Anda merasa sebagian orang menjauh? Mari muhasabah. Jangan langsung menuding salah di mereka. Dahulu sang sahabat Muadz, menuding mereka yang membatalkan shalat di belakang beliau, sebagai munafiq. Rupanya bukan salah mereka. Bukan. Salahnya beliau, sang imam. Sampai Rasulullah menegur cukup keras. “Apa kamu pembuat fitnah wahai Muadz?”

Di nasehat itu, titik introspeksi ditemukan. Sahabat Muadz adalah orang alim, shalih, kuat shalat panjang dan imam kaumnya. Lalu apa salahnya?

Salahnya: beliau mengkadarkan bahwa semua orang atau jemaahnya harus seperti beliau. Harus seidealis beliau. Harus sekuat beliau berdirinya. Tidak peduli bahwa di antara jemaah ada yang sudah tua. Ada yang belum siap. Ada yang mungkin juga belum lama hijrah. Ada pekerja. Ada ini ada itu.

Mari belajar. Padahal, bukankah tanda keilmuan seseorang dilihat dari panjangnya shalat dia?! Bisa jadi. Tapi jangan lupa juga, bahwa tanda inshaf dan kematangan ilmu seseorang, ia memahami kondisi manusia dan lingkungan. Menjadi orang hebat, tidak berarti boleh begitu saja menalarkan semua orang harus sehebat dirinya. Terlebih terhadap mereka yang memiliki udzur, baik usia, pekerjaan dan hal lain.

Diketahuilah kemudian mengapa sebagian orang berlari menjauh, atau ada yang perlahan mundur dari hadapan kita. Belum tentu karena orang itu pemalas. Mungkin karena ego kita. Mungkin juga karena kalimat kita. Mungkin karena kita terkesan memaksa semua harus semisal kita, segera. Padahal niat kita baik. Sebagaimana niat sahabat Muadz pun baik.

Sampai di telinga kita perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib, “Beritakanlah kepada masyarakat, sesuai kadar nalar pengetahuan mereka.” Ditakutkan, karena keluhuran kalimat dan istilah yang tertutur oleh kita namun salah dicerna, mereka malah mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Padahal, semua Rasul pasti diutus sesuai dengan bahasa dan logika kaumnya. Tujuannya apa? Tujuannya agar hujjah menjadi jelas.

Tujuannya agar mereka paham. Iya. Kita perlu cari cara terbaik dan terbijak, bagaimana masyarakat paham. Tapi tidak bisa kita ratakan, semua insan harus sepintar kita. Seidealis kita, kecuali untuk hal-hal yang diwajibkan dalam syariat. Ini harus. Tapi untuk hal yang bukan darurat atau kewajiban, melunaklah. Silakan anjurkan, namun jangan memaksa.

Karena jiwa manusia kerap berontak jika dipaksa manusia lain. Terlebih jika ia merasa si pemaksa ini, tidak mau mengerti kondisinya, melainkan hanya mau semuanya seperti semau dia. Tidak bisa, kawan. Tidak bisa. Anjurkan, dan jangan memaksa. Tersenyumlah sambil merangkul, dan jangan menarik tangan orang.

Kalimah di atas semuanya, bisa direfleksikan untuk berbagai bidang. Berbaurlah sering dengan kalangan awam untuk mengetahui hajat mereka di kehidupan. Sampai kita tahu apa sebetulnya yang mereka butuhkan, untuk kita penuhi.

Boleh jadi selama ini, kita mengajar, sebenarnya hanya hasrat pelampiasan ego atau hobi (mengajar) kita semata, bukan untuk maslahat dunia akhirat kaum muslimin. Cobalah ceritakan yang sebenarnya kepada Allah di kesendirian terutama di malam masa. Mungkin di sana akan terbaitkan jawabannya. Ternyata tanpa sadar, banyak robekan di hati yang sangat perlu kita tambal. Baarakallaahu fiikum.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 611 kali, 2 untuk hari ini)