Kebenaran dan kejahatan adalah dua kubu yang tidak mungkin bersatu. Kebenaran didukung oleh Allah ‘azza wa jalla sedangkan kejahatan didukung oleh setan dan pasukannya. Siapa yang mendukung setan maka dia menjadi musuh Allah ‘azza wa jalla dan dia tidak mungkin meraih kemenangan.

Hizb (kelompok/golongan) di dalam Al-Qur’an ada dua bentuk dan tidak ada yang ketiga, yaitu Hizbullah dan Hizbusy-syaithan. Setiap hizb ini memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang membedakan antara yang satu dengan yang lain.

Ciri-ciri Hizbullah

Kata “hizbullah” di dalam Al-Qur’an disebutkan tiga kali. Satu kali dalam surat al-Maidah ayat 56:

فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ٥٦

“Maka sesungguhnya Hizbullah merekalah orang-orang yang menang.”

Dan dua kali dalam surat al-Mujadilah ayat 22:

أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٢٢

“Mereka adalah hizbullah (golongan Allah ‘azza wa jalla) dan ketahuilah sesungguhnya hizbullah merekalah yang akan menang.”

Bagi orang yang merenungi kedua surat di atas yaitu ayat sebelumnya dia akan menemukan sepuluh ciri-ciri hizbullah, di antaranya

  1. Berwala’ (loyal) kepada Allah ‘azza wa jalla.
  2. Berwala’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Berwala’ kepada orang-orang yang beriman.
  4. Cinta kepada Allah ‘azza wa jalla.
  5. Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Cinta kepada hamba-hamba Allah ‘azza wa jallayang beriman.
  7. Merendahkan diri di hadapan orang-orang yang beriman.
  8. Berbangga dengan agamanya di hadapan orang-orang kafir.
  9. Menampakkan kalimat haq sesuai batasan-batasan syariat.
  10. Berjihad di jalan Allah ‘azza wa jallauntuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla. (Lihat kitab al-Manhajul Qawim at-Ta’assi bi ar-Rasul al-Karim karya asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali, hlm. 40)

Ciri-ciri Hizbu Syaithan

Hizbu asy-Syaithan tentu berbeda dengan hizbullah. Artinya, Hizbu asy-Syaithan memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang dikenal dengannya.

Pertama, menyeru kepada yang mungkar, mencegah dari yang ma’ruf, dan bakhil terhadap hak-hak Allah ‘azza wa jalla dan hak-hak hamba-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain adalah sama, mereka menyeru kepada yang mungkar dan mencegah dari yang ma’ruf.” (at-Taubah: 67)

Kedua, memiliki sifat hasad dalam rangka mengikuti imam mereka yaitu iblis yang telah hasad terhadap Adam ‘alaihissalam. Inilah jalan iblis dalam rangka menentang perintah Allah ‘azza wa jalla.

قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ٧٦

”Saya lebih baik darinya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.” (Shad: 76)

Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain, baik yang terkait dengan nikmat ukhrawi maupun duniawi. Hasad adalah akhlak iblis dan tentara-tentaranya dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan munafiqin. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemperingatkan kita darinya:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling hasad dan janganlah kalian saling tanajasy[1] (menipu pembeli), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian membeli barang yang dalam pembelian saudaramu, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (Sahih, HR. Muslim)

Ketiga, merasa senang bila kekejian tersebar di kalangan kaum muslimin baik secara individu maupun jamaah, menyakiti mereka dengan cara melemparkan tuduhan palsu. Allah ‘azza wa jallamenjelaskan hal itu dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ

“Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah orang-orang yang beriman, bagi mereka adalah azab yang pedih.” (an-Nur: 19)

Keempat, mengibarkan permusuhan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits qudsi (Allah ‘azza wa jallaberfirman):

مَنْ عَادَانِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barang siapa yang memusuhi waliku, maka sungguh Aku umumkan perang kepadanya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Ahmad dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kelima, berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla dengan penuh kezaliman dan permusuhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦ مَتَٰعٞ قَلِيلٞ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ١١٧

“Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka azab yang pedih.” (an-Nahl: 116—117)

Keenam, berpaling dari kebenaran ajaran Islam, tidak mempelajarinya, tidak mengajarkannya, dan tidak mau mengamalkannya. Allah ‘azza wa jalla mengancam mereka dalam banyak ayat Al-Qur’an.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Sungguh Kami telah melemparkan ke neraka Jahannam kebanyakan dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati (akan tetapi) mereka tidak berpikir dengannya. Mereka memiliki penglihatan (akan tetapi) mereka tidak melihat (kebesaran Allah) dengannya, mereka memiliki pendengaran (akan tetapi) mereka tidak mendengarkan ayat-ayat Allah dengannya. Mereka bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat dari itu. Merekalah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 179)

Ketujuh, mengikuti hawa nafsu, menolak petunjuk dan segala yang akan mengantarkan kepadanya. Begitu juga menentang para pengikut petunjuk. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya:

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٣

“Pernahkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan mereka sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberi petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23)

Kedelapan, mendebat kebenaran dengan segala kebatilan dan melakukan segala bentuk kerusakan di muka bumi. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤ وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan terhadapnya; merusak tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (al-Baqarah: 204—205)

Kesembilan, mencela syariat Allah ‘azza wa jalla dan pemeluknya.

قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ

“Katakanlah, apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian mencela? Tidak ada alasan (bagi kalian), sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (at-Taubah: 65—66)

Inilah beberapa ciri hizbullah dan hizbusy-syaithan, dan masih banyak lagi ciri lainnya sebagaimana telah dijelaskan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits sahih. Semoga pembahasan ini cukup memadai untuk mengetahui hakikat mereka, agar keluar orang-orang yang mengaku sebagai hizbullah namun mereka sangat jauh darinya.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

[1] Al-Imam an-Nawawi  rahimahullah berkata bahwa najasy adalah engkau menambah harga sebuah barang yang engkau umumkan di pasar atau selainnya yang engkau tidak berkeinginan membelinya, namun bertujuan untuk menipu orang lain.

Sumber: asysyariah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 760 kali, 1 untuk hari ini)