Tema ‘hijrah’ itu sangat kekinian. Populer dan kadang di beberapa tempat, sangat meningkatkan daya market. Tema hijrah kini dibahas kerap bukan hanya oleh para asatidzah Ahlus Sunnah, beberapa dai terbitan harakah juga gemar membahasnya.

Ada perbedaan yang signifikan antara dakwah Ahlus Sunnah dengan selainnya berkenaan dengan tema hijrah. Pahami baik-baik.

Hijrah dalam konteks yang dipahami sekarang, bukan bermakna hijrah tempat atau hajr (mengasingkan pelaku maksiat/bidah). Tapi hijrah di sini maksudnya adalah TOBAT. Iya. Tobat. Taubat.

Karena kosakata hijrah, lebih halus dan nyaman didengar dibandingkan taubat. Misal, seorang akhwat berkata, “Saya baru memulai tobat”, tentu beda citarasa jika berkata “Saya baru memulai hijrah”. Dengan pergeseran penggunaan lebih ke hijrah dibandingkan tobat, maka kerap terjadi distorsi, kekurangpahaman dan bahkan kerancuan maksud hijrah itu sendiri.

Bagi sebagian, hijrah itu yang penting weekend ngaji tematikan. Itu hakekat hijrah.
Bagi sebagian, hijrah itu cukup jilbab lebar, jenggot dibiarkan, celana tidak isbal, dan mengenal jadwal tabligh akbar.
Bagi sebagian, hijrah itu hal yang perlu dicicipi penawarannya. Kalau cocok sama ustadz ini, maka ikuti terus. Kalau tidak cocok sama ustadz itu, maka jangan hijrah sama beliau.

Hijrah itu sebenarnya lebih butuh ke totalitas. Usaha maksimal. Iya. Butuh waktu. Tapi mindsetnya di make up lagi.

Tidak heran di sektor harakah, hijrah versi mereka sebenarnya ‘ngambang’ jika dihadapkan dengan penawaran Ahlus Sunnah. Versi harakah, kerap main rame saja dulu. Karena memang dari awal, yang penting kumpulkan dulu yang banyak. Sehingga mencetak ‘kaum muhajirin’ yang rajin ngaji tematik stylish gaul ala muda, tapi urusan aqidah, masih longgar. Semua dai itu ada benarnya. Ambil yang baiknya, jangan ikuti yang buruknya.

Kalau memang ambil yang baiknya, jangan ikuti yang buruknya, maka sekalian: jangan hadiri dai yang contohkan keburukan. Misal: ceramah pakai gelang. Padahal, ceramah biasanya kan pakai microphone, atau mungkin clip on. Atau semisalnya.

Anak-anak muda zaman sekarang yang katanya sedang hijrah, banyak berjalan di tempat. Ya karena gurunya bisa jadi menngajarkan bagaimana caranya berjalan di tempat. Hijrah itu butuh suplemen ilmu berlebih. Bukan sekadar yang penting hadir di kajian ramai. Adapun kajian kitab, membahas aqidah Ahlus Sunnah, itu mah berat, ceu nah. Ini mindset didikan ‘yang penting ngumpul dulu’.

Tapi pemilik gelang dan yang semisalnya berkilah, ‘kami ajarkan kepada mereka tentang Allah.’

Syukurlah. Tapi kerap kenapa sekadar retorika? Sedangkan kaedah Ahlus Sunnah berkenaan dengan asma dan sifat, manhaj salaf tentang sikap terhadap ulama dan umara, dan banyak sekali permasalahan aqidah tak diungkap? Maka tanyakanlah para hadirin, dimanakah Allah? Jawabannya khilafiyyah.

Sebagian menenntang liberalisme, tapi anti mempelajari hal teologi Mu’tazilah dan golongan Ahlul Kalam lainnya. Ini sulit. Semangat boleh, tapi tanpa ilmu dan belajar lebih dalam? Jangan.

Jadi, hijrah itu jangan mengambang. Butuh waktu memang. Tapi kalau mau diajari berjalan di tempat, maka sadarilah: tanpa belajar dan ngaji pun, jangankan berjalan di tempat, jalan mundur pun kita lebih ahli.

Via Fb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 446 kali, 1 untuk hari ini)