Ilustrasi: Peresmian Pusat Bible di Jakarta. Nasaruddin Umar waktu jadi Wamenag menggunting untaian bunga peresmian gedung Pusat Alkitab (Bible Center), di Jakarta, Kamis (9/2 2012). /foto kemenag.go.id


Prof KH Dr Nasaruddin Umar (IST) Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar salah membela doktrin Trinitas Kristen dengan mengatakan tak masalahkan dengan sila Pertama Pancasila.

“Sebagai tokoh agama Islam, tidak perlu memberikan tafsir agama lain terhadap sila Pancasila. Itu urusan Kristen. Sebuah kesalahan Nasaruddin Umar,” kata pemikir Islam, Muhammad Ibnu Masduki kepada suaranasional, Selasa (10/10).

Kata Ibnu Masduki, pernyataan Nasaruddin itu secara tidak langsung mengakui doktrin Trinitas Kristen.

“Ini masalah aqidah bahwa Tuhan itu Esa dan sudah sangat jelas dalam Al Quran dan tidak perlu banyak penafsiran,” ungkap Ibnu Masduki.

Menurut Ibnu Masduki, Nasaruddin Umar menyamakan Asmaul Husna (Nama-nama Baik) milik Allah dengan konsep Trinitas.

“Asmaul Husna itu hanya nama, bukan wujudnya Tuhan. Dari konsep ini, Nasaruddin Umar mengaburkan konsep Tuhan yang Maha Esa,” papar Ibnu Masduki. Ibnu Masduki mengatakan, cara Nasaruddin salah dalam menghormati agama Kristen. “Konsep akidah tidak bisa ditukar,” pungkas Ibnu Masduki.*/suaranasional.com

***

Allah Ta’ala telah memperingatkan dengan tegas:

{ تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [المائدة: 80، 81]

(80), Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan, (81) Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik [Al Ma”idah,80-81]

تفسير البغوي – طيبة (3/ 85)

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٌ وَالْحَسَنُ: مِنْهُمْ يَعْنِي مِنَ الْمُنَافِقِينَ يَتَوَلَّوْنَ الْيَهُودَ

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Kata Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Al-Hasan: مِنْهُمْ يَعْنِي مِنَ الْمُنَافِقِينَ يَتَوَلَّوْنَ الْيَهُودَ kebanyakan dari mereka yaitu dari orang-orang munafik yang tolong-menolong dengan orang-orang Yahudi. (Tafsir Al-Baghawi cetakan Thibah 3/85).

Tolong menolong dengan yang kafir saja sudah diancam, akan kekal dalam siksaan. Lantas, kalau menyamakan ketuhanan mereka yang sudah diubah, tidak lagi Tauhid seperti yang dibawakan Nabi mereka, disamakan dengan tauhid dalam Islam yang masih murni, akan seperti apa adzabnya. Ini yang harus benar-benar direnungkan!

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.317 kali, 1 untuk hari ini)