ilustrasi foto: Google.com

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : (( أَرْبَعٌ لاَ تَجُوْزُ فِي اْلأَضَاحِي – وَفِي رِوَايَةٍ : (( لاَ تُجْزِؤُ )) – العَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا , وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا , وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلَعُهَا , وَالْكَسِيْرَةُ الَّتِي لاَ تُنْقِيْ )) (رواه أبو داود وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود رقم 2431)

Dari Al Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami lalu beliau bersabda : “Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan sebagai udhiyah –dalam riwayat lain beliau bersabda : “Tidak sah (jika dijadikan udhiyah)” – : Hewan yang juling yang jelas julingnya, hewan yang sakit yang nampak sakitnya, hewan yang pincang yang jelas pincangnya, dan hewan yang kurus yang tidak mempunyai sumsum.” (HR Abu Dawud dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud No. 2431)

Dari hadits diatas, kita simpulkan bahwa hewan kurban haruslah sehat dan terhindar dari empat kondisi :

  1. Matanya juling.
    2. Sakit yang nampak benar sakitnya.
    3. Pincang yang jelas pincangnya.
    4. Terlalu kurus yang menyebabkan tulangnya tidak bersumsum.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأجمعوا على أنَّ العيوب الأربعة المذكورة في حديث البراء لا تُجزئ التضحية بها، وكذا ما كان في معناها أو أقبحَ كالعمى وقطعِ الرجل وشبهه

“Dan para ulama telah sepakat bahwa keempat aib yang disebut dalam hadits Al Baro’ diatas menjadikan hewan tidak sah untuk dikurbankan, demikian pula yang semakna dengan aib-aib itu atau bahkan yang lebih buruk, seperti hewan yang buta, buntung kakinya, dan sebagainya.” (Lihat Syarah Shohih Muslim karya Imam An-Nawawi, Jilid 13, Halaman 120)

أبو العباس أمين الله

(nahimunkar.com)