Hura-hura Tahun Baru 2014 telah menguras dana Pemda DKI Jakarta Rp 1 Miliar. Di antaranya untuk membiayai kemusyrikan (dosa paling besar) yakni memakai jasa dukun pawang hujan. Sedang selama tahun 2013 Jokowi Habiskan Rp 46 Miliar untuk Pesta

Kemudian disusul musibah banjir dua hari. Kerugian akibat banjir di Jakarta, Ahad-Senin 12-13 Januari 2014 sebesar Rp 7 Triliun.

Adakah mereka mengambil pelajaran ?

Untuk mengendalikan banjir di Jakarta. Pemprov DKI menyiapkan dana Rp 20 miliar untuk rekayasa hujan.

Duet ”Darah Muda”Jokowi-Rhoma. PESTA KEMBANG API: Ribuan warga menyaksikan pesta kembang api malam pergantian tahun baru 2014 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu (1/1 2014) dini hari. Foto SM/Sumardi.

musibah

Jakarta — Hujan yang mengguyur wilayah Jabodetabek sepanjang hari Ahad (12/01 2014) menyebabkan banjir dan genangan air di berbagai lokasi. – depoknews.com | Monday, 13/1/14 , 08:20 WIB

Kerugian dan kerusakan akibat banjir di Jakarta pada 2007 sebesar Rp3,8 triliun. Sedangkan banjir dua hari lalu (12-13/1 2014) menyebabkan kerugian Rp7 triliun. Kerugian dan kerusakan tersebut meliputi perumahan dan permukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial budaya, dan lintas sektor, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat konferensi pers Pembukaan Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Banjir Jakarta di Gedung Suma II Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah (14/1  2014).

Perlu diketahui, seperti telah diberitakan sebelumnya, di malam tahun baru 2014  Gubernur DKI Jakarta Jokowi diarak dari Balaikota, Monas, sampai Bunderan HI, ikut menyanyi bersama dengan Oma Irama. Jokowi membangun panggung  di Monas, sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman. Begitu meriahnya. Rakyat dari berbagai pelosok Jakarta, pergi ke tempat hiburan  yang sudah disediakan oleh Jokowi. Untuk seluruh rangkaian acara itu menghamburkan duit Rp 1 miliar. Hingga selama tahun 2013 Jokowi Habiskan Rp 46 Miliar untuk Pesta.https://www.nahimunkar.org/jokowi-habiskan-rp-46-miliar-untuk-pesta/

Pada malam tahun baru itu Rakyat berpesta. Tak ada kesedihan. Semua mereka tertawa. Optimis menyambut malam tahun baru 2014.

Namun, segala kegembiraan pupus, saat rakyat bangun pagi, saat matahari terbit, dan tahun sudah berganti menjadi 2014. Bukan lagi kegembiraan membersit di wajah mereka. Rakyat menjadi muram.

Kemeriahan dan kegembiraan di pesta menyambut tahun baru bersama dengan Jokowi, tak bersisa lagi. Ribuan rumah terendam banjir. Tanpa bisa menghindar dari banjir. Rakyat pasrah dengan wajah pias. Menghadapi banjir.

Tertawa, kegembiraan, pesta kembang api, petasan, terompet, joget dangdut, dan segala  bentuk kemeriahan, tak ada artinya lagi. Di mana-mana hanyalah kemurungan. Sekarang, Pemprov DKI Jakarta, mengeluarkan anggaran Rp 20 miliar ingin menghentikan atau mengalihkan hujan. Semuanya hanya kesia-siaan belaka.

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16) وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا} [الإسراء: 16، 17]

  1. dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
  2. dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. dan cukuplah Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha melihat dosa hamba-hamba-Nya. (QS Al-Israa’/ 17: 16-17).

Inilah sorotan tajamnya.

***

Jokowi Seperti SBY Awali Pemerintahan Dengan Berbagai Musibah

JAKARTA (voa-islam.com) – Masih ingat menjelang malam tahun baru 2014? Kemeriahan. Kembang api. Petasan. Pesta menyambut malam tahun baru. Semalam suntuk. Hotel-hotel penuh   dengan pengunjung dan pesta menyambut tahun baru.

Semua orang bergembira dengan datangnya tahun baru 2014. Laki-perempuan, tua-muda, tumplek memenuhi tempat-tempat keramaian yang menjadi pusat menyambut datangnya pergantian tahun baru. Belum lagi mereka yang menggunakan kenderaan berkeliling ke setiap sudut kota.

Gubernur DKI Jakarta Jokowi diarak dari Balaikota, Monas, sampai Bunderan HI, ikut menyanyi bersama dengan Oma Irama. Jokowi membangun panggung  di Monas, sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman. Begitu meriahnya. Rakyat dari berbagai pelosok Jakarta, pergi ke tempat hiburan  yang sudah disediakan oleh Jokowi. Rakyat berpesta. Tak ada kesedihan. Semua mereka tertawa. Optimis menyambut 2014.

Begitulah Jokowi. Begitulah rakyat DKI Jakarta. Cara mereka menyambut tahun baru. Dengan hura-hura. Pesta kembang api. Membakar petasan. Bernyanyi di hotel-hotel dengan para penyanyi.  Hilir mudik dengan kenderaan. Semalam suntuk. Apalagi di Ancol. Begitu luar biasanya antusiasme rakyat bergembira dengan berbagai atraksi mereka lakukan.

Namun, segala kegembiraan pupus, saat rakyat bangun pagi, saat matahari terbit, dan tahun sudah berganti menjadi 2014. Bukan lagi kegembiraan membersit di wajah mereka. Rakyat menjadi muram. Menghadapi kehidupan mereka. Seperti pupus semua optimisme saat menghadapi kehidupan di awal tahun 2014.

Pagi-pagi rakyat sudah dihentak dengan kenaikan harga Elpiji. Harga Elpiji 12 kg dari Rp 85 ribu rupiah, berubah menjadi Rp 140 ribu rupiah. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Rakyat tidak pernah mengerti semua itu. Mengapa hidup mereka tidak menjadi lebih baik, dan harga-harga kebutuhan pokok menjadi lebih murah?

Sekarang rakyat di DKI Jakarta kembali menghadapi musibah banjir. Ribuan rakyat di DKI Jakarta mengungsi di tempat-tempat yang lebih aman. Sedih. Kemeriahan dan kegembiraan di pesta menyambut tahun baru bersama dengan Jokowi, tak bersisa lagi. Ribuan rumah terendam banjir. Tanpa bisa menghindar dari banjir. Rakyat pasrah dengan wajah pias. Menghadapi banjir.

Tertawa, kegembiraan, pesta kembang api, petasan, terompet, joget dangdut, dan segala  bentuk kemeriahan, tak ada artinya lagi. Di mana-mana hanyalah kemurungan. Sekarang, Pemprov DKI Jakarta, mengeluarkan anggaran Rp 20 miliar ingin menghentikan atau mengalihkan hujan. Semuanya hanya kesia-siaan belaka.

Adakah ini sudah cukup menjadi pelajaran? Kemeriahan, kegembiraan, pesta kembang api, petasan, dan segala bentuk hura-hura, segalanya berakhir.

Adakah ini menjadi pelajaran bagi Jokowi dan rakyat DKI Jakarta.

 Bukan kemeriahan dengan berbagai bentuk kemaksiatan. Mestinya terus meningkatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, Rabbul ‘Alamin.

Di mana-mana musibah. Banjir, gunung meletus, kecelakaan, mati dengan sia-sia, di Mojokerto, puluhan anak muda, mati karena minum minuman keras (cukrik). Semua terjadi di penghujung di tahun 2014. Ambillah pelajaran dari semua peristiwa ini, dan hikmahnya. Tidak lagi melakukan hal-hal yang sia-sia dan melampui batas.

Tahun sebelumnya, Jakarta telah tenggelam, banjir sampai ke Istana Negara, Bunderan HI, yang pernah menjadi ajang pesta pora terendam banjir. Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Nasib Jokowi seperti SBY yang mengawali pemerintahan dengan musibah.

Saat SBY berkuasa, Desember 2004, terjadi tsunami di Aceh, dan meluluhlantakkan kota Banda Aceh. Akibat sejumlah orang melakukan pesta Natal di pantai Banda Aceh.

Sekarang, di Banda Aceh, tak ada pesta kembang api, terompet, pawai kenderaan keliling kota menyambut natal dan tahun baru. Semuanya dilarang oleh ulama dan pemerintah kota. Malam tahun baru 2014, di Banda Aceh sepi, tentram, dan bangun pagi dengan indah. af/hh- voa-islam.com,  Rabu, 14 Rabiul Awwal 1435 H / 15 Januari 2014 20:33 wib

***

{أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ (45) أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ (46) أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَى تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ } [النحل: 45 – 47]

  1. Maka Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,
  2. atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu),
  3. atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa) dalam keadaan takut. maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS An-Nahl/ 16: 45-47).

by nahimunkar.com/Jan 16 th, 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.094 kali, 1 untuk hari ini)