Ilustrasi

.

  • PDIP yang kadernya membela lokalisasi pelacuran hendaknya lebih malu

Indonesia harus malu, Negeri Islam terbesar di dunia tapi punya pusat pelacuran Dolly terbesar se-Asia Tenggara, maka Mensos dan 58 Ormas Islam mendukung penuh Walikota Surabaya untuk menutup tempat pelacuran terbesar di Surabaya itu.

Pemerintah Kota Surabaya dijadwalkan akan menutup Dolly pada tanggal 18 Juni 2014 ini, dan akan dihadiri Mensos.

Menurut Mensos Salim, Indonesia harus malu. Sebagai negara muslim terbesar, tapi punya lokalisasi terbesar pula di kawasan Asia Tenggara.
Salim geram mengatahui bahwa ada kasus anak-anak di kawasan Dolly sudah melakukan hubungan seks dengan teman sebayanya, bahkan diambil gambarnya.
Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri, mendukung penuh rencana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menutup lokalisasi Dolly.

Lebih memalukan, Tokoh PDIP membela pusat pelacuran Dolly

Walikota Surabaya, Mensos, dan 58 Ormas Islam sudah sepakat untuk ditutupnya pusat pelacuran Dolly di Surabaya. Namun yang sangat memalukan, tokoh PDIP yang jadi wakil walikota Surabaya, justru membela tempat pelacuran itu.

Menurut berita 13 Mei 2014, secara tegas Wawalikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, yang juga Ketua DPC PDIP Surabaya, menyatakan dirinya bersama kader akan siap berada di posisi warga sekitar Dolly yang terdampak.

Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana (WSB) rupanya tidak main-main atas pernyataannya yang akan membela warga sekitar lokalisasi Dolly, jika pemkot Surabaya benar-benar akan melakukan penutupan pada 19 Juni 2014, karena himbauan penundaan yang dilontarkannya merupakan keputusan partai.

“Soal Dolly adalah prinsip, karena menyangkut hajat orang banyak, maka sikap saya dan partai (PDIP-red) tegas agar pemkot Surabaya terlebih dahulu mengajak bicara warga kota Surabaya asli yang terdampak, karena PSK dan Mucikari disana seratus persen bukan warga kota Surabaya,” ucap WSB.

Ditanya apakah hal itu berarti seluruh kader PDIP kota Surabaya akan turut terjunkan untuk membantu warga sekitar Dolly, Whisnu mengaku bahwa melakukan pembelaan kepada masyarakat merupakan program partai yang multak harus dijalankan kader.

“Itu sudah jelas, karena merupakan program partai yang harus dilaksanakan,” tegas putra Ir. Soetjipto (alm) ini.

Whisnu juga menyatakan dirinya bersama kader partai akan siap berada di barisan warga kota Surabaya sekitar lokalisasi gang Dolly yang terdampak, jika pemkot Surabaya memaksakan program penutupannya pada 19 Juni mendatang, tulis http://kabargress.com.

Upaya mempertahankan tempat pelacuran dan membelanya itu jelas merupakan tingkah kaum munafik menurut ajaran Islam (QS 9: 67) yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia. Terhadap orang-orang munafik yang justru membela kemaksitan seperti itu, dalam Islam tidak boleh disikapi dengan lunak, tetapi harus dengan keras.

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ } [التوبة: 73]

73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS At-Taubah: 73).

Kalau mereka beralasan bahwa negeri ini bukan negeri Islam, maka tanyakan kepada mereka, apakah negeri ini negeri pelacur, hingga kalian membela pelacuran, bahkan sampai mengancam akan mengerahkan kader partai PDIP karena menjadi programnya?

Tentang akan ditutupnya Dolly, inilah beritanya.

***

Mensos: Indonesia Patut Malu Punya Dolly

MENTERI Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri, mendukung penuh rencana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menutup lokalisasi Dolly. Menurut Salim, Indonesia harus malu. Sebagai negara muslim terbesar, tapi punya lokalisasi terbesar pula di kawasan Asia Tenggara.

Apalagi, Dolly sedianya adalah kawasan pemukiman di mana terdapat anak-anak yang punya hak tumbuh kembang di tempat yang sehat. Salim geram mengatahui bahwa ada kasus anak-anak di kawasan Dolly sudah melakukan hubungan seks dengan teman sebayanya, bahkan diambil gambarnya.

“Kita harus malu sebagai bangsa agamis tapi punya lokalisasi terbesar,” kata Salim, Senin (2/6), usai bertemu dengan Risma di Kementerian Sosial, Jakarta.

Bahkan, Tiongkok sebagai negara komunis, menurut Salim, tak punya lokalisasi sebesar Dolly. Ia menegaskan, alasan kemiskinan tidak bisa dijadikan alasan pembenar untuk membiarkan Dolly tetap beroperasi.

“Itu bukan zona ramah bagi anak, itu adalah kawasan pemukiman,” kata Salim.

Karena itu, berdasarkan kajian yang sudah dilakukan sejak 2010, Dolly, menurut Salin, memang sudah sepantasnya untuk ditutup.

Sebagai salah satu bentuk dukungan, Kementerian Sosial menyiapkan dana sebesar Rp8 miliar. Dana ini akan dipakai untuk memberi santunan dan modal kerja bagi para Pekerja Seks Komersil (PSK) yang selama ini menggantungkan hidupnya di lokalisasi ini. Bantuan yang akan diberikan terdiri dari jaminan hidup selama 3 bulan sebesar Rp20 ribu per hari, transportasi menuju daerah asal Rp250 ribu, dan bantuan modal kerja sebesar Rp3 juta.

Jumlah ini, dinilai Salim, cukup selama dilakukan pendampingan sehingga para PSK bisa mencari nafkah melalui cara lain pasca penutupan Dolly.

Pemerintah Kota Surabaya dijadwalkan mulai akan menutup Dolly pada tanggal 18 Juni 2014 ini. Pro kontra memang masih ada, namun Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku, tetap akan menutup kawasan itu.

“Itu illegal, menyalahi izin,” kata Risma.

Gang Dolly, menurut Risma, harus dikembalikan sesuai dengan peruntukannya yakni sebagai pemukiman warga. Di Dolly, Risma berencana membangun taman sebagai arena sosial warga serta fasilitas umum lainnya, seperti lapagan futsal.

“Saya berharap ya jadi pemukiman biasa saja yang ada fasilitas publiknya,” ujar Risma. (*)Reporter : Suriyanto     Redaktur : Arjuna Al Ichsan

Jurnas.com | Senin, 02 Juni 2014 , 18:48:51 WIB

***

58 Ormas Islam dukung Risma Tutup Pelacuran Dolly

Jumat, 16 Mei 2014 (10:25 am) / Nasional

Dukungan kepada Pemerintah Kota Surabaya terkait penutupan lokalisasi Dolly-Jarak, terus mengalir. Tanpa diminta, 58 ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu Jawa Timur (GUIB) siap pasang badan. Lembaga yang berada di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menyatakan dukungannya kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di ruang kerjanya, Rabu (14/5/2014).

Koordinator GUIB Jatim H. Abdurrachman Azis mendukung sepenuhnya agar pemkot tetap menutup tempat-tempat prostitusi, khususnya Dolly. “Kami doakan Bu Wali diberi kemudahan sehingga bisa ditutup sesuai rencana semula, 19 Juni,” ucapnya.

Tak kalah semangat, Sekretaris GUIB Jatim  Mochamad Yunus siap berjuang untuk mem-backup wali kota perempuan itu bila ada pihak-pihak yang menghalangi penutupan lokalisasi.

“Dengan mengucapkan bismillaahirrahmaanirrahiim seluruh organisasi massa Islam yang tergabung dalam GUIB siap berjihad dengan elemen masyarakat lain untuk back up wali kota dalam rangka menutup Dolly. Allahu akbar!” serunya diiringi pekik takbir yang lain.

 Sementara perwakilan salah satu ormas yang hadir, Ibnu Ali menjelaskan beberapa upaya ormas-ormas tersebut dalam mengedukasi masyarakat luas. “Kami akan membantu memberikan penjelasan kepada masyarakat soal penutupan Dolly ini. Misalnya ketika khotbah Jumat di masjid, ustadz-ustadz juga menjelaskan, insya Allah seluruh masyarakat ikut mendoakan,” ungkapnya.

Perwakilan dari Hizbut Tahrir Indonesia itu berharap, dengan ditutupnya Dolly menjadi awal dari kebaikan-kebaikan lain dari Tuhan. “Tinggal selanjutnya agar bagaimana syariat Allah itu bisa diterapkan lebih luas lagi,” imbuhnya.)

Berikut ini daftar ormas Islam di Jatim yang mendukung penutupan lokalisasi yang terbesar di Indonesia tersebut:

1.    Nahdhatul Ulama (NU)

2.    Muhammadiyah

3.    Hidayatullah

4.    Perhimpunan Al Irsyad

5.    Dewan Dakwah Islamiyah

6.    Dewan Masjid Indonesia (DMI)

7.    Front Pembela Islam (FPI)

8.    Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

9.    Persatuan Islam (PERSIS)

10. Persatuan Tarbiyah Indonesia (PERTI)

11. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)

12. Al Bayyinat

13. Pelajar Islam Indonesia (PII)

14. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

15. Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)

16. Forum Umat Islam (FUI)

17. Muslimat NU

18. Fatayat NU

19. PW Aisyiyah

20. Nasyiatul Aisyiyah

21. Muslimah Hidayatullah

22. Syabab Hidayatullah

23. Pemuda Muhammadiyah

24. Keluarga Alumni Masjid Kampus Indonesia (KAMPUSINA)

25. Laskar Pembela Islam (LPI)

26. Front Pemuda Islam (FPIS)

27. Persyarikatan Da’wah Al Haromain

28. Al Hawariyun

29. Majelis Dakwah Indonesia (MDI)

30. Forum Madura Bersatu (FORMABES)

31. Majelis Dzikir dan Dakwa Islam (MADDIA)

32. Forum Pemuda Sunny

33. CICS (Center for Indonesian Community Studies)

34. GNPI (Gerakan Nasional Patriat Islam)

35. ORISSA

36. Laskar Arif Rahman Hakiem

37. Al Irsyad Al Islamiyah

38. Ikatan Da’i Muda Indonesia (IDMI)

39. Muballighah Bulan Bintang

40. BKSPPI

41. Gerakan Pemuda Anshor (GP Anshor)

42. Badan Kordinasi Masjid (BAKORMAS)

43. Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)

44. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

45. Ikatan Dai Lokalisasi (IDIAL)

46. Forum Peduli Pembangunan Batang Dua (FPPBD)

47. Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM)

48. Front Anti Komunis (FAK)

49. Forum Ulama Madura (FUM)

50. Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA)

51. Forum Intelektual Indonesia (FII)

52. Forum Dakwah Islamiyah Indonesia (FDII)

53. Pemuda Muslimin Indonesia

54. Front Pemuda Madura Indonesia (FPMI)

55. Gerakan Mahasiswa Peduli Narkotika (GMPN)

56. Forum Kyai Muda Madura (FORKIM)

57. Front Anti Aliran Sesat (FAAS)

58. Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Redaktur: Shabra Syatila/ http://news.fimadani.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.168 kali, 1 untuk hari ini)