Jika es batu tersebut dalam keadaan meleleh sehingga air menetes lebih banyak dan bisa dikatakan cukup mengalir meskipun sekadar tetesan, maka yang terfahami dari kalam para ulama Syafi’iyyah, wudhu dengannya sah.

Para ashhab mutaqaddimin dalam madzhab menisbatkan suatu perkataan dan hukum kepada al-Auza’iy bahwa secara mutlak berwudhu dengan es batu adalah sah. Tetapi Abu al-Hasan al-Mawardy dalam “al-Hawy al-Kabir” menyanggah pemutlakan tersebut. Menurut beliau, hal tersebut perlu dirinci. Begitu pula yang dikatakan oleh Abu al-Faraj ad-Darimy. Sebagaimana dihikayatkan oleh an-Nawawy dalam al-Majmu’. Kedua imam tersebut adalah ulama besar Syafi’iyyah ala Iraqiyyun.

Rinciannya, al-Mawardy berkata:

فَإِنْ كَانَ الْمُسْتَحَقُّ فِي الْعُضْوِ الْمَسْحَ كَالرَّأْسِ أَجْزَأَهُ بِحُصُولِ الْمَسْحِ، وَإِنْ كَانَ الْمُسْتَحَقُّ الْغَسْلَ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ حَدَّ الْغَسْلِ أَنْ يَجْرِيَ الْمَاءُ بِطَبْعِهِ، وَهَذَا مَسْحٌ، وَلَيْسَ بِغَسْلٍ وَمَسْحُ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ غَيْرُ مُجْزِئٍ

“Jika (es batu yang tidak meleleh digunakan wudhu untuk) anggota tubuh yang berhak diusap, maka ia sah, disebabkan berlakunya al-mash (usapan). Sedangkan untuk anggota tubuh yang haknya dibasuh (bukan sekadar diusap), maka ia tidak sah. Karena batasan ghasl (basuh/cuci): air harus mengalir sesuai kewajarannya. Sedangkan (menggunakan es batu yang tidak meleleh) ini adalah al-mash (mengusap), bukan al-ghasl (membasuh). Dan mengusap apa yang wajibnya dibasuh, tidaklah cukup (sah).” [Al-Hawy, 1/41]

Betul. Karena mengusap dengan membasuh itu berbeda. Membasuh membutuhkan pengaliran air. Sedangkan mengusap, tidak. Pendetailan semisal ini, dibahas di kitab-kitab madzhab. Seraya pula al-Qadhy al-Husain al-Marwarrudzy pernah berkata:

والفرق بينهما: أن الغسل يتضمن المسح

“Perbedaan antara keduanya (al-mash dan al-ghasl) adalah bahwasanya al-ghasl (basuhan) itu sudah mengandung al-mash (usapan).”

بأنه يقوم مقام المسح بخلاف المسح، فإنه لا يتضمن الغسل.

“Bahwasanya ia (membasuh) telah mewakili perbuatan mengusap (karena basuhan pasti mengandung usapan); sedangkan (usapan) tidak mengandung basuhan.” [At-Ta’liqah ala Mukhtashar al-Muzany, 1/275]

Berangkat dari itu pula, hendaknya para fuqaha, duat, dan para pelajar yang mengajarkan tata cara wudhu ‘minimalis’, agar berhati-hati. Jangan sampai menyamakan kadar air basuhan dengan air usapan. Hendaknya dibedakan antara membasuh dengan mengusap. Ini ada pembahasan tersendiri yang memang layak dipelajari oleh kita semua. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ust. Hasan al-Jaizy

viafb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 974 kali, 1 untuk hari ini)