JAKARTA – Mencuatnya kasus kekerasan seksual oleh warga negara asing di Indonesia membuka sebuah fakta. Ternyata Indonesia telah dijadikan tujuan wisata para pedofil dunia. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyebutkan, tahun ini saja sekitar 200 pedofil mancanegara telah masuk ke tanah air.

Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda mengaku telah mengetahui hal itu. Dia bahkan memberikan gambaran yang lebih dramatis. Menurut dia, jumlah pedofil asing yang berwisata di Indonesia tahun ini jauh lebih banyak daripada yang disebutkan PPATK.

Dia mencurigai kegiatan tersebut berlangsung sejak delapan tahun silam. Saya menduga lebih dari itu. Kita lihat saja berapa jumlah turis asing yang masuk ke Indonesia, kata Erlinda, Sabtu (20/9).

Kendati telah mencurigai adanya turis pedofil, Erlinda enggan jika KPAI dikatakan kecolongan. Dia menjelaskan, dahulu para turis itu sangat rapi dalam menutupi operasi kegiatan mereka. Mereka bersembunyi di balik kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Indonesia.

Mulai menjadi pengajar hingga melakukan kegiatan amal di desa-desa terpencil di Indonesia. Daerah yang sering disasar adalah Sumatera, Cianjur, Semarang, Solo, Palu, dan Bali dengan target anak usia 4-8 tahun serta remaja umur 9-15 tahun.

Selain itu, papar dia, faktor pembiayaan menjadi salah satu alasan utama sulitnya pencegahan turis pedofil tersebut. Pemerintah belum punya bujet yang cukup untuk melakukan penanganan secara mendalam, tutur dia.

Kondisi tersebut, menurut Erlinda, bisa diatasi dengan screening para turis di awal kedatangan. Pihak kepolisian diminta bekerja sama dengan Interpol agar dapat mengakses data para turis yang memiliki catatan buruk untuk kasus pedofilia. Data tersebut kemudian diserahkan kepada petugas imigrasi yang berada di setiap pintu masuk kedatangan para turis.

Jadi, tiap ada yang datang, bisa dilihat dulu track record-nya. Jika memang mempunyai catatan buruk (pedofilia), bisa langsung ditolak masuk, tegas dia.

Namun, yang terpenting adalah kesigapan orang tua. Dia meminta para orang tua membangun komunikasi dua arah yang baik dengan anak. Para orang tua juga diimbau untuk membekali anak dengan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan cara membela diri. Dengan begitu, kejahatan seksual terhadap anak dapat diminimalkan.

Dia mengakui, meski mengetahui hal tersebut, pihaknya pun belum membahas dengan lebih detail. Koordinasi lintas sektor pun baru sebatas pelaporan indikasi-indikasi yang muncul kepada pihak kepolisian. (mia/c11/kim)

Sumber: JPNN
(nahimunkar.com)
(Dibaca 290 kali, 1 untuk hari ini)