Ilustrasi Hidayatullah.com


Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Terbunuhnya Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘Anhu tidak lepas dari konspirasi sisa-sisa kekuatan imperium Persia. Hal ini tidak lepas dari runtuhnya kerajaan Persia di era kepemimpinan Amirul Mukminin. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebencian terhadap demikian mendalam karena kerajaan yang mereka banggakan hancur berantakan. Oleh karena itu, kesempatan untuk melampiaskan dendam kesumat itu terwujud dengan adanya konspirasi antara Hurmuzan, mantan jenderal Persia, dan Abu Lu’luah sebagai eksekutor lapangan. Dugaan kerjasama antara Hurmuzan dan Abu Lu’luah dalam pembunuhan Umar Radhiallahu ‘Anhu itulah yang menggerakkan Ubaidullah bin Umar untuk menghabisi pembunuh ayahnya.

Hurmuzan dan Keislamannya

Awal munculnya Hurmuzan ketika dia tertangkap pasukan Islam saat perang tentara Persia. Kemudian dia ingin bertemu langsung dengan khalifah Islam guna memperolah jaminan keamanan. Hurmuzan membayangkan untuk bertemu Umar harus melewati penjaga-penjaga yang kuat dan benteng-benteng yang kokoh. Namun dia begitu heran ketika bertemu Umar Radhiallahu ‘Anhu yang penuh kesederhanaan karena tanpa pengawalan dan benteng yang kokoh.

Setelah bertemu, maka terjadi dialog antara Umar dan Hurmuzan. Hurmuzan demikian ketakutan dan khawatir dibunuh Umar Radhiallahu ‘Anhu, hingga dia meminta air. Hurmuzan tidak segera meminumnya karena khawatir dibunuh sebelum minum, sehingga dia meminta jaminan agar bisa minum. Ketika diberikan kesempatan minum, Hurmuzan justru membuang minuman itu. Sehingga hampir membuat Umar Radhiallahu ‘Anhu marah dan ingin membunuhnya. Namun dicegah oleh sahabat Anas bin Malik. Akhirnya Hurmuzan  menyatakan butuh keselamatan dari Umar . Pada akhirnya Umar menyarankan Hurmuzan untuk masuk Islam, dan dia menerimanya. Sehingga  Hurmuzan bisa hidup tenang di tengah-tengah kaum muslimin.

Dalam keadaan yang tenang itu, muncul tragedi pembunuhan Umar di waktu shalat subuh sehingga mengakhiri hidup Umar. Setelah peristiwa pembunuhan Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar meminta untuk mengecek sanjar (pisau) yang dipergunakan oleh Abu Lu’luah saat membunuh Umar. Abdurrahan bin Abu Bakar menjelaskan ciri-ciri sanjar tersebut secara terperinci, dan setelah dicek sanjar itu, ternyata benar bahwa sanjar itu sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan putra Abu Bakar itu. Dia kemudian menjelaskan bahwa sehari sebelum peristiwa pembunuhan Umar, dia memergoki Hurmuzan, Abu Lu’luah, dan Jufainah (Nasrani). Dan pada saat itu sanjar terjatuh persis seperti ciri-ciri yang dipergunakan untuk membunuh Umar. Setelah itu mereka bubar dan menghilang.

Setelah memperoleh penjelasan itu, maka Ubaidullah bin Umar langsung berangkat ke kerumah Hurmuzan dan langsung membunuhnya. Setelah itu dia mendatangi Jufainah dan membunuhnya juga. Pasca pembunuhan Hurmuzan dan Jufainah itu, para sahabat menghadapi problem besar antara mengqishash Ubaidullah atau tidak. Ada yang berpendapat untuk membunuh, dan ada pula yang ingin membiarkan dengan alasan kemanusiaan. Alasannya, apakah pantas seorang anak dibunuh setelah ayahnya terbunuh kemarin. Amr bin Ash Radhiallahu ‘Anhu menasehati Utsman, saat terpilih menjadi khalifah, menyarankan untuk membiarkannya. Karena perkara ini terjadi sebelum kepemimpinannya. Sehingga akhirnya Utsman membiarkannya, dan membayar diyat dan membebaskan Ubaidullah.

Apa yang dilakukan oleh Utsman Radhiallahu ‘Anhu dianggap memiliki dasar yang kuat. Kasus seperti Ubaidullah ini mirip dengan apa yang menimpa Usamah bin Zaid yang pernah membunuh orang yang sudah mengucapkan kalimat tauhid (Laa ilaha Illallah) ketika perang. Saat itu, Usamah mengejar salah seorang pasukan musuh untuk dibunuh. Ketika dekat, orang tu mengucapkan Laa ilaha Illlallah. Namun Usamah tetap membunuhnya. Mendengar laporan itu, maka Nabi marah dan memanggil Usamah bin Zaid. Ketika Usamah menyampaikan argumen bahwa orang itu mengucapkan kalimat itu karena takut dibunuh. Maka Nabi Shallahhu ‘Alaihi Wasallam mengatakan “Apakah kamu telah membelah dadanya ?” Nabi Shallahhu ‘Alaihi Wasallam marah tetapi tidak mengqishash Usamah bin Zaid.

Inilah salah satu dasar khalifah Utsman tidak membunuh Ubaidullah karena Nabi Shallahhu ‘Alaihi Wasallam juga tidak membunuh Usamah bin Zaid sebagaimana kasus di atas. Tidak dipungkiri bahwa dendam terhadap Umar sangat jelas karena telah menjatuhkan imperium Persia sehingga mendorong warga Persia untuk melakukan balas dendam untuk membunuh Umar. Sementara apa yang dilakukan oleh Ubaidullah didasarkan pada ganjaran yang pantas diterima oleh pembunuh khalifah, dan sebagai seorang anak pantas untuk membunuh orang tuanya.

Surabaya, 13 Pebruari 2019

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya & Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.097 kali, 2 untuk hari ini)