ilustrasi foto SlidePlayer.info


(106) عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمَنَّانُ الَّذِي لَا يُعْطِي شَيْئًا إِلَّا مَنَّهُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ، وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ ” صحيح مسلم (1/ 102)

Dari Abu Dzarr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tiga jenis orang yang tidak Allah ajak bicara pada hari kiamat: al-mannan yaitu orang yang tidak memberi sesuatu kecuali ia mengungkitnya, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah dusta, dan orang yang isbal (memanjangkan kain sarungnya melebihi mata kaki).” (HR Muslim no 106)

***

Lurah Desa A pengin mendapatkan utangan, dan ketika datang Lurah Desa B pun diharapkan memberikan utangan.
Pas datang di desa A qadarullah sedang turun hujan, maka Lurah Desa A tentu perlu memayungi Lurah Desa B yang diharapkan akan memberi utangan itu.

Benar, Lurah Desa B berkenan memberi utangan. Lalu setelah selesai urusannya, Lurah Desa B berpamitan dan meneruskan perjalanan untuk ke desa-desa lainnya.

Selang kira-kira sebulan, Lurah Desa A yang telah diberi utangan itu berkunjung ke pesantren di desanya dan seperti biasanya, Lurah ya diberi kesempatan untuk memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Lurah Desa A itu curhat kepada warga pesantren, bahwa ketika datang Lurah Desa B, maka dirinyalah yang memayunginya karena sedang turun hujan. Bahkan dirinya juga yang menyetiri sendiri mobil untuk menjemput Lurah Desa B itu. Tapi kok kemudian saya dengar Lurah Desa B itu ke desa lain yang kabarnya memberi utangan lebih besar dari desa kita. Itu yang saya sedikit kecewa, kecewa sedikit, ya hanya sedikit kecewa, kata Lurah Desa A meng-ghibah Lurah Desa B. (Lhah, sudah diberi utangan, bukannya berterimakasih malah dighibah, dan dianggap mengecewakan karena memberi utangannya hanya sedikit, kurang dari100 triliun… tidak sebesar pemberian utangan ke desa lainnya…).

Curhatan Lurah Desa A itu tahu-tahu terdengar oleh masyarakat Desa B, maka beredarlah di Desa B curhatan Lurah Desa A itu ke seluruh Desa B. Bahkan kemudian menjalar ke desa-desa lain, dan kembali pula sampai ke Desa A, curhatan ungkitan yang beredar di Desa B dan desa-desa lain itu.

Masyarakat Desa A merasa dipermalukan oleh Lurah mereka. Baru kali ini, kita punya Lurah kok sebegitunya ya…. Masyarakat Desa A yang masih waras hanya bisa mengelus dada… Apalagi masih terngiang di ingatan mereka, bahwa Lurah Desa A itu pula pernah bilang sendiri bahwa ketika jadi heboh adanya keputusan yang telah dia tandatangani, maka tersebar berita, dia bilang, saya tidak baca apa yang saya tandatangani itu…

Lhah… Dengan kejadian-kejadian yang menggemparkan seperti itu, warga desa mulai banyak yang sadar bahwa mereka ternyata tertipu oleh media-media penipu yang sangat lihai mempromosikan orang itu tadi hingga jadi Lurah di Desa A itu.

Via fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunar.com)

(Dibaca 2.624 kali, 1 untuk hari ini)