Jumpa Pers KAHMI


Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) mendesak aparat keamanan lebih meningkatkan fungsi publik servis kepada masyarakat pasca penyerangan di Kabupaten Nduga, Papua yang menewaskan 19 pekerja PT Istaka Karya dan satu prajurit TNI.

Koordinator Presidium MN KAHMI, Hamdan Zoelva mengatakan hal itu agar masyarakat mendapatkan rasa aman, nyaman, terlindungi dan terayomi.

“Untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini, antisipatif dan mencegah tindakan kejahatan terulang kembali,” ujar Hamdan, saat jumpa pers di KAHMI Center, Jakarta, Kamis (6/12).

Pihaknya, kata Hamdan, mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dan segera menangkap pelaku pembunuhan.

“Kepada aparat, KAHMI di seluruh Indonesia dan masyarakat Indonesia untuk mewaspadai gerakan separatis yang merongrong kewibawaan NKRI,” kata Hamdan.

Indonesia, lanjutnya, harus menunjukkan sikap dan komitmen yang jelas menghadapi tindakan brutal dari kelompok separatis di Papua dan Papua Barat.

“Meminta kepada pemerintah untuk tidak berhenti membangun di Tanah Papua, karena bagian integral dari wilayah NKRI yang harus mendapatkan kesejahteraan dan keadilan,” pungkasnya. [lov]

Sumber © Oposisi.NET

***

31 Pekerja Jembatan Dibunuh di Papua. KKB Juga Pernah Sandra Guru dan Tenaga Medis

Ilustrasi – Antara

Bisnis.com, JAKARTA- Kelompok kriminal bersenjata yang melakukan penyerangan hingga menewaskan 31 pekerja yang sedang membanguna jembatan di Kabupaten Nduga diidentifikasi kerap membuat ulah.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal membenarkan bahwa kelompok kriminal bersenjata (KKB) tersebut sudah sering melakukan tindakan tidak manusiawi. Mereka berulah sejak sebelum Pilkada Papua digelar. Menurut Ahmad KKB juga sempat melakukan penyanderaan terhadap para guru dan tenaga medis di Distrik Mapenduma, Nduga, Papua.

Ulah terbaru mereka adalah penyerangan yang menewaskan 31 pekerja yang sedang membangun jembatan.

Saat ini Polda Papua bersama personel TNI tengah memburu KKB yang telah melakukan pembunuhan terhadap 31 pekerja dari PT Istaka Karya tersebut. Pembunuhan terjadi  pada Minggu 2 Desember 2018 di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

“Para pekerja tersebut membangun jembatan untuk menghubungkan suatu daerah guna memperlancar pembangunan, namun karena aksi tidak manusiawi Kelompok Kriminal Bersenjata itu, pembangunan jembatan menjadi terhambat,” tutur Kamal, Selasa (4/12/2018).

Dia menjelaskan pembunuhan itu berawal ketika petugas mendapatkan informasi bahwa ada 1 mobil Strada yang mengangkut 15 pekerja belum kembali sejak Senin (1/12/2018). Padahal, 1 mobil Strada lain yang berangkat di hari yang sama telah kembali dengan membawa 15 pekerja dari PT Istaka Karya.

“Mendapat informasi itu, pada Senin 3 Desember 2018 pukul 15.30 WIT, personel gabungan Polri dan TNI yang dipimpin Kabag Ops Polres Jayawijaya AKP. R.L. Tahapary bergerak dari Wamena menuju Distrik Yigi Kabupaten Nduga,” kata Kamal.

Kemudian menurut Kamal, ketika petugas gabungan tiba di kilometer 46, tim bertemu dengan mobil lain dari arah Distrik Bua dan sopir mobil itu menyarankan agar petugas memutar balik, karena jalan tersebut sudah diblokir oleh KKB.

“Dari informasi yang didapat tim bahwa Kelompok Kriminal Bersenjata itu telah melakukan pembantaian terhadap 31 orang pekerja proyek dari PT Istaka Karya yang sedang membangun jembatan,” ujarnya.

Kamal menjelaskan bahwa tim personel gabungan dari TNI dan Polri sudah diterjunkan ke TKP dan mengejar para pelaku yang diketahui telah membunuh 31 orang pekerja di hari sebelumnya.

“Polda Papua turut berduka cita atas meninggalnya para korban dan mengecam tindakan biadab yang tidak manusiawi dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata,” tuturnya.

Editor : Saeno

Sumber : kabar24.bisnis.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 544 kali, 1 untuk hari ini)