Hura Hura Malam Tahun Baru Dilarang di 2021 karena Pandemi, dan 16 Tahun Lalu karena Tsunami Aceh

Umat Islam sering sedih ketika harta dan tenaga dibuang sia2 tanpa guna bahkan mengandung dosa ketika hura2 malam tahun baru.

Alhamdulilah, malam tahun baru 2021 sudah ada siaran, dilarang dirayakan karena masih adanya pandemi corona wabah covid-19 yang melanda di dunia termasuk Indonesia sejak 10 bulan lalu.

Pristiwa ditiadakannya hura2 malam tahun baru yang sering menguras biaya tanpa guna bahkan mungkin sekali banyak dosa itu pernah pula di tahun baru 2005, setelah adanya tsunami di Aceh yang mematikan ratusan ribu manusia 26 Desember 2004 di antaranya ada yang merayakan natalan, baru pertama di Aceh di pinggir pantai, kabarnya. Maka Indonesia meniadakan hura2 malam tahun baru 2005.

Tsunami pun terjadi pula di Palu Sukawesi disertai gempa dan menewaskan banyak manusia terutama yang sedang mengadakan upacara kemusyrikan di tepi laut.

Silakan simak ini.

***

Pelajaran Berharga, Gempa Tsunami dan Terpilihnya Pemimpin yang Pro Kemusyrikan

Gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10) terjadi saat Upacara Kemusyrikan, langsung diamuk Gempa Tsunami Palu. Ribuan Orang (1.763 orang) meninggal dunia dan 5000 orang Hilang
Ribuan orang meninggal, ribuan bangunan (5.146 ) hancur dan 1.045 amblas diterjang gempa Tsunami Palu di (akibatkan) acara Pembangkitan Kembali Sesajen Kemusyrikan, sedang Walikota Palu dan Wakilnya pencetus dan Penyelenggara kemusyrikan itu Lolos dari Amukan Tsunami.
Dimulainya tradisi sesajen kemusyrikan (yang sudah lama terkubur tapi dibangkitkan kembali) ini sejak 2016, terpilihnya walikota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha) yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pembangkitan kembali kemusyrikan itu dibesarkan dengan pembangunan perkampungan baru di pantai untuk acara kemusyrikan dengan biaya 4,3 miliar dari pemkot Palu, baru saja selesai untuk digunakan selama 10 tahun,namun langsung dihancurkan Allah dengan tsunami saat acara festival kemusyrikan berkedok festival (tahunan) Kebudayaan Palu Nomoni di pantai Talise, Palu Sulawesi Tengah, 28 September 2018. 

Membangkitkan kembali sesajen kemusyrikan itu berarti mengembalikan kepada kemusyrikan yang telah dikecam Allah Ta’ala, lebih dahsyat daripada pembunuhan.

وَالْفِتْنَةُ
أَشَدُّ
مِنَ
الْقَتْلِ [البقرة/191] dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191). وَالْفِتْنَةُ
أَكْبَرُ
مِنَ
الْقَتْلِ [البقرة/217]Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217). Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Al-Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya,
عن
مجاهد
في
قول
الله:”والفتنة
أشدُّ
من
القتلقال: ارتداد
المؤمن
إلى
الوَثن
أشدُّ
عليه
من
القتل. –تفسير
الطبري – (ج 3 / ص 565)
Dari Mujahid mengenai firman Allah
وَالْفِتْنَةُ
أَشَدُّ
مِنَ
الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir Ath-Thabari juz 3 halaman 565).

Ibrah dari peristiwa pembangkitan kemusyrikan dan kemaksiatan ataupun kemubaziran
Terpilihnya pemimpin yang begitu terpilih kemudian mengadakan acara pembangkitan kembali sesajen kemusyrikan yang sangat dilarang dalam Islam, ternyata bagai mengundang bencana atau murka Allah Ta’ala.
Dari sini ada pelajaran (ibrah) sangat penting soal memilih pemimpin. Ketika terpilih kemudian mengadakan hal yang mendatangkan murka Allah Ta’ala, ternyata bencana dahsyat mampu menimpa ribuan orang, ribuan bangunan, dan kerugian ekonomi puluhan triliun.
Padahal apabila rakyat dipimpin oleh orang yang baik-baik, shalih dan menuntun kepada kebaikan, bersyukur lagi beriman, maka azab pun tidak terjadi. Karena Allah Ta’ala berjanji:
مَّا
يَفۡعَلُ
ٱللَّهُ
بِعَذَابِكُمۡ
إِن
شَكَرۡتُمۡ
وَءَامَنتُمۡۚ
وَكَانَ
ٱللَّهُ
شَاكِرًا
عَلِيمٗا
١٤٧ [ النساء:147-147]
147. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. [An Nisa”:147]
Kaum-kaum dahulu dihancurkan dengan azab bencana karena kemusyrikan, / dosa mereka.
فَكُلًّا
أَخَذۡنَا
بِذَنۢبِهِۦۖ
فَمِنۡهُم
مَّنۡ
أَرۡسَلۡنَا
عَلَيۡهِ
حَاصِبٗا
وَمِنۡهُم
مَّنۡ
أَخَذَتۡهُ
ٱلصَّيۡحَةُ
وَمِنۡهُم
مَّنۡ
خَسَفۡنَا
بِهِ
ٱلۡأَرۡضَ
وَمِنۡهُم
مَّنۡ
أَغۡرَقۡنَاۚ
وَمَا
كَانَ
ٱللَّهُ
لِيَظۡلِمَهُمۡ
وَلَٰكِن
كَانُوٓاْ
أَنفُسَهُمۡ
يَظۡلِمُونَ
٤٠ [ العنكبوت:40-40] 40. Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al ‘Ankabut:40]/ Hartono Ahmad Jaiz

***

 

16 Tahun Mengenang Tsunami Aceh yang Menelan Ratusan Ribu Nyawa

Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA – Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh sudah enam belas tahun berlalu, tepatnya 26 Desember 2004. Gempa berkekuatan 9,3 SR disusul dengan gelombang tsunami itu telah menghancurkan bangunan-bangunan di sana.

Gempa besar tersebut terjadi sekira pukul 08.00 WIB yang berpusat 160 KM sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 kilometer. Kejadian tersebut merupakan gempa bumi terdahsyat yang menghantam Aceh dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Gempa itu bahkan juga dirasakan hingga Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Tidak lama setelah gempa terjadi, masyarakat di pesisir Aceh kembali dibuat panik dengan datangnya gulungan air dari pesisir pantai. Ombak tsunami setinggi langsung menyapu bersih sebagian wilayah Aceh. Peristiwa ini tercatat sebagai peristiwa bencana alam terbesar dalam sejarah Abad ke 21.

Secara keseluruhan ada 14 negara yang terkena dampak tsunami dengan jumlah korban mencapai 230.000 jiwa.


Ratusan ribu nyawa melayang setelah dihantam gelombang kecepatan gelombang hampir 360 kilometer per jam, dengan tinggi tsunami diperkirakan mencapai 30 meter. Hal itu sama saja seperti tinggi 17 kali dari tinggi rata-rata orang dewasa dengan ketinggian rata-rata 170 sentimeter bila berdiri sejajar ke atas.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah Provinsi (pemprov) Nanggroe Aceh Darussalam menggelar upacara peringatan bencana tsunami Aceh.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh Rahmadhani, acara peringatan 16 tahun tsunami Aceh bertema “Refleksi Tsunami dan Kekuatan Masyarakat Aceh dalam Menghadapi Pandemi COVID-19” itu bakal digelar secara sederhana. Tamu yang diundang mengingat situasi pandemi saat ini.

“Karena sedang dalam keadaan pandemi Covid-19, maka Peringatan 16 Tahun Tsunami Aceh akan digelar secara sederhana melalui pendekatan daring dan luring dengan kegiatan tausiyah yang akan disampaikan oleh Syekh Ali Jaber,” kata Rahmadhani di Banda Aceh, melansir Antara.

Agenda utama Peringatan Tsunami Aceh pada 2020 di tengah Covid-19 ini meliputi tafakur dan tasyakur dalam bentuk doa, zikir bersama, santunan anak yatim dan tausiyah yang disampaikan Syekh Ali Jaber.

Lokasi utama acara peringatan akan berlangsung di Stadion Harapan Bangsa dengan tamu undangan sekitar 300 orang meliputi Forkopimda Aceh, DPR Aceh, bupati/wali kota dan beberapa pihak lain. Selain itu, juga kegiatan pemberian santunan kepada 100 anak yatim di Anjong Monmata, Komplek Pendopo Gubernur Aceh.

(aky)

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 26 Desember 2020 08:36 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 148 kali, 1 untuk hari ini)