In memoriam

RBS

Rachmat Basuki Soeropranoto

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun…

  • Penulis beberapa buku diantaranya berjudul KASUS PELEDAKAN BCA 1984: Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia.
  • Selain bersahabat dengan Abdul Qadir Jaelani, RBS juga bersahabat dengan HM Dachlan perjuang ’45 asal Bekasi. Sosok HM Dachlan bagi RBS adalah panutan. Sikap hormat RBS diwujudkan dalam bentuk menyediakan halaman khusus bagi HM Dachlan menuangkan pengalaman kejuangannya pada buku berjudul Kasus Peledakan BCA 1984 tadi, khususnya di Bab 16 dengan judul HIDUP DIBAWAH KEKUASAAN KONGSI TUAN TANAH CINA.
  • Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, tidak mungkin tercapai tanpa menyelesaikan fakta dominasi ekonomi Etnik Cina tersebut…

KULLU nafsin dzaaiqatul maut, setiap yang bernyawa akan merasakan mati (3:185). Ketentuan Allah ini berlaku bagi siapa saja termasuk bagi sosok bernama Rachmat Basuki Soeropranoto alias RBS, yang dikenal publik sebagai pelaku peledakan BCA di tahun 1984.

RBS kelahiran Jakarta, 19 April 1942, meninggal dunia pada tanggal 29 April 2013, dalam usia 71 tahun. Sebelumnya, almarhum sempat dirawat di RS Fatmawati selama tiga hari akibat serangan stroke yang kesekian kalinya. Namun, Senin dini hari sekitar jam 02:00 wib beliau menghembuskan nafas terkahirnya.

Sebelum dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, jenazah dimandikan oleh putra-putri beliau, Arief dan Fajar serta Melati, kemudian dikafani dan dishalatkan ba’da pelaksanaan shalat dzuhur berjama’ah di masjid terdekat.

Sosok bernama asli Raden Basuki bin Raden Ambyah Soeropranoto ini pada mulanya lebih dikenal dengan panggilan Bung Bas. Namun ketika pada tahun 1978 beliau menjadi buronan aparat Orde Baru, huruf “R” di depan namanya yang semula kependekan dari Raden diganti kepanjangannya menjadi Rachmat.

Pada tahun 1978 RBS bersama Abdul Qadir Jaelani terlibat kasus “Gerakan 20 Maret 1978” menentang P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila), KNPI dan Aliran Kepercayaan yang saat itu oleh pemerintah Orde Baru dimasukkan dalam GBHN (Garis Besar Haluan Negara). Sebelum akhirnya dihukum selama 2 tahun penjara, RBS sempat menjadi mendekam dalam tahanan militer.

Sebelum mendekam di penjara (1978), RBS bekerja di BNI 1946 sejak 1961. Pada tahun 1967, RBS menikah dengan Fuadah Chusrani, sosok wanita lembut dan nrimo yang sampai akhir hayat menjadi pendamping setia RBS.

Pada tahun 1984, RBS dan kawan-kawan terlibat kasus peledakan BCA (Bank Central Asia), dan divonis 17 tahun penjara. Namun pada 1993 ia sudah bisa menghirup dunia bebas. Sejak bebas dari penjara Orde Baru, RBS aktif di sejumlah kegiatan seperti menjadi Sekretaris Koperasi eks Tapol/Napol Bhakti Nusa, Koordinator KSM (Komite Solidaritas Muslim) untuk pembebasan Tapol/Napol, dan Koordinator FAKtor (Front Anti Konglomerat Koruptor).

RBS juga aktif menulis. Salah satu tulisannya berjudul MERAMPOK UANG RAKYAT dipublikasikan harian Republika edisi 28 dan 29 Agustus 2000. Kepeduliannya terhadap nasib umat Islam juga terlihat jelas melalui tulisan panjangnya berjudul JANGAN LUPAKAN POSO yang hingga kini masih dipublikasikan oleh sejumlah blog pribadi.

Selain memproduksi sejumlah tulisan, RBS juga pernah menerbitkan sejumlah buku antara lain berjudul KASUS PELEDAKAN BCA 1984: Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia. Bahan utama buku tersebut adalah pleidoi (pembelaan) RBS berjudul PEMERATAAN dan PEMBAURAN untuk PERSATUAN INDONESIA yang dibacakan pada tanggal 24 April 1985 di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Selain bersahabat dengan Abdul Qadir Jaelani, RBS juga bersahabat dengan HM Dachlan perjuang ’45 asal Bekasi. Sosok HM Dachlan bagi RBS adalah panutan. Sikap hormat RBS diwujudkan dalam bentuk menyediakan halaman khusus bagi HM Dachlan menuangkan pengalaman kejuangannya pada buku berjudul Kasus Peledakan BCA 1984 tadi, khususnya di Bab 16 dengan judul HIDUP DIBAWAH KEKUASAAN KONGSI TUAN TANAH CINA.

Dalam salah satu pengantarnya, RBS mengatakan: “Masalah dominasi ekonomi Etnik Cina adalah masalah jati diri dan harga diri bangsa yang maha penting, yang harus dicarikan jalan keluar secara adil dan terhormat. Tujuan bangsa yaitu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, tidak mungkin tercapai tanpa menyelesaikan fakta dominasi ekonomi Etnik Cina tersebut…”

Sikap dan pernyataan almarhum sepertinya masih relevan hingga kini, ketika melihat kenyataan membanjirnya produk Cina di pasar Indonesia, termasuk batik, yang harganya lebih murah dari produk lokal, sehingga berpotensi mematikan pengusaha kecil dan menengah yang kebanyakan adalah kaum pribumi Muslim.

Selamat jalan Bung Bas, semoga Allah SWT sang pengampun dosa berkenan menerima amal-ibadah yang telah ditorehkan sepanjang hayat. Amiiin.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 679 kali, 1 untuk hari ini)