ilustrasi


Ziyad bin Labid pernah berkata keheranan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah ilmu akan hilang sementara kami selalu membaca Al Qur`an dan membacakannya kepada anak-anak kami, kemudian anak-anak kami pun membacakannya kepada anak-anak mereka hingga datangnya hari kiamat?”

Beliau menjawab:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ أُمِّ لَبِيدٍ، إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ، أَوَ لَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَنْتَفِعُونَ مِمَّا فِيهِمَا بِشَيْءٍ؟

“Bagaimana kamu ini wahai Ibnu Ummu Labid! Sungguh, aku melihatmu termasuk orang yang paling fakih di Madinah. Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani membaca Taurat dan Injil, akan tetapi apa yang terdapat dalam kedua kitab itu tidak sedikitpun bermanfaat bagi mereka.” [H.R. Ahmad, no. 17473]

Berkata Syaikh Mahmud al-Khazindar dalam kitabnya “Hadzihi Akhlaquna Hina Nakun Mu’minin Haqqa” hal. 412:

ذهاب العلم بفقد أثره، وبعدم الانتفاع به، لا بذهاب رسمه

“Hilangnya ilmu (selaras) dengan hilangnya bekasnya, dan tidak adanya pemanfaatan dengannya. (Hilangnya ilmu) bukan dengan hilangnya tulisannya.”

Maka, perhatikan, kita mencari ilmu untuk berbekal, memanfaatkannya dan berakhlak dengannya. Wallahul musta’an.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 152 kali, 1 untuk hari ini)