Dalil yang dimaksud ialah Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijmaa’ (kesepakatan para Ulama utamanya para Shahabat Nabi). Sedangkan taqlid ialah mengikuti orang lain yang perkataannya bukan hujjah, sekalipun bersumber dari seorang Ulama.

Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

يُوشكُ أن تَنزلَ عليكم حجارةٌ من السماء ، أقولُ قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم ، وتقولونَ قالَ أبو بكرٍ وعمر

“Hampir-hampir batu turun dari langit menghujani kalian, aku sampaikan Rasulullah bersabda, kalian malah menimpali Abu Bakr dan ‘Umar berkata!”
(Riwayat Ahmad no. 3121, Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih” 2/196)

Al-Imam Abu Haniifah (Wafat 150 H):

إذا قلت قولاً يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي

“Jika aku berkata tentang suatu pendapat yang menyelisihi Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku itu.”
(Riwayat Al-Imam Al-Fullaani dalam “Iqaazhul Himam Uulil Abshaar” hal. 50)

Al-Imam Maalik bin Anas (wafat 179 H):

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Aku hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapatku yang mencocoki dalil Al-Qur’an was Sunnah, maka ambillah. Namun apabila menyelisihi dalil Al-Qur’an was Sunnah maka tinggalkanlah.”
(Riwayat Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih” 1/622, Ibnu Hazm dalam Ushuulul Ahkaam 6/149)

Al-Imam Asy-Syaafi’i (wafat 204 H):

كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني

“Setiap dari pendapatku, kemudian ada riwayat shahih dari Nabi menyelisihi pendapatku itu, maka hadits Nabi lebih pantas didahulukan. Janganlah kalian bertaqlid kepadaku.”
(Riwayat Ibnu Abi Haatim dalam Adab Asy-Syaafi’i hal. 93 & Ibnul Qayyim dalam I’laamul Muwaqqi’in 4/45)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H):

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula taqlid kepada Maalik, Asy-Syaafi’i, Al-Auzaa’i dan Ats-Tsauri, tetapi ambillah darimana mereka mengambilnya (yakni lihat dalilnya).”
(Riwayat Al-Imam Al-Fullaani dalam “Iqaadzhul Himam Uulil Abshaar” hal. 113)

Maka menjadi suatu kepastian bagi kita, bahwa beragama di dalam Islam haruslah didasari dalil yang bersumber dari Al-Qur’an was Sunnah, ini yang disebut ittibaa’, meskipun untuk memahami keduanya tetap melalui bimbingan para Ulama juga. Setiap ada Ulama yang berfatwa atau berpendapat tentang suatu masalah menyelisihi dalil, pasti akan bangkit Ulama lainnya yang mengoreksi fatwa tersebut dengan landasan dalil disertai keterangan para Ulama pula. Jadi jangan ragu untuk mengatakan, jika hadits itu shahih maka itulah madzhabku.

Syaikh Muqbil bin Haadi Al-Waadi’i menasehatkan, “Sesungguhnya kita mencintai Ulama dengan kecintaan yang syar’i. Kita tidak taqlid dan tidak pula fanatik kepada perseorangan di antara mereka. Allah berfirman, “Ikutilah wahyu yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian. Dan janganlah kalian mengikuti pelindung-pelindung selain Allah. Amatlah sedikit apa yang kalian ingat.”
(Al-Ajwibatul ‘Ilmiyyah ‘alal As’ilah Al-Wushaabiyyah)

Maka ikutilah dalil bila telah nampak dalam suatu permasalahan, jangan taqlid. Begitulah sikap ilmiah dalam beragama yang diajarkan as-Salaf as-Sholih kepada kita.

Via Cinta Tauhid Benci Syirik

(nahimunkar.com)

Top of Form

(Dibaca 1.167 kali, 1 untuk hari ini)