Begitulah kalau penguasa DKI itu orang Cina, lebih bengis dibanding dengan penjajah Belanda, sikapnya terhadap pribumi.

pribumis

JAKARTA (voa-islam.com) – Begitu hinanya nasib pribumi di DKI  Jakarta. Barangkali masih berharga sampah. Bisa dibuang sesuka hati. Mereka dikejar, diburu, dan digusur, tanpa ada solusi. Sungguh ironis sekali. Pribumi seperti tak berhak hidup di Jakarta.

Nasib pribumi di DKI masih lebih mulia suku Aborigin di Australia atau Indian di Amerika. Begitu bengisnya Ahok yang sekarang menggusuri para pribumi.

Sementara itu, orang-orang Cina hidupnya begitu mulia, nyaman, dan dengan segala kemewahan dan kenikmatan.

Mereka tinggal di hunian yang eksklusif dan aman. Orang-orang Cina bisa tinggal di apartemen mewah, perumahan yang sangat mewah, seperti suku Aborigin di Australia atau Indian di Amerik, Kelapa Gading, dan BSD (Bumi Serpong Damai), Alam Sutera. Mereka sangat eksklusif dan sangat tidak toleran dengan kaum pribumi. Mereka menggusuri kaum pribumi dengan sangat bengis. Di mana-mana.

Sementara itu, kaum pribumi yang miskin dan mlarat, tinggal di bantaran kali, dan kereta, di kolong jembatan harus digusur seperti anjing buduk. Rumah digusur. Dagangan digusur. Lalu mereka bagaimana mau mempertahankan hidup? Bukankah setiap warga negara mempunyai hak hidup? Sementara itu, orang-orang Cina dengan sogok dan suap, berhasil meluluh-lantakkan pribumi dengan menggunakan tangan pejabat.

Orang-orang Cina terus menguasai lahan-lahan pribumi di DKI, Tangerang, Bekasi, Bogor dan daerah-daerah pinggiran DKI.

Menurut MS.Ka’ban, DKI Jakarta sudah 90 persen dikuasia oleh Cina. Lihat. Mulai Jakarta Pusat, Utara, Timur, Barat, sampai Tangerang hampir semuanaya dikuasai Ciina. Pribumi sudah terusir dari tanah kelahiran mereka, dan digantikan Cina.

Sekarang, Kampung Pulo akan digusur. Meski warga Kampung Pulo masih bertahan di rumah masing-masing. Hal tersebut dilakukan lantaran warga menganggap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak menepati janjinya untuk ganti rugi.

“Kami dukung normalisasi. Tetapi harus ganti sesuai dengan janji Pak Jokowi saat masih sebagai Gubernur Jakarta,” kata Ketua LMK Kampung Melayu, Muhamad Halili, kepada wartawan, Kamis (20/8/2015).

Menurut Halili, pihaknya merasa kecewa lantaran Pemprov DKI dianggap telah mempermainkan masyarakat dan tidak memberikan alasan yang pasti mengenai tidak direalisasikannya perjanjian ganti rugi.

“Katanya tidak memiliki syarat sesuai pergub tapi tidak ada alasan pasti.
Jangan bilang ganti kalau tidak bisa realisasikan. Ini ciri-ciri orang munafik,” pungkasnya.

Sementara itu, warga yang menolak penggusuran berdiri di sepanjang jalan raya Jatinegara Barat sambil meneriakan penolakan penggusuran.

Bahkan di depan gang tepatnya di depan Kantor Sekertariat RW 03, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara. Jakarta Timur terpampang sejumlah spanduk bertuliskan berbagai hal. Salah satunya bertuliskan “Ahok ngga pantas jadi pemimpin DKI karena tidak pernah bijaksana terhadap warga DKI terutama warga Kampung Pulo.”

Begitulah kalau penguasa DKI itu orang Cina, lebih bengis dibanding dengan penjajah Belanda, sikapnya terhadap pribumi.

Bodohnya kaum pribumi hanya diam, dan nurut tak berani menolak tindakan yang semena-mena. Tidak memberikan tempat yang layak, malah digusur dan dibiarkan lontang-lantung tanpa kehidupan. (sasa/dbs/voa-islam.com) Kamis, 10 Zulqaidah 1436 H / 20 Agutus 2015 22:14 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 863 kali, 1 untuk hari ini)