Sebuah rumah makan yang sudah berdiri lama, tahu-tahu mau mengadakan kebijakan baru, yaitu tanpa menyediakan minum.

Setiap orang yang datang untuk makan di situ hanya disediakan makan (nasi) dengan lauk pauknya, tanpa disediakan minum sama sekali.

Setiap orang yang makan bertanya, manaminumnya Pak?

Dijawab, di sini ini rumah makan, Pak. Jadi hanya khusus menyediakan makan. Tidak menyediakan minum. Namun bukan berarti Bapak atau siapa saja yang makan di sini tidak dapat minum. Kami rumah makan ini sudah berkomitmen kerjasama dengan yang namanya warung kopi, warung wedangan angkringan, wedang ronde, beras kencur, bahkan warung kopi luak segala. Jadi siapa saja yang makan di rumah makan ini bisa memesan atau kita antarkan ke warung-warung minum itu, nanti untuk minum di sini, karena makannya di sini.

Weleh, kok ribet amat?

Bukannya ribet, Pak. Ini kan demi profesionalitas masa kini. Lihat tulisan itu. Ini kan jelas tertulis “Rumah Makan”.

Jadi ya tidak usah menyediakan minum, hanya menyediakan makan.

Lhah, Pelayan… kamu ini bisa begitu ini karepe sopo? (Kemauan siapa)?

Ya kemauan tuan rumah makan ini, Pak. Masa’ saya harus tidak menjalankannya.

Lha kamu kok pinter banget menguraikannya seperti itu…

Ya dong Pak, ini kan sesuai dengan latar belakang pendidikan saya yang dipandegani oleh orang yang dikabarkan katanya nanti tidak meyediakan pendidikan agama, karena sudah dicukupkan dengan kerjasama dengan masjid, TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), pure, gereja, klenteng dan semacamnya. Jadi ya beginilah… rumah makan ini tidak akan menyediakan minum. Silakan bisa kami antar ke warung kopi dan sebagainya untuk pesan, nanti bisa diminum di sini, sekalian kwitansinya nanti dibikin di sini. Jelas, kan Pak?

Ya, jelas… tapi saya tidak usah makan di sini lagi ya… dan nanti rekan-rekan saya juga akan saya bilangin, tidak usah ke sini… dagh…

/gambar diambil dari mbaratkj

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.046 kali, 1 untuk hari ini)