Ilustrasi : Dakwatuna


Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya & Direktur PUSKIP/Pusat Kajian Islam dan Pendidikan)

Jundub bin Dhamrah Al-Laitsi adalah seorang sahabat nabi yang sudah berusia tua. Dia merasa kurang nyaman berada di Mekkah, karena nabi dan para sahabatnya serta kaum muslimin sudah berhijrah ke Madinah. Dia berniat hijrah dan tinggal di Madinah bersama Nabi dan kaum muslimin. Dia kemudian memerintahkan anak-anaknya untuk menyiapkan segala keperluan hijrahnya. Awalnya anak-anaknya mencegah agar tidak usah berhijrah karena usianya yang demikian lanjut. Karena kegigihannya, maka anaknya-anaknya kasihan dan kemudian mempersiapkan segala sesuatunya. Berangkatlah dia untuk berhijrah. Kehendak Allah berkata lain, di tengah perjalanan Jundub meninggal dan ajal menjemputnya. Maka berita ini terdengar oleh nabi, sehingga beliau mengutip ayat berikut :

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rejeki) yang banyak. Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, (sebelum sampai ke tempat yang dituju) maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ : 100).

Memaknai Hijrah Nabi

Hijrahnya Nabi, dari Mekkah menuju Madinah, tidak lepas adanya tekanan yang luar biasa menyusul masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab. Orang-orang kafir semakin menambah tekanan terhadap kaum muslimin yang lemah guna menghadang dan menghentikan dakwah Nabi yang semakin meluas. Di samping itu, Nabi juga mengalami ancaman pembunuhan. Suatu hari, di sebuah tempat yang bernama Darun Nadwah, orang-orang kafir membicarakan upaya untuk menghadang dakwah nabi. Di sana datang iblis yang menyamar sebagai manusia. Dia mengaku dari Najd dan memiliki keinginan yang sama dengan orang kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Muhammad. Setelah diskusi lama, dan dari sekian banyak usulan, maka syetan tadi menyarankan untuk membunuh Muhammad saja. Caranya adalah dengan mengumpulkan para pemuda dari berbagai kabilah yang disatupadukan dan bekerja bersama-sama untuk membunuh Muhammad. Dengan bersatunya para pemuda dari berbagai kabilah ini akan terhindar tuntutan dari Bani Hasyim (kabilah Nabi) untuk meminta balas. Mereka bersepakat melakukan pengepungan terhadap rumah nabi. Namun Nabi bisa lolos dari pengepungan mereka, dan bisa keluar rumah kemudian berhijrah ke Madinah.

Nabi memilih Abu Bakar untuk menemaninya dalam perjalanan hijrah. Abu Bakar demikian gembira, saking gembiranya hingga menangis, ketika menerima ajakan Nabi. Abu Bakar sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menemani Nabi untuk berhijrah. Abu Bakar menyewa orang bayaran bernama Abdullah bin Uraiqith untuk memandu selama perjalanan hijrah. Untuk sampai Madinah, Nabi tidak langsung menuju arah kota Madinah, tetapi memutar melewati Yaman. Strategi ini sangat tepat, karena orang-orang mengira Nabi akan langsung menuju ke arah Madinah dan berusaha mengejarnya urus ke arah kota Madinah. Strategi ini tepat, sehingga nabi tidak terdeteksi keberadaannya hingga lolos ke madinah.

Memaknai Hijrah : Memperbaiki Diri

Hijrah bisa bermakna berpindah tempat atau keluar dari kampung halamannya untuk menuju tempat lain sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Hal ini karena tekanan atau ancaman yang membahayakan bagi agamanya. Namun hijrah bisa juga bermakna menghentikan perbuatan buruk dan menggantinya dengan perbuatan baik. Atau meninggalkan segala aktivitas yang sia-sia dan tak bermanfaat untuk diubah menjadi perbuatan yang berkontribusi bagi terciptanya keadaan yang lebih baik. Di bulan Muharram yang merupakan bulan suci yang diagungkan, merupakan momentum yang sangat tepat bagi kaum muslimin untuk melakukan introspeksi dan mengevaluasi diri dengan melihat apakah aktivitas kita selama ini lebih banyak berdampak baik atau buruk. Hal ini sebagai upaya untuk mengubah situasi yang selama ini kurang bermakna, dan diganti dengan kegiatan yang berdampak positif bagi kehidupan kita.

Kalau selama ini malas beribadah dan enggan bersegera berbuat baik, serta suka bermaksiat, maka momentum Muharram bisa dijadikan pijakan untuk melakukan yang terbaik dengan meningkatkan kualitas ibadah dan muamalah kita. Dengan kata lain, hijrah merupakan upaya untuk memperbaiki diri untuk menciptakan situasi yang lebih baik dari sebelumnya.

Upaya untuk memperbaiki diri bisa dilihat dari kisah orang terdahulu yang pernah membunuh 100 yang kemudian bertobat. Awalnya orang ini berniat untuk bertobat setelah membunuh 99 orang. Ia kemudian menemui seorang pendeta untuk menanyakan apakah tobatnya diterima atau tidak. Maka pendeta itu menjawab tidak bisa karena sudah membunuh nyawa sebanyak 99 orang. Orang ini langsung membunuh pendeta itu, sehingga lengkap menjadi 100 orang yang dibunuhnya. Setelah membunuh 100 orang, kemudian dia mendatangi orang yang berilmu untuk menanyakan apakah tobatnya diterima atau tidak. Maka orang berilmu itu menyatakan bisa, dan menyarankan agar setelah bertobat harus keluar dari kampungnya untuk hijrah ke tempat lain.

Dia menuruti nasehat itu, dan pergi menempuh perjalanan ke tempat lain. Di tengah perjalanan, dia meninggal dunia. Maka datanglah dua malaikat (malaikat azab dan malaikat rahmat). Malaikat azab berpendapat bahwa orang ini harus diazab karena belum sampai ke tempat tujuan. Namun malaikat rahmat menyatakan bahwa orang ini bisa diterima tobatnya karena telah berusaha keluar dari kampungnya. Perselisihan itu diputuskan Allah dengan mengukur jarak apakah dia lebih dekat ke tempat tujuan atau masih jauh. Setelah diadakan pengukuran dan perhitungan, ternyata dia lebih dekat ke tempat tujuan. Maka Allah menerima tobat dan mengampuni dosanya.

Maka disinilah pentingnya melakukan perbaikan hidup dan menanamkan spirit untuk bertobat dari hal yang salah dan berupaya untuk menghentikannya, serta berupaya memperbaiki diri sehingga tercipta masyarakat yang lebih baik dari kondisi saat ini. Bukan putus asa dan tidak berhenti berbuat maksiat serta bergelimang dengan berbahai kejahata sosial.

Surabaya, 12 September 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 593 kali, 1 untuk hari ini)