Kaca masjid yang pecah dirusak gerombolan pemuda di Bali , Sabtu (5/12/2015)

Di Bali, gerombolan pemuda merusak sejumlah masjid

Provokasi terhadap Ummat Islam Masih Berlanjut di Bali

MUI Bali: Polisi Harus Profesional Atasi Kasus Penyerangan & Perusakan Masjid di Bali

Inilah beritanya.

***

ICMI: Penyerangan & Perusakan Masjid di Bali Murni SARA

JAKARTA– Penyerangan terhadap tempat ibadah umat Islam kembali terulang di Indonesia yang penduduknya memeluk agama Islam terbesar sedunia. Belum hilang dari benak kita penyerangan yang dilakukan oleh kafir Nasrani terhadap Masjid Baitul Muttaqin Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua, disaat umat Islam hendak melaksanakan sholat Idul Fitri.

Kini penyerangan terhadap tempat ibadah umat Islam kembali terjadi di Bali yang umat Islamnya minoritas. Banyak kalangan yang menyayangkan terjadinya penyerangan tersebut dan menuntut pihak kepolisian menangkap pelaku penyerangan.

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) asal Bali Kadek Kim Alan Moestaqiem Dahlan al Bali mengatakan perusakan masjid di Jimbaran dan Nusa Dua bukan sekedar tindakan kriminal. Tindakan mereka dengan menyerang dan merusak masjid adalah murni tindakan yang bersifat suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

“Apa namanya jika kaca masjid dipecahkan, karpet diinjak-injak oleh puluhan orang kalau bukan SARA?”, ujarnya pada hari Senin (7/12/2015).

Dahlan mengatakan jika murni kasus kriminal biasanya hanya ditangani oleh pihak kepolisian saja. Tetapi kini, Komandan Kodim juga turun untuk melakukan penyelidikan kasus tersebut. Perusakan dan penyerangan masjid merupakan bukti adanya intimidasi umat Muslim di Bali.

Seharusnya pemerintah ikut turun tangan juga terkait masalah ini karena sudah meresahkan umat Islam yang ada di sana. Mereka harus beraktivitas dengan tidak nyaman, baik bersekolah maupun bekerja, tambahnya.

Menurut dia, sebelum kejadian penyerangan di Masjid Jami Abdurrahman, Jimbaran, sempat terjadi tindakan provokasi yang sama di kawasan Candi Kuning. Polres Tabanan segera turun tangan dan kedua belah pihak saling meminta maaf.

Namun, selang empat hari dari peristiwa itu terjadilah penyerangan yang mengakibatkan suasana menjadi mencekam. [AN/dbs] (Manjanik.com) December 7, 2015

***

Di Bali, gerombolan pemuda merusak sejumlah masjid

A.Z. Muttaqin, Senin, 24 Safar 1437 H / 7 Desember 2015 08:07

KUTA (Arrahmah.com) – Jelang Pilkada serentak, 9 Desember mendatang, segerombolan pemuda merusak sejumlah masjid di Bali, yakni Masjid Jami Abdurrahman Bin Auf di Kuta, Masjid Baitul Mustaqim dan Masjid Al Hidayah di kawasan Jimbaran.

Masjid Jami Abdurrahman Bin Auf Yayasan Baitul Ummah di Taman Grya Jimbaran, Kuta, Badung, Bali, dirusak dan kotrak amalnya dicuri, Sabtu (5/12/2015) dini hari .

Akibatnya, fasilitas masjid seperti kaca pintu dan karpet rusak serta uang dalam kotak amal sebanyak Rp 300 ribu raib.

Menurut penjaga masjid, Sugiono, kejadian tersebut diketahui saat ia memasuki masjid pada pukul 03.00 untuk shalat subuh. Sugiono terkejut melihat keadaan masjid yang berantakan. Kejadian itu langsung dilaporkan kepada Takmir Masjid, Haji Muhammad Fauzi, lapor Jurnaislam.com.

Kejadian serupa, menurut Haji Fauzi, menimpa sejumlah masjid Bali. Sebelumnya, pencurian dan perusakan terjadi di Masjid Baitul Mustaqim dan Masjid Al Hidayah di kawasan Jimbaran.

“Kejadian tadi malam adalah keempat kalinya, sebenarnya isi kotak amal sudah kami ambil hari jumat siang sehingga kami perkirakan hanya sekitar Rp 300 ribu saja yang dibawa pelaku,” kata sekretaris MUI Badung itu, lansir Jurnaislam.com

kotak amal masjid

Kotak amal masjid yang dirusak dan diambil isinya

Merespon kejadian tersebut, sejumlah ulama, kepala lingkungan dan aparat kemudian menggelar pertemuan di masjid Abdurrahman bin Auf, Sabtu (5/12/2015) siang.

Dalam pertemuan itu, Kapolsek Bualu, Kompol I Wayan Latra mengatakan, kejadian tersebut dilakukan oleh sekitar 10 orang dan kejahatan murni.

“Kejadian ini murni pencurian disertai pengrusakan yang dilakukan orang tidak dikenal berjumlah kurang lebih 10 orang. Dengan bukti kotak amal yang dibawa keluar serta kaca pintu mesjid pecah karena dipaksa oleh orang tersebut. Jadi ini tidak ada indikasi lain,” jelasnya.

I Wayan menegaskan, pihaknya akan melakukan pengusutan lebih lanjut. “Mohon pihak lain agar menyampaikan hal ini tidak secara berbeda,” katanya.

Sementara itu Kelian Adat Banjar Anjar Swara, Ketut Rene mengungkapkan hubungan umat beragama di daerahnya harmonis.

“Kami disini bersama umat muslim, hindu dan umat lain hubungan sangat baik dan harmonis, saling menghormati satu sama lain. Kami juga sering melaksanakan pertemuan baik di Banjar maupun di Masjid dalam rangka silaturahmi,” jelasnya.

“Saling menghormati sesama umat beragama dan sejauh ini kami tidak ada permasalahan apa apa disini,” kata Kelian Dinas, Bapak Sudine menyambut pernyataan Ketut Rene.

Tanggapan juga disampaikan ketua MUI Badung, H Soim. Beliau mengajak umat Islam untuk merapatkan barisan dan meredam pemberitaan yang tidak benar.

“Ini bukan kasus SARA atau apapun, ini cuma pencurian. Kita sebagai jemaah merapatkan barisan kita dan harus bisa meredam jangan sampai berita yang tidak benar menyebar kemana-mana,” tuturnya.

Sementara Kapolsek Kuta Selatan Kompol Made Mundra mengatakan, selain mencuri para pelaku juga merusak kaca masjid dan menginjak-injak karpet di dalamnya.

“Kejadian ini pada dini hari. Mereka mencuri dengan cara merusak kaca masjid, kami perkirakan pelaku ada 10 orang. Diperkirakan isi kotak amalnya ada uang sekira Rp300 ribu,” kata Kapolsek Kuta, dikutip dari Okezone Senin (7/12/2015).

Mundra menambahkan, saat lokasi diperiksa polisi, di masjid itu ada batu berserakan. Polisi kini mendalami kasus tersebut.

“Kami sedang mendalami kasus ini. Peristiwa ini murni percobaan pencurian dengan melakukan pengerusakan,” katanya. (azm/arrahmah.com)

***

 bali

 Berita Terkait

Rabu, 28 Safar 1437 H / 9 Desember 2015 07:03 wib

Provokasi terhadap Ummat Islam Masih Berlanjut di Bali

BALI (voa-islam.com) – Pasca penyerangan yang menistakan dan merusak 4 masjid di Bali, ummat Islam Bali masih diteror dengan beragam provokasi.

Selasa, 8 Desember 2015 hal ini disaksikan langsung oleh “tim Investigasi Relawan Misionaris Islam (RMI)”, yang dikirim ke Bali untuk menyelidiki “kasus penyerangan yang menistakan dan merusak empat masjid di Bali”.

Di sebuah mushola dekat bandara Ngurah Rai, tim RMI melihat seorang laki-laki tanpa mengenakan baju dan badan penuh tato pura-pura tidur di shaf pertama. Dari aromanya, tercium bau minuman keras. Tim juga melihat kaki laki-laki ini kotor. Ia sengaja berbuat demikian untuk menghalangi ummat Islam melaksanakan sholat berjamaah. (sebagaimana foto terlampir).

Menurut pihak keamanan yang sedang bertugas, hal ini baru pertama sekali terjadi. Laki-laki tersebut juga tidak dikenal di lingkungan tersebut.

Dari kejadian ini dan rentetan peristiwa pengrusakan 4 masjid sebelumnya, kita belum mengetahui siapa yang mendapat keuntungan dari pertikaian antar ummat Islam dengan ummat Hindu di Bali. [riafariana/RMI/voa-islam.com]

***

MUI Bali: Polisi Harus Profesional Atasi Kasus Penyerangan & Perusakan Masjid di Bali

December 8, 2015

JAKARTA (Manjanik.com) – Penyerangan Masjid Jami Abdurrahman bin Auf di Jimbaran telah diambil alih oleh Polsek Bualu, Kuta Selatan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali berharap aparat kepolisian dapat transparan dan profesional menangani kasus penyerangan dan pengrusakan masjid yang diklaim polisi murni kasus pencurian tersebut. (Baca: ICMI: Penyerangan & Perusakan Masjid di Bali Murni SARA)

“Tentu kita berharap polisi tetap profesional dan transparan atas kasus pengrusakan masjid di Jimbaran yang sudah terjadi beberapa kalinya ini,” kata Ketua MUI Bali, Taufik As’Adi, pada Selasa (8/12/2015).

Setelah kejadian penyerangan Masjid Jami Abdurrahman bin Auf di Jimbaran, MUI Bali pun telah meminta MUI Kabupaten Badung untuk segera melakukan investigasi terhadap kasus ini. Hal ini menurutnya penting sebagai masukan untuk MUI terkait kasus umat beragama di Bali.

Diakui dia, memang ada kecenderungan beberapa pihak yang terus ingin membuat ketidakakuran hubungan Muslim dan umat beragama lain di Bali. Namun ia yakin Muslim dan umat Hindu di Bali tidak mudah terpancing oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan ketidakharmonisan di Bali.

Sebelumnya, pada Sabtu (5/12/2015) lalu pukul 03.00 WIB dinihari Masjid Jami Abdurrahman bin Auf milik Yayasan Baitul Umah di Kelurahan Jimbaran, Kuta Selatan Kabupaten Badung dirusak oleh orang yang tidak dikenal. Kaca di pintu masjid rusak dan kotak amal masjid hilang dicuri. [AN/ROL]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.469 kali, 1 untuk hari ini)