Penggalan akhir tulisan tokoh NU berikut ini menggambarkan nasib kecele-nya PBNU masa kini:

“PBNU dilecehkan. Rois Aam dan Ketum PBNU hanya disuruh menjaga Pancasila versi Rezim Jokowi, disuruh berkelahi dengan 17 Ormas Islam, dikandangin di UKP PIP yang derajatnya hanya unit di pemerintahan. Itu pelecehan luar biasa!” (Presiden Jokowi Tipu PBNU, Itu Hebat! Oleh: Djoko Edhi Abdurrahman Wasek Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU, Minggu, 28 Januari 2018 , 07:16:00 WIB | http://rmol.co  ).

Hal yang dapat dipetik.

  1. Ada yang menginginkan agar Umat Islam terpecah belah.
  2. Menggunakan kelompok atau golongan tertentu dari Umat Islam sendiri untuk terjadinya pecah belah.
  3. Ada semacam imbalan yang kemungkinan akan diperoleh ketika sudah melakukan aksi pecah belah.
  4. Yang menginginkan Umat Islam pecah belah itu bertujuan menimbulkan kemudharatan bagi umat Islam.
  5. Mereka suka terjadinya apapun yang menyusahkan Umat Islam.
  6. Kebencian mereka terhadap Umat Islam telah terkuak.

Dalam menghadapi kehidupan di dunia ini Umat Islam sudah ada tuntunannya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata Allah Ta’ala telah wanti-wanti agar tidak terjadi hal yang menimbulkan kemudharatan bagi umat Islam.

Di antaranya firman Allah Ta’ala ini:

 {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ} [آل عمران: 118]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya [Al ‘Imran118]

Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam juga telah memperingatkan, bahkan mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita cermati dengan mengulang sebagian kalimat dari tulisan tokoh NU tersebut.

Dalam tulisan itu ada ungkapan: ‘disuruh berkelahi dengan 17 Ormas Islam’. Berarti penyuruhnya itu sikapnya adalah melawan banyak Umat Islam dari berbagai golongan. Sedangkan yang disuruh juga satu golongan dari Islam. Dikhawatirkan, pemimpin yang (menyuruh) seperti itu justru yang didoakan laknat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ _أحمد ، ومسلم عن عائشة

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ _ رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

Dengan terkuaknya masalah bahwa NU Disuruh Berkelahi dengan 17 Ormas Islam, selayaknya Umat Islam mencermati pula peringatan dari Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam mengenai imaratus sufahaa’.

Imaratus Sufaha’

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي : جابر بن عبدالله المحدث : الألباني

المصدر : صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari Imaratis Sufahaa’ (pemerintahan orang-orang yang bodoh)”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radhiyallahu’anhu) bertanya, apa itu pemerintahan orang-orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin (kekuasaan) sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka,  serta  tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku  dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku. (Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Demikianlah, di antara Hikmah Terkuaknya NU Disuruh Berkelahi dengan 17 Ormas Islam. Semoga menjadi pelajaran bagi Umat Islam, dan semoga Allah melindungi Umat Islam di negeri ini dan di dunia pada umumnya dari segala macam rekayasa dan upaya musuh-musuh Islam, hingga keburukan tipu daya itu berbalik kepada para pelakunya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

{وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ} [فاطر: 43]

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri…. [Fatir43]

Wallaahu a’lam bisshawaab.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.993 kali, 1 untuk hari ini)