Indonesia Jadi Pabrik Sabu-sabu dan Ekstasi

–Dua jenis madat (narkoba) yang mulai masuk Indonesia sejak awal 1990-an–

indonesia-jadi-pabrik-narkoba Korban narkoba

Foto ipmjombang.wordpress.com

Sungguh memprihatinkan sekaligus memalukan. Menjadi produsen saja kok memproduk barang yang menyeret konsumennya ke jurang kehancuran di dunia dan adzab neraka di akherat. Bahkan sampai terkena ancaman, kelak akan diminumi dengan minuman busuk dan sangat menjijikkan berupa keringat atau nanah penghuni neraka.

1177 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا فَمَاتَ وَهُوَ يُدْمِنُهَا لَمْ يَتُبْ لَمْ يَشْرَبْهَا فِي الْآخِرَةِ

1177 Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamr (arak) dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barangsiapa yang meminum arak di dunia lalu meninggal dunia dalam keadaan dia masih tetap meminumnya dan tidak bertaubat, maka dia tidak akan dapat meminumnya di Akhirat kelak (di Syurga). (Muttafaq ‘alaih).

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلاً قَدِمَ مِنْ جَيْشَانَ – وَجَيْشَانُ مِنَ الْيَمَنِ – فَسَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ شَرَابٍ يَشْرَبُونَهُ بِأَرْضِهِمْ مِنَ الذُّرَةِ يُقَالُ لَهُ الْمِزْرُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَوَمُسْكِرٌ هُوَ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ إِنَّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَنْ يَشْرَبُ الْمُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ قَالَ « عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ ».

Dari Jabir, bahwa seorang lelaki datang dari Jaisyan –Jaisyan itu bagian dari Yaman— lalu ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang minuman yang mereka minum di bumi mereka berasal dari biji-bijian (jagung) disebut mizr. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah memabukkan, dia”. Dia menjawab, ya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Setiap yang memabukkan itu haram, sesungguhnya pada Allah ‘Azza wa Jalla ada janji (ancaman) bagi orang yang meminum (minuman) yang memabukkan (maka kelak di akherat) akan diminumkan kepadanya (minuman) dari thinatil khabal. Lalu para sahabat bertanya,Ya Rasulallah, apakah thinatul khabal itu? Beliau menjawab: “Keringat penghuni neraka atau nanah ahli neraka.” (HR Muslim).

Sabu-sabu merupakan jenis madat pembunuh nomor dua di Indonesia setelah putaw (heroin). Setidaknya, madat jenis sabu-sabu ini bila tidak sampai membuat penggunanya mampus, ia akan meninggalkan cacat selama puluhan tahun.

Sedangkan Ekstasi antara lain merusak otak dan memperlemah daya ingat, merusak mekanisme di dalam otak yang mengatur daya belajar dan berpikir dengan cepat. Ekstasi juga terbukti dapat menyebabkan kerusakan jantung dan hati, menyebabkan depresi dan gangguan kejiwaan lainnya. Pengguna ekstasi biasanya setelah kecanduan mengalami kesulitan untuk berhenti atau mengurangi pemakaian. Ekstasi juga dapat menyebabkan kematian.

Ada yang menilai, kasus madat (narkoba) jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kasus terorisme. Karena, korban kasus madat (narkoba) dalam tempo relatif singkat bisa mencapai ribuan orang, sedangkan kasus terorisme dalam jangka waktu cukup lama memakan korban puluhan hingga ratusan orang saja.

Namun, untuk kasus terorisme ada dibentuk Densus 88 sedangkan untuk kasus madat (narkoba) tidak ada. Seharusnya, pemerintah jauh lebih tegas di dalam menangani kasus madat (narkoba) ini. Karena terbukti, bila dulu Indonesia hanya menjadi lintasan berbagai jenis madat yang akan dikirim dari Australia ke berbagai negara di Eropa, kini Indonesia sudah menjadi pabrikan. Sebuah perkembangan yang memprihatinkan sekaligus memalukan.

Kini, Indonesia sudah dikenal sebagai pabrik sabu-sabu dan ekstasi, dua jenis madat (narkoba) yang mulai masuk sejak awal 1990-an. Sekitar satu dasawarsa sebelumnya, kawasan Indonesia hanya menjadi tempat transit peredaran jenis madat tersebut. Itu pun hanya di Bali.

Kala itu, orang Jakarta atau turis asing yang ingin mendapatkan madat jenis tersebut, harus bersusah payah ke Bali. Bahkan dalam hal madat, Jakarta ketinggalan dari Bali. Jenis madat terbaru yang muncul dari belahan dunia mana saja, sebelum masuk Jakarta, ketika itu, selalu dimulai dari Bali.

Salah satu cara mengkonsumsi jenis madat bernama sabu-sabu ini adalah dengan membakar sabu di atas kertas timah lalu dihisap asapnya. Mungkin, karena ada unsur api dan asap inilah yang kemudian membuat si pemberi nama jenis madat ini memilih nama yang dekat dengan masakan Jepang Shabu-shabu.

Shabu shabu adalah makanan Jepang berupa irisan sangat tipis daging sapi (atau daging ayam, daging domba, ikan fugu, gurita dan ikan kakap) yang dicelup ke dalam panci khusus berisi air panas di atas meja makan, dan beberapa kali dilambai-lambaikan di dalam kuah sebelum dimakan bersama saus (tare) mengandung wijen yang disebut gomadare atau ponzu. Di dalam panci biasanya juga dimasukkan sayur-sayuran, tahu, atau kuzukiri.

Cara lain mengkonsumsi sabu-sabu (jenis madat ini) adalah dengan menggunakan bong supaya asapnya disaring air terlebih dahulu, kemudian dihisap. Atau serbuk sabu ditumbuk lalu disedot langsung menggunakan hidung. Cara lain, serbuk sabu dimakan langsung, atau dilarutkan ke dalam air lalu disuntikkan dengan alat penyuntik.

Sabu-sabu dan Ekstasi

Nama resmi sabu-sabu adalah Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met. Ia merupakan obat psikostimulansia dan simpatomimetik yang dipasarkan untuk kasus attention deficit hyperactive disorder (gangguan hiperaktivitas akibat kurang mendapat perhatian), juga kasus narcolepsy (kelainan tidur). Metamfetamina pertama dibuat dari efedrina di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi. Sabu-sabu menyebabkan terjadinya peningkatan secara drastis hormon dopamine, serotonin, dan noradrenaline dalam otak dan saraf.

Dengan ditemukannya sabu-sabu sebagai salah satu madat, menyebabkan banyak pemakai madat jenis cocaine yang beralih ke sabu-sabu. Karena, harganya yang lebih murah. Sabu-sabu bisa diproduksi oleh orang awam (di rumah). Selain murah dan mudah diproduksi, efek mabuk yang diberikan sabu-sabu jauh lebih lama yaitu sekitar 9-15 jam (bandingkan dengan cocaine yang hanya memberi efek mabuk sekitar 15-20 menit saja). Madat jenis sabu-sabu jauh lebih mudah diperoleh ketimbang cocaine.

Sabu-sabu merupakan jenis madat pembunuh nomor dua di Indonesia setelah putaw (heroin). Setidaknya, madat jenis sabu-sabu ini bila tidak sampai membuat penggunanya mampus, ia akan meninggalkan cacat selama puluhan tahun.

Sedangkan Ekstasi (disebut juga dengan nama Inex atau XTC) yang bernama resmi

MDMA (3,4-methylenedioxy-N-methylamphetamine), merupakan senyawa kimia yang sering digunakan sebagai obat rekreasi yang membuat penggunanya menjadi sangat aktif. Resiko penggunaannya adalah dehidrasi ketika penggunanya lupa minum air. Hal sebaliknya juga dapat terjadi, di mana seseorang minum terlalu banyak air.

Ekstasi memiliki struktur kimia dan pengaruh yang mirip dengan amfetamin dan halusinogen. Berbeda dengan sabu-sabu yang berbentuk kristal, ekstasi biasanya berbentuk tablet berwarna dengan disain yang berbeda-beda. Ekstasi bisa juga berbentuk bubuk atau kapsul.

Pengaruh jangka panjang yang diakibatkan ekstasi antara lain merusak otak dan memperlemah daya ingat, merusak mekanisme di dalam otak yang mengatur daya belajar dan berpikir dengan cepat. Ekstasi juga terbukti dapat menyebabkan kerusakan jantung dan hati, menyebabkan depresi dan gangguan kejiwaan lainnya. Pengguna ekstasi biasanya setelah kecanduan mengalami kesulitan untuk berhenti atau mengurangi pemakaian.

Pengaruh ekstasi juga dapat membuat seseorang bertingkah laku yang membahayakan, atau menempatkan dirinya ke dalam keadaan tidak berdaya. Bila keadaan tidak berdaya ini terjadi pada pemadat ekstasi perempuan, maka ia akan menjadi objek pemerkosaan atau terjerumus ke dalam hubungan seks bebas yang memperdaya, kemudian pada gilirannya akan menghasilkan kehamilan dan berbagai penyakit seperti AIDS atau Hepatitis C.

Ekstasi juga dapat menyebabkan kematian. Pertama, akibat pengaruh rangsangan yang mengakibatkan serangan jantung atau pendarahan otak. Kedua, kombinasi penggunaan ekstasi dengan aktivitas menari akan menyebabkan naiknya temperatur suhu badan pada tingkat yang berbahaya. Karena, biasanya ekstasi diminum di klub-klub malam atau diskotik, maka resiko kematian karena panas yang berlebihan (hyperthermia) akan meningkat. Ketiga, walau bukan karena akibat langsung dari ekstasi, kematian dapat terjadi karena banyaknya air yang diminum akibat temperatur suhu badan yang tinggi sehingga terjadi dilutional hyponatremia (keadaan dimana otak kelebihan cairan).

Pabrik Sabu-sabu

Sepanjang tahun 2009, berbagai media pernah menurunkan berita tentang penggerebekan yang dilakukan aparat terhadap sejumlah pabrik sabu-sabu di seluruh wilayah Indonesia. Sekitar pertengahan Januari 2009, Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap sepasang suami istri yang diduga terlibat kasus pabrik sabu-sabu di apartemen Bukit Gading Mediterania, Jakarta Utara. Di apartemen ini, petugas menyita satu kilogram sabu-sabu dan alat produksinya. Per bulan mereka mampu memproduksi sabu-sabu sebanyak 20 kilogram. (Republika online edisi 15 Januari 2009).

Sekitar dua pekan kemudian, Kamis 29 Januari 2009, aparat kepolisian menggerebek pabrik sabu-sabu di ruko berlantai empat yang berada di tengah-tengah perumahan elit Mutiara Palem, Jl Lingkaran Luar Kamal Raya Blok A3 No 18, Jakarta Barat. Pabrik sabu tersebut berkedok warung internet bernama Dust Net. Dari tempat ini polisi berhasil menyita lebih dari 40 kilogram sabu-sabu dan bahan pembuat sabu dalam jumlah besar.

Kalau di Jakarta ada pabrik sabu-sabu berkedok warnet, di Malang ada pabrik sabu berkedok industri rumah tangga, di kawasan Perumahan Sawojajar II, Jalan Cucakrawun I No 8 G-2, Kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur. Penggerebekan berlangsung pada hari Jum’at tanggal 13 Februari 2009, yang dilakukan oleh tim gabungan dari Polwil dan Polres Malang serta Polda Jatim. Polisi berhasil menyita evil dyer sebanyak 5.000 butir, serbuk blue ice, soda api, dan 0,02 liter Aseton yang merupakan bahan baku sabu-sabu.

Pada hari Sabtu malam tanggal 21 Februari 2009, petugas Polres dan Polwil Bogor menggerebek pabrik sabu di vila mewah dengan luas tiga hektar di Kampung Pasir Petuey, Desa Karya Mekar, Bogor, Jawa Barat. Penggerebekan berawal dengan ditangkapnya dua kurir yang akan mengantarkan sabu-sabu ke Jakarta pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Dari hasil interogasi petugas, kedua pengantar sabu-sabu itu menunjuk keberadaan vila mewah tersebut sebagi tempat pembuatan sabu-sabu. Di tempat ini polisi menemukan puluhan drum berisi bahan-bahan kimia yang ditaksir nilainya mencapai miliaran rupiah.

Selang sehari kemudian, di Jakarta, aparat kepolisian menggerebek sebuah rumah di Gang Widuri, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang diduga sebagai tempat produksi sabu-sabu dan ekstasi. Penggerebekan ini merupakan pengembangan dari penggerebekan pabrik sabu-sabu dan ekstasi di vila mewah Bogor sehari sebelumnya.

Maksud hati menggerebek rumah judi, malah pabrik madat (narkoba) yang didapat. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis tanggal 5 Maret 2009. Ketika itu aparat kepolisian menduga sebuah rumah yang terletak di Perum Benua Indah Pabuaran, Karawaci, Banten sebagai tempat judi bola via internet. Setelah digerebek, ternyata tempat itu merupakan pabrik madat (narkoba).

Di Bekasi Utara, Jawa Barat, pada hari Senin tangal 16 Maret 2009, polisi menggerebek pabrik sabu-sabu di kawasan permukiman penduduk. Saat digerebek, aparat kepolisian berhasil menyita puluhan gram sabu-sabu bubuk dan cair, alkohol, alat tes narkoba, dan sejumlah peralatan pembuat sabu-sabu. Kasus ini terbongkar setelah polisi menangkap seorang tersangka pengedar shabu di kawasan Jakarta Barat. Diperkirakan sindikat ini telah mengedarkan shabu puluhan kilogram senilai puluhan juta rupiah.

Di Surabaya, sebuah pabrik sabu-sabu juga berhasil digerebek di sebuah apartemen. Peristiwa ini terjadi pada hari Selasa tangal 14 April 2009, di Apartemen Grand Water Place Surabaya. Di tempat tersebut polisi berhasil menyita bahan baku sabu-sabu. Selain mengamankan bahan baku sabu-sabu, polisi juga mengamankan sebuah tas koper warna biru berisi sebuah bong, dua buah alat termometer non kontak, sebuah alat mikro start box, satu buah serbuk putih yang diduga ketamin seberat 3,5 gram dan 1 poket diduga shabu-shabu seberat 6,5 gram.

Di Jepara, Minggu 3 Mei 2009, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menggerebek prabrik sabu di Pantai Kartini, Jepara Jawa Tengah. Penggerebekan terhadap pabrik sabu beromset Rp 30 miliar per minggu ini merupakan hasil pengembangan dari penggerebekan pabrik sabu yang berada di Depok, Jawa Barat. Di tempat ini polisi menyita barang bukti berupa peralatan laboratorium, bahan-bahan kimia antara lain 30 kg shabu siap edar dan 126 kg bahan baku siap siap produksi.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menggerebek rumah dan gudang yang dilengkapi dengan bunker dan digunakan sebagai pabrik ekstasi di Jalan Cemara Blok MD No. 9 RT 05/05, Pasir Gunung, Kec. Lotip, Depok. Dari lokasi itu polisi menyita barang bukti bahan baku ekstasi cair dan bubuk senilai milyaran rupiah senilai Rp 500 milyar.

Pabrik sabu-sabu didirikan secara tersamar, ada yang berkedok warnet, industri rumahan, bahkan ada yang dikendalikan dari dalam rumah tahanan (rutan) alias penjara. Hal ini sebagaimana terjadi di Surabaya. Menurut polisi, pabrik sabu-sabu yang mereka temukan di Perumahan Wisma Mukti, Surabaya, Jawa Timur, pada Ahad 10 Mei 2009 lalu, diduga dikendalikan Siswo Prawiro, narapidana yang saat itu mendekam di Rutan Medaeng. Istri Siswo, Linda, dipercaya memegang bisnis ini.

Sepekan menjalang perayaan HUT kemerdekaan RI, Senin 10 Agustus 2009, polisi kembali menggerebek pabrik sabu-sabu yang terletak di komplek perumahan elit Pantai Indah Kapuk, jalan Walet Permai V no 49, Penjaringan, Jakarta Utara. Dari rumah tersebut sabu-sabu yang berhasil ditemukan hanya seberat 13 gram. Namun, ditemukan juga sejumlah alat produksi seperti tungku pemanas, sejumlah tabung kaca, dan 10 jirigen bahan kimia yang diduga untuk membuat sabu-sabu.

Kembali di Bogor, pada hari Selasa siang tanggal 01 September 2009, sekitar pukul 14:00 wib, polisi berhasil mengungkap keberadaan pabrik sabu-sabu di perumahan Telaga Kahuripan, Cluster Bukit Indraprasta blok B 2 Nomor 13, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Di rumah tersebut polisi menemukan sejumlah alat yang biasa digunakan untuk membuat sabu-sabu. Juga ditemukan soda api, posfor, aseton, alcohol, almunium oil, tabung gas dan kompornya, alat tes kadar, corong dan lainnya. Tiga orang asal Nanggroe Aceh Darussalam bernama M. Fadli, Burhan dan H.M. Yakub, ditahan polisi sehubungan dengan kasus tersebut.

Pada hari Rabu, tanggal 30 September 2009, sekitar pukul 16.30 wib terjadi kebakaran di Apartemen The Summit, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kebakaran khususnya terjadi di blok Everest 3 No 10-C milik pasangan suami istri berinisal GP dan NRT. Mengetahui ada kebakaran, salah seorang penghuni melaporkan ke dinas terkait untuk memadamkan api. Ketika api hampir seluruhnya padam, tanpa disengaja petugas pemadam justru menemukan serbuk putih seperti shabu-shabu seberat 60 gram. Tak hanya itu, delapan jerigen bahan kimia juga ditemukan di pojok ruangan yang dilanda kebakaran tersebut. Tanpa menunggu lama, petugas yang curiga dengan barang-barang tersebut selanjutnya menghubungi Polres Jakarta Utara melaporkan temuannya itu. Pabrik sabu-sabu ini diperkirakan beromzet miliaran rupiah.

Menutup bulan Oktober 2009, Direktorat Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Terorganisir Badan Reserse Kriminal Polri membongkar sebuah pabrik narkoba di salah satu kamar apartemen Pasadenia, Pulomas, Jakarta Timur pada 26 Oktober 2009. Setelah dilakukan pengembangan pabrik sabu juga ditemukan di Apartemen City Home Kelapa Gading kamar 209.

Dari Apartemen Pasadenia Pulo Mas kamar 307, polisi menemukan barang bukti sekitar 3 kilogram sabu dan bahan baku pembuat sabu berupa 700 gram bruto sabu, 500 gram bruto sabu cair, 400 butir happy five, prekusor berupa soda api, toluen, red phospor, iodine, aseton, dan alkohol.

Sedangkan dari kamar 2009 apartemen City Home, Kelapa Gading, Jakarta Utara, polisi berhasil menyita 2.000 gram sabu yang diduga diproduksi di apartemen Pulomas. Dilihat barang bukti yang ada, jaringan ini termasuk besar karena barang bukti yang disita mencapai 3.200 gram sabu senilai Rp 4,8 miliar karena satu satu gram shabu senilai Rp1,5 juta. Jika dikonsumsi, maka sabu itu dapat dipakai untuk 32 ribu orang karena satu gram bisa dipakai untuk 10 orang.

Pabrik Ekstasi

Selain dikelilingi pabrik sabu-sabu, kawasan Nusantara ini juga dikelilingi pabrik Ekstasi. Sepanjang tahun 2009 saja, media massa begitu marak memberikan kasus penggerebekan pabrik ekstasi di Indonesia.

Pada hari Kamis tanggal 5 Februari 2009, aparat kepolisian berhasil mengungkap keberadaan pabrik ekstasi dalam skala besar di Samarinda, Kalimantan Timur. Dari sebuah rumah yang terletak di jalan Jelawat Kota Samarinda, Kalimantan Timur ini, polisi berhasil menemukan 7 kilogram lebih bahan baku untuk memproduksi pil ekstasi terdiri dari 2.200 gram bahan baku padat, 1.650 gram bahan baku cair dan 3.225 gram serbuk ekstasi lengkap bersama alat cetak. Dua hari sebelumnya jajaran Poltabes Samarinda berhasil membekuk tersangka Alan Agus yang juga merupakan produsen pil ekstasi di kawasan itu.

Bila di Samarinda pabrik ekstasi dikelola oleh para mantan napi yang memperoleh keterampilan memproduksi ekstasi saat berada dalam penjara, di Jakarta lain lagi. Sebuah pabrik ekstasi yang berada di Perumahan Taman Surya 5 Blok GG 1 Nomor 21 Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat ini, dikelola oleh sebuah keluarga. Mereka terdiri dari Abidin Candra alias Abeng yang berusia 48 tahun, dan anaknya (Dedi Candra alias Aliang yang berusia 23 tahun), serta kakak Abidin yang merupakan paman dari Aliang bernama Suciman (51 tahun). Polisi berhasil menemukan 8.500 butir ekstasi yang merupakan hasil produksi keluarga Abeng. Setiap hari mereka mencetak 300 hingga 1.000 butir ekstasi kualitas dua dan dipasarkan seharga Rp 150.000 per butir di sejumlah tempat hiburan malam di Jakarta Barat.

Sedangkan di Tangerang, Banten, sebuah pabrik ekstasi yang terletak di Perumahan Villa Melati Mas Blok H 9 Nomor 52, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang, Prov. Banten dikelola oleh penderita stroke yang setengah lumpuh. Namanya, Benny Kurniawan (40 tahun). Selain Benny polisi juga menangkap Susanti (30 tahun) yang berperan sebagai kurir. Dari tempat itu polisi menemukan lebih dari 15.000 butir ekstasi, pil Happy Five, dan bahan baku ekstasi.

Dari tempat kos Susanti (30 tahun) di Jalan Sinar Budi, Teluk Gong, Jakarta Utara, polisi menemukan 4.300 butir pil ekstasi, yang katanya milik Rico alias Eric, seorang bandar ekstasi yang masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Susanti mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan Rico namun hanya menerima instruksi dari seseorang yang mengaku kaki tangan Rico. Ekstasi produksi rumahan ala Benny dijual ke pengedar kecil Rp 100.000 per butir. Total nilai barang bukti yang disita oleh polisi mencapai Rp 2 miliar.

Pada hari Kamis malam tanggal 30 April 2009 hingga Jum;at dinihari 01 Mei 2009, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, menggerebek pabrik pembuat pil ekstasi di Kompleks Hankam, Jalan Camar MD 9, RT 5 RW 5, Kelurahan Pasirgunung Selatan, Cimanggis, Kelapa Dua, Depok (Jawa Barat), serta menyita 10 ton bahan pembuat ekstasi. Pabrik ekstasi ini diperkirakan dapat menghasilkan 100 kilogram bahan pembuat ekstasi dalam sekali produksi, dan setiap satu kilogram bahan dapat menghasilkan 5.000 butir ekstasi. Sehingga, sekali produksi dapat menghasilkan 500.000 butir ekstasi. Nilai produksinya mencapai Rp 150 miliar.

Beberapa hari kemudian, Senin sore tanggal 4 Mei 2009, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya kembali menggerebek sebuah pabrik ekstasi bermodus jual beli motor baru dan bekas di Jalan Daan Mogot Raya KM 1 Kavling 45 no 1 Grogol Jakarta Barat. penggerebekan pabrik ekstasi itu merupakan hasil pengembangan dari pengungkapan kasus pabrik ekstasi di Depok (Jabar) dan Jepara (Jateng) yang digerebek pekan lalu.

Pada hari Selasa tanggal 19 Mei 2009, sekitar pukul 03.00 dini hari, Kepolisian Kota Besar Palembang, Sumatera Selatan, akhirnya berhasil membongkar jaringan produksi ekstasi yang terletak di RT 40 RW 11 Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Alang-alang Lebar. Dari tempat ini polisi menyita 300 butir ekstasi siap edar, 20 paket bahan kimia untuk membuat ekstasi, dan dua unit alat peracik ekstasi dari besi. Dalam sehari, mereka mampu memproduksi pil ekstasi sebanyak 70 butir, atau sekitar 3.000 butir dalam satu bulan.

Pada saat yang hampir bersamaan, Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sidrap (Sidenreng Rapang), Sulawesi Selatan, berhasil membongkar kegiatan produksi ekstasi oplosan yang diproduksi Hendra bin Marwah Palopo (34 tahun) di rumahnya di di Jalan A Makkasau Pangkajene, Sulawesi Selatan. Dari tempat itu polisi berhasil mengamankan pil ekstasi sebanyak 207 butir berbagai warna, dan sejumlah barang bukti lainnya berupa 3 cetakan pil, 2 buah alat suntik, dan 1 botol tinta. Di hadapan penyidik, Hendra mengaku, pil ekstasi buatannya dibuat dari tepung beras, bubuk sabu-sabu, serta sejumlah obat-obatan lainnya. Agar pil tersebut mengeras, campuran obat-obatan itu ditambahkan lem Fox. Sementara warna pil yang terdiri atas biru, ungu, cokelat, dan hijau, diperoleh dari hasil pencampuran beberapa warna tinta printer.

Selang sehari kemudian, Rabu 20 Mei 2009 Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut), berhasil menggerebek sebuah pabrik ekstasi yang terletak di kompleks bisnis Jalan Krakatau Ujung, Medan (ruko nomor R-16 ) di Komplek Pergudangan Krakatau Multi Centre (KMC), Medan. Dalam penggerebekan itu, aparat menemukan 66 butir ekstasi, 60 jerigen etanol, 40 jerigen nol, dua ember sabu cair dan bahan-bahan pembuat ekstasi dalam jumlah besar. Dari tempat itu, mampu diproduksi 10 ribu ekstasi setiap harinya.

Di Jakarta, pabrik ekstasi rumahan dkelola dari Nuskambangan. Pada hari Kamis tanggal 11 Juni 2009, sebuah pabrik ekstasi rumahan (home industry) yang berlokasi di Jalan Manggabesar VIII, Jakarat Barat, digerebek polisi. Dari pabrik rumahan itu berhasil disita sebanyak 2.100 butir ekstasi senilai Rp 400 juta. Dan yang lebih menarik, industri rumahan penghasil ekstasi ini dimiliki dan dikendalikan oleh seorang narapidana di LP Nusakambangan.

Dalam sehari pabrik tersebut mampu memproduksi 100 butir pil ekstasi per hari dengan keuntungan rata-rata Rp 7 juta. Polisi juga menyita alat-alat yang digunakan untuk membuat pil. Para pelaku membuat pil dengan cara tradisional dan sederhana. Bahan-bahannya juga diperoleh dari toko kimia yang letaknya tak jauh dari pabrik itu.

Di Batam, pabrik ekstasi bersebelahan dengan polsek. Sebagaimana diberitakan Tribun Batam edisi 24 Juni 2009, Satuan Narkoba Poltabes Barelang (Batam) menangkap Darmawanto alias Aciu tersangka pembuat ekstasi. Aciu ditangkap aparat di depan Hotel Swiss Inn pada hari Jum’at tanggal 19 Juni 2009 lalu. Setelah itu polisi menggerebek ruko sewaan Aciu di sekitar Plaza Top 100 Penuin, dan mengamankan sejumlah barang bukti ratusan pil ekstasi buatannya. Selain itu Aciu juga memproduksi barang haram tersebut di ruko Bengkong Garden Blok A No 7-8. Ruko ini bersebelahan dengan Polsek Persiapan Bengkong.

Bisnis ekstasi nampaknya sangat menggiurkan, sampai-sampai seorang tukang gali kubur yang sehari-harinya dekat dengan peristiwa kematian saja, tergiur untuk alih profesi menjadi pembuat ekstasi. Hal ini sebagaimana terjadi di Tangerang. Gimi Manurung (45 tahun) dan istrinya Tuti (35 tahun), penggali kubur di daerah Dadap Kabupaten Tangerang digerebek Polsek Neglasari,Tangerang, Prov Banten karena diduga memproduksi ekstasi. Peristiwa itu terjadi Rabu tengah malam, 24 Juni 2009. Dari penggerebekan itu polisi berhasil menyita 1.020 butir pil buatannya sendiri. Sejak 2 tahun lalu, ia membuat pil ekstasi yang dijual di Diskotik Miles Jakarta perbutir Rp 20 ribu. Bahannya dari tepung terigu, semen putih dan obat racun serangga. (http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/06/25/penggali-kubur-bikin-ekstasi)

Hukuman penjara rupanya tidak membuat Alf alias Afn menjadi jera. Terbukti, laki-laki berusia 41 tahun yang pernah menjalani hukuman kasus psikotropika jenis pil ekstasi ini, kembali menekuni hal yang sama seusai mejalani masa hukumannya. Akhirnya, ia kembali diciduk untuk kasus yang sama.

Alf alias Afn adalah penduduk Jalan Amaliun Gang Hidayah, Medan. Pada saat Subuh, Kamis 30 Juli 2009, ia dibekuk Tim Khusus Reskrim Polsekta Medan Sunggal karena kembali memproduksi pil ekstasi rumahan (home industry). Dari tempat itu polisi menyita barang bukti berupa alat pres, empat alat cetak pil ekstasi, berbagai jenis obat-obatan (dalam bentuk cairan hingga tablet), puluhan butir pil ekstasi warna kuning yang siap jual.

Masih dari kawasan Medan, sebagaimana diberitakan Poskota edisi Rabu 26 Agustus 2009, aparat Direktorat Narkoba Polda Sumut menggerebek pembuatan pil ekstasi di perumahan di Kawasan Lau Dendang, Kabupaten Deli Serdang. Selain meringkus dua pengelolanya, aparat juga mengamankan barang bukti bernilai ratusan juta rupiah. Kedua tersangka yang diamankan adalah Toni dan Hendra Turnip. Ekstasi yang diproduksi Toni dan Hendra berlambang tanda tanya dengan harga Rp 100 ribu per butir, dan sudah beredar di sejumlah lokasi hiburan di Medan.

Metro TV edisi Sabtu, 17 Oktober 2009 memberitakan, Tim antinarkoba Kepolisian Resor Kepolisian Pengamanan Pelabuhan dan Pantai (KP3) Belawan, Medan, Sumatra Utara, menggrebek sebuah rumah yang dijadikan pabrik ekstasi. Dalam penggrebekan polisi menangkap Abdul Rohim, warga Jalan Bakti Luhur sebagai tersangka. Aparat juga menyita mesin pencetak ekstasi, berikut bahan baku pembuatan ekstasi berupa amfetamin dan kafein. Abdul Rohim mengaku mendapat pesanan sebanyak 20 butir per-hari, dengan omzet per bulan minimal 30 juta rupiah.

***

Ada yang menilai, kasus madat (narkoba) jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kasus terorisme. Karena, korban kasus madat (narkoba) dalam tempo relatif singkat bisa mencapai ribuan orang, sedangkan kasus terorisme dalam jangka waktu cukup lama memakan korban puluhan hingga ratusan orang saja.

Namun, untuk kasus terorisme ada dibentuk Densus 88 sedangkan untuk kasus madat (narkoba) tidak ada. Seharusnya, pemerintah jauh lebih tegas di dalam menangani kasus madat (narkoba) ini. Karena terbukti, bila dulu Indonesia hanya menjadi lintasan berbagai jenis madat yang akan dikirim dari Australia ke berbagai negara di Eropa, kini Indonesia sudah menjadi pabrikan. Sebuah perkembangan yang memprihatinkan sekaligus memalukan.

Sebagai kawasan yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia ternyata tidak hanya dikepung oleh berbagai pabrik sabu-sabu dan ekstasi, tetapi juga dikepung oleh berbagai aliran sesat, dan aneka kemunkaran lainnya. Indonesia perlu pemimpin yang tegas dan memahami aspirasi ummat. Bukan yang gemar bergaya di depan kamera teve. Bukan yang suka bergaya di atas podium dan sebagainya, sambil menyebarkan kepercayaan batil yang bisa mengikis iman, misalnya mengaku keberuntungannya adalah angka sekian. Masalah yang sedemikian menumpuk di Indonesia ini tidak dapat dipecahkan oleh orang yang kepasrahannya kepada angka sekian, bukan kepada Allah Ta’ala, Dzat yang Maha Kuasa. Bila tidak, maka Indonesia sesungguhnya sedang menuju kepada kehancuran diri yang sangat fatal. Kemudian hanya bisa saling tuding menuding seperti yang terjadi selama ini dan yang kini sedang berlangsung dengan serunya. Masih pula tidak ingat dan tidak minta tolong kepada Allah Ta’ala, Dzat satu-satunya yang mampu memecahkan segala masalah. (haji/tede) (nahimunkar.com).

(Dibaca 5.381 kali, 1 untuk hari ini)