JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Muhammad Cholil Nafis angkat bicara soal proyek Kakbah metaverse yang digagas dan diwujudkan oleh Dinas Urusan Museum dan Pameran Arab Saudi bekerjasama dengan Universitas Umm Al-Qura.

“Menurut rilis Arab Saudi ketika peluncurannya adalah agar umat muslim bisa mengalami bahkan merasa mencium Hajar Aswad secara virtual sebelum melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Jadi, peluncuran itu sebagai sarana promosi wisata religi dari pemerintahan Arab Saudi,” ujar Cholil Nafis, Rabu (9/2/2022).

 
Dikatakan dia, pelaksanaan haji di Metaverse adalah alam khayal dan fiksi di dunia maya. Sedangkan perintah pelaksanaan haji harus dengan fisik di dunia nyata. Begitu juga ibadah umrah harus di alam nyata sebagaimana tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. “Sebab Ibadah haji itu sifatnya ta’abbudi dan tauqifi,” ucapnya.
 
 
Oleh karena itu kata dia, ibadah haji bersifat tetap tak mengalami perubahan tempat dan waktunya. Asalnya ibadah itu haram sampai ada tuntunan yang mengajarinya.
 
Maka kata dia, seorang muslim tidak dapat melakukan ibadah dan haram (dilarang) hukum jika tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
 
Masih kata Cholil, metaverse baik untuk interaksi sosial dan transaksi ekonomi secara virtual dengan membuka alam maya sendiri seperti horizon, avatar dan lain sebagainya.. Namun ibadah mahdhah (murni) tidak dapat dipindahkan ke dunia fiksi. “Maka haji dan sholat tidak sah dilakukan secara virtual di metaverse.
 
Selengkapnya simak dalam infografis okezone di atas ya!

Okezone, Jurnalis · Kamis 10 Februari 2022 20:28 WIB

 

(nahimunkar.org)