggota anggota TNI AU terlihat mulai beringas. Mereka menyerbu warga yang tengah nongkrong di sekitar lokasi.

“Gawat. Semua dihajar. Anak-anak pun yang ada di lokasi dimaki-maki ada juga yang ditokok (dijitak) kepalanya,” katanya. [AW/Tribun]/panjimas.com

***

Aksi Koboy Oknum TNI AU Merusak Kotak Amal Masjid Terekam CCTV

Aksi Oknum TNI

SinarRakyat.Com | Aksi koboy oknum TNI AU Lanud Soewondo yang masuk ke Masjid dengan menggunakan alas kaki dinilai tidak memiliki sopan santun. Sejumlah pengguna sosial media menilai tindakan oknum TNI AU ini sudah sangat keterlaluan.

Perilaku oknum TNI AU yang terlibat kericuhan di Masjid Al Hasanah Medan, ternyata juga sempat tertangkap kamera CCTV melakukan aksi brutal dan merusak kotak amal  Masjid saat itu.

Tindak arogansi yang dilakukan oknum prajurit TNI AU Lanud Soewondo terekam  kamera pengawas atau CCTV  masjid di jalan Teratai, Sari Rejo, Medan Polonia, Medan.

Dalam rekaman berdurasi hampir 1 jam 4 menit tersebut tampak oknum TNI itu juga merusak kotak infak masjid. Mirisnya dalam rekaman tersebut juga tampak ada oknum yang menjarah kotak amal yang dirusak sebelumnya.

Bahkan dalam rekaman ini juga tampak seorang lelaki paruh baya yang diyakini merupakan Jamaah masjid, ditarik keluar dari dalam halaman masjid. Pria bersongkok putih tersebut diseret oleh seorang oknum TNI. Kerah baju Jamaah masjid diangkat bagian belakangnya oleh oknum TNI layaknya mengangkat seekor kucing.

Melihat hal ini Majelis Ulama (MUI) dan Forum Umat Islam (FUI) Kota Medan pun mengutuk keras tindakan brual yang dilakukan puluhan oknum prajurit TNI kepada pengurus masjid Al-Hasanah tersebut.

Mereka meminta Presiden Jokowi dan Panglima TNI Gatpt Nurmantyo untuk bisa mengambil tindakan tegas kepada para oknum TNI yang terlibat tindakan kekerasan tersebut.

“Kami memainta komandan dan personel TNI AU Lanud Soewondo yang melakukan tindakan represif saat mengejar warga Sari Rejo sampai memasuki areal Masjid bisa ditindak,” kata Wakil ketua MUI Medan Abdul Hakim Siagian.

Abdul menyatakan, bukti rekaman kamera CCTV ini sudah cukup menjelaskan bahwa memang ada tindakan tidak patut yang dilakukan oleh oknum TNI.

Ditambahkan Abdul, lelaki paruh baya yang diseret secara kasar dalam rekaman CCTV tersebut adalah Parno, nazir Masjid Al-Hasanah.

Berikut rekaman CCTV :

https://youtu.be/oSgu7_3sQLo

Sumber : sinarrakyat.com

***

Kontras Kecam Aksi Brutal Anggota TNI AU Aniaya Jurnalis Medan

SOROTSUMUT – Komisi untuk orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengutuk keras tindakan brutal yang dilakukan oleh anggota TNI-AU dan Paskhas Lanud Suwondo Medan terhadap sejumlah warga Kelurahan Sari Rejo Medan Polonia dalam aksi demonstrasi terkait sengketa lahan di Jalan SMAN 2 Polonia, Medan, Sumatera Utara kemarin.

“Tindakan brutal anggota TNI AU tersebut jelas-jelas menginjak-injak martabat demokrasi yang telah kita bangun bersama serta bertentangan dengan konstitusi UUD 1945 reformasi sektor keamanan secara nyata telah dimentahkan dalam peristiwa tersebut,” kata Kepala Divisi Advokasi Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya Kontras, Ananto Setiawan di Kantor KontraS, Selasa (16/08/2016).

Kontras mencatat, peristiwa tersebut bermula dari aksi demonstrasi akibat pematokan lahan milik warga di Jalan Pipa Medan, Kelurahan Sari Rejo, Medan Polonia, yang dilakukan anggota TNI AU.

Namun, aksi yang belangsung damai tersebut berujung bentrokan pada pukul 16.00 WIB saat Anggota TNI AU yang berjumlah 3 truk secara membabi buta melakukan pemukulan terhadap warga. “Baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak,” ujar Ananto.

Bahkan, tak hanya warga jadi amukan anggota TNI-AU, sejumlah wartawan yang sedang melakukan kerja jurnalistik harus menjadi bulan-bulanan. “Akibatnya dua orang mengalami luka tembak dan 5 lainnya mengalami luka-luka, serta 2 orang jurnalis juga luka-luka dan ancaman pembunhan oleh anggota TNI AU,” tukas Ananto.

Tak hanya itu, anggota TNI AU juga melakukan sweeping terhadap rumah-rumah warga. “Anggota TNI AU juga mrlakukan pengerusakan sejumlah kendaraan bermotor, serta penahanan seorang anak berusia 12 atas nama Yogi,” papar Ananto. */sorotsumut.com – August 17, 2016

***

Wartawan Tolak Tawaran Damai TNI Brutal di Medan

Korban aniaya Oknum TNI

Andri Syafrin (atas), jurnalis yang menjadi korban keganasan TNI AU di Medan. (Ist)

 MEDAN, kini.co.id – Aksi brutal TNI AU yang terjadi di Sari Rejo Medan Sumatera Utara menyisakan luka fisik dan perasaan rakyat. Terlebih, para anggota TNI itu juga ikut memukuli para wartawan yang sedang meliput kejadian. Akibatnya, setidaknya 2 wartawan dilarikan ke rumahsakit. Salahseorang korban, Andri Syafrin yang merupakan jurnalis INews TV ini menolak perdamaian dari pihak TNI AU Lanud Soewondo Medan. Ia mengatakan pihak Lanud Soewondo sempat menjenguknya di rumahsakit dan membicarakan upaya perdamaian. Tawaran damai itu disampaikan Danlanud Soewondo saat menjenguk Andri Syafrin di RS Royal Prima, Medan, Selasa 16 Agustus 2016 kemarin. “Mereka (Danlanud) sempat menjenguk ke rumah sakit. Disitu mereka minta maaf dan membicarakan perihal perdamaian. Saya menerima permintaan maaf mereka, tapi menolak perdamaian,”ujar Andri Syafrin, Rabu (17/8/2016). Dengan demikian, Andri yakin melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Dirinya juga sempat memberi klarifikasi bahwa apa yang disampaikan pihak TNI bahwa kamera dan ID Card miliknya hilang adalah bohong. “Camera dan ID Saya tidak hilang. Tapi dirampas mereka,”tandasnya. Terkait peristiwa ini, hari ini rencananya Pemko Medan akan mengadakan pertemuan dengan warga Sari Rejo terkait sengketa lahan yang difasilitasi Walikota Medan. Selain warga, rencananya pertemuan ini juga akan dihadiri Komandan Lanud Soewondoo dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). [ Ime ]

Reporter : Khalif | Kamis, 18 Agustus 2016

Sumber: nasional.kini.co.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.554 kali, 1 untuk hari ini)