Indonesia Tadinya Sibuk Bantah, Begitu IMF Buka Pinjaman Langsung Ngaku Ada Corona

  • “Sebelumnya sibuk bantah membantah tidak ada corona di Indonesia, begitu IMF buka pinjaman untuk corona, langsung ngaku ada corona. Kepepet?” ujar Adamsyah bertanya-tanya seperti dikutip dari akun Twitter pribadinya, Minggu (8/3). 
  • Diingatkan, Pengamat: Pemerintah Sebelum Jokowi Sudah Komitmen Tidak Ngutang di IMF
  • “Pemerintah Indonesia terutama sebelum era Jokowi telah berkomitmen untuk lepas dari hubungan hutang dengan IMF, sehingga jika pemerintah Jokowi akan memanfaatkan momentum Covid-19 untuk menambah hutang ke IMF akan dianggap sebagai pengingkaran,” ujar pengamat politik Ade Reza Hariyadi kepada Kantor Berita Politik RMOL, (8/3). 


IMF/Net

Indonesia telah mengumumkan 4 kasus virus corona baru atau Covid-19 dalam sepekan terakhir. Pengumuman ini tentu mengejutkan dan mengagetkan mengingat pemerintah pada pekan sebelumnya dengan gagah memastikan Indonesia zero corona.


Beragam pertanyaan pun muncul mengenai sikap pemerintah yang berubah 180 derajat ini. Salah satunya dikemukakan oleh politisi Partai Demokrat Adamsyah Wahab. 

Adamsyah mempertanyakan keterkaitan antara pengumuman pemerintah itu dengan langkah IMF (Dana Moneter Internasional) yang tengah menyiapkan pinjaman darurat sebesar 50 miliar dolar AS bagi negara berpenghasilan rendah maupun berkembang yang membutuhkan bantuan untuk menangani virus corona.


Pertanyaan itu cukup beralasan lantaran IMF juga mengumumkan kabar tersebut pada pekan dimana Indonesia mengumumkan ada corona.

“Sebelumnya sibuk bantah membantah tidak ada corona di Indonesia, begitu IMF buka pinjaman untuk corona, langsung ngaku ada corona. Kepepet?” ujar Adamsyah bertanya-tanya seperti dikutip dari akun Twitter pribadinya, Minggu (8/3). 

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengurai bahwa penyebaran virus corona telah membuat banyak negara berisiko. Risiko mengancam negara yang memiliki sistem kesehatan lemah, ruang kebijakan yang tak memadai, ekspor komoditas yang turut tergoncang, dan banyak ketidakpastian lain.

Pinjaman sebesar 10 miliar dolar AS dapat diakses oleh negara-negara termiskin tanpa bunga dengan jangka waktu 10 tahun.

Sementara negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah dapat mengakses pinjaman dengan bunga rendah, sebesar 40 miliar dolar AS untuk jangka waktu lima tahun. 

Editor: Widian Vebriyanto

Laporan: Widian Vebriyanto

 

politik.rmol.id 08 Maret 2020, 10:34 Wib 

 

***

Diingatkan, Pengamat: Pemerintah Sebelum Jokowi Sudah Komitmen Tidak Ngutang Di IMF

Senin, 09 Maret 2020, 01:32 Wib 
Laporan: Ahmad Alfian

Penyebaran virus corona (Covid-19) semakin hari semakin mengkhawatirkan. Tercatat hingga hari ini sudah puluhan negara  terjangkit virus yang berasal yang berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.


Sedangkan untuk di dalam negeri sendiri, pemerintah sebelumnya sangat percaya diri bahwa Indonesia zero corona. 

Namun, tak lama berselang presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ada WNI yang positif tertular virus Corona. Bahkan, sampai hari ini telah diumumkan enam WNI terjangkit virus mematikan ini. 


Seiring dengan hal tersebut, International Monetary Fund (IMF) 
menyiapkan pinjaman darurat sebesar 50 miliar dolar AS bagi negara berpenghasilan rendah maupun berkembang yang membutuhkan bantuan untuk menangani virus corona.

Pengamat politik yang tergabung dalam Forum Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia, Ade Reza Hariyadi melihat sejauh ini belum ada indikasi pemerintah Indonesia mengambil kesempatan tersebut untuk berhutang. 

“Pemerintah Indonesia terutama sebelum era Jokowi telah berkomitmen untuk lepas dari hubungan hutang dengan IMF, sehingga jika pemerintah Jokowi akan memanfaatkan momentum Covid-19 untuk menambah hutang ke IMF akan dianggap sebagai pengingkaran,” ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (8/3). 

Untuk alasan kedua, Ade menjelaskan, jika merujuk pada kualifikasi yang dinyatakan pemerintah AS maka Indonesia tidak termasuk negara berkembang dan miskin yang dapat mengakses pinjaman darurat IMF. 

Selain itu, belum ada ukuran yang kredibel tentang dampak ekonomi yang terukur atas pandemi Covid-19 bagi Indonesia sehingga dapat menjustifikasi perlunya mengakses pinjaman darurat IMF.  

Meski demikian, tetap ada kemungkinan situasi berubah cepat atas kebijakan pemerintah mengingat pandemi Covid-19 belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan secara global.

BACA JUGA

Pengumuman Corona Terkait Pinjaman Utang IMF, Pengamat: Jangan Sampai Publik Kecewa

Jika pemerintah memilih opsi untuk menambah pinjaman luar negeri dari IMF, ini berpotensi menambah beban negara di tengah perlambatan  ekonomi global dan penurunan investasi di Indonesia.  

“Langkah efisiensi belanja birokrasi dan mengkalkulasi ulang sejumlah proyek mercusuar yang menyedot anggaran justru lebih realistis dilakukan saat ini,” pungkasnya. 

Editor: Ahmad Kiflan Wakik/ politik.rmol.id

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.182 kali, 1 untuk hari ini)