Hina Islam di Medsos, Acong Ditetapkan Jadi Tersangka Penista Agama

  • Seolah Kebal Hukum, Abu Janda Sebut Islam Arogan, Bukhori: Polisi Harus Tindak Tegas!

 

Silakan simak ini.

***

Hina Islam di Medsos, Acong Ditetapkan Tersangka Penista Agama oleh Polres Sergai Sumut

 

SERDANG BEDAGAI,– Polres Sergai menetapkan tersangka penista agama, diketahui bernama Indra Darma alias Acong (23) warga Desa Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

“Tersangka di tetapkan dengan Pasal 28 ayat (2) UU RI no 17 tahun 2016 dan pasal 45 ayat (2) UU RI nomor 11 tahun 2016 tentang ITE subsider pasal 156 huruf a KUHPidana tentang penistaan agama. Dengan ancaman penjara 5-6 tahun,” demikian ditegaskan Kapolres Serdang Bedagai AKBP Robin Simatupang SH M.Hum Minggu (21/2/2021) sore di halaman Mapolres Serdang Bedagai.

Menurut Kapolres bahwa tersangka diduga melakukan penistaan agama dengan akun media sosial (medsos), Facebook bernama Sun Go Kong.

“Motifnya masalah asmara. Tersangka cinta nya ditolak oleh perempuan yang berbeda agama. Tetapi justru memilih teman dekatnya yang seagama,”beber Kapolres.

Akibatnya, sebut AKBP Robin, tersangka membuat postingan yang menista agama lain. Saat ini tersangka telah ditahan dan kita imbau masyarakat terkait kasus ini untuk menyerahkan proses secara hukum.

“Terkait hal ini, masyarakat jangan terprovokasi. Dan untuk menahan diri dari tindakan yang merugikan semua pihak,”imbau Kapolres.

Konferensi pers juga turut dihadiri Kasat Reskrim AKP Pandu Winata SH SIK MH, Kasubbag Humas AKP Sopian, PJU, Ketua MUI Sergai, H. Hasful Huznain, FKUB, Ketua MPC PP Sergai, Zulpansah, Kakan Kemenag Sergai, tokoh Tionghoa Budi SE, tokoh masyarakat Syafaruddin alias Udin Sirip, dan tokoh pemuda. (Manahan. D)

 

akses.co, Redaksi20 jam yang lalu

 

***

Seolah Kebal Hukum, Abu Janda Sebut Islam Arogan, Bukhori: Polisi Harus Tindak Tegas!


Foto/tvone

Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf mengecam tindakan Abu Janda alias Permadi Arya yang menghina Islam melalui cuitannya di media sosial. Dalam cuitannya tersebut, Abu Janda menyebut Islam agama pendatang dari Arab yang arogan.

“Ini sudah kelewat batas. Ia (red, Abu Janda) sudah terlalu sering membuat kegaduhan publik dengan ujarannya yang meresahkan. Namun anehnya, terkesan ada pembiaran selama ini kendati sudah banyak pihak yang dirugikan atas ulah buzzer ini. Orang seperti ini yang justru berpotensi memecah belah NKRI karena memperkeruh suasana kerukunan antar warga negara,” ungkapnya di Jakarta, Sabtu (30/1/2020).

Politisi PKS ini meminta Polri untuk segera memproses secara hukum dan menindak tegas Abu Janda. Pasalnya, ia telah terbukti secara terang-terangan menyakiti umat Islam melalui pernyataannya belakangan ini yang mendiskreditkan Islam.

“Ia tidak hanya menyakiti umat Islam tetapi juga berpotensi memecah belah anak bangsa dan mengadu domba internal umat Islam,” sambungnya.

Ini bukan kali pertama Abu Janda mengeluarkan pernyataan kontroversial. Sebelumnya, ia juga dipolisikan terkait kasus dugaan rasisme terhadap mantan komisioner HAM, Natalius Pigai.

Tidak hanya itu, tahun 2018 ia menyatakan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang terpampang di kediaman Habib Rizieq Shihab di Arab Saudi sebagai bendera teroris.

Di tahun selanjutnya, ia kembali membuat polemik. Ia dinilai telah menyebarkan pernyataan provokatif yang menuding FPI sebagai penyebab kerusuhan di Manokwari. Alhasil, desakan untuk menangkap Abu Janda dengan tagar #TangkapAbuJanda menggema di sosial media.

Dari sederet pernyataan kontroversial tersebut walhasil membuatnya dipolisikan oleh pelbagai pihak. Meskipun demikian, ia seolah kebal hukum kendati sudah sering dipolisikan.

Karena itu, demikian Bukhori melanjutkan, ini menjadi momentum emas bagi Kapolri Listyo Sigit untuk memulai debut PRESISI-nya dengan segera menindaklanjuti kasus ini. Kesempatan baik ini harus dimanfaatkan Polri untuk memulihkan kepercayaan publik kepada Korps Bhayangkara yang selama ini nyaris hopeless atas pola penegakan hukum yang sangat mengecewakan, imbuhnya.

Untuk diketahui, Kapolri di bawah Listyo Sigit mengusung konsep PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan). Nilai Berkeadilan diusung oleh Kapolri yang baru dalam rangka merespons persepsi publik yang memandang penegakan hukum oleh kepolisian selama ini masih tebang pilih.

“Negara tidak akan diuntungkan dengan kehadiran buzzer yang meresahkan publik. Negara harus segera menertibkan mereka bila ingin mengembalikan kehangatan percakapan kita sebagai warga negara yang menjunjung tinggi akhlak dalam merespons perbedaan,” pungkasnya. (rls)

FAJAR.CO.ID —  Sabtu, 30 Januari 2021 22:59
Editor: Muhammad Nursam

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 481 kali, 1 untuk hari ini)