Oleh  Mashadi

Siapa saja yang menggantungkan diri kepada pengampunan Allah dengan tetap melakukan dosa, maka orang itu sejatinya adalah penentang Allah ‘Azza Wa Jalla.

Makhruf mengatakan, “Pengharapanmu akan kebaikan seseorang yang tidak engkau thaati merupakan sebuah penghinaan”.

Hari ini begitu banyak orang-orang yang berwajah seperti itu, di satu sisi mengharapkan ampunan-Nya, tetapi ia tetap melakukan dosa dan melanggar larangan-Nya.

Seorang ulama mengatakan kepada Hasan al-Basri,

“Kami melihatmu banyak menangis?” Ia berkata, “Saya takut Allah akan melemparkanku ke Neraka, tanpa mempedulikanku”. Orang lain bertanya kepadanya, “Wahai Abu Said (panggilan Hasan al-Basri), apa sikapmu terhadap sekumpulan orang yang sangat takut kepada kita?” Ia berkata, “Lebih baik kamu menemani orang yang takut kepadamu, tapi kamu mendapatkan keamanan daripada menemani orang yang percaya kepadamu, tapi kamu akan mendapatkan kesusahan dan kecelakaan”.

Usamah bin Zaid mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلاَنُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ ».

“Pada hari kiamat nanti di Neraka akan ada orang yang ususnya terurai, ia berputar di Neraka seperti keledai berputar dalam ikatannya. Para penduduk neraka yang mengelilinginya mengatakan kepadanya, ‘Wahai fulan kenapa kamu? Bukankah kamu dahulu di Dunia memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar?’ Ia menjawab, ‘Benar aku memerintah untuk berbuat kebaikan, tapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang perbuatan mungkar, tetapi aku melakukannya’.”(HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْعَصْرَ رُبَّمَا ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَبْدِ الأَشْهَلِ فَيَتَحَدَّثُ مَعَهُمْ حَتَّى يَنْحَدِرَ لِلْمَغْرِبِ ، قَالَ : فَقَالَ أَبُو رَافِعٍ : فَبَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْرِعًا إِلَى الْمَغْرِبِ إِذْ مَرَّ بِالْبَقِيعِ فَقَالَ : أُفٍّ لَكَ ، أُفٍّ لَكَ ، مَرَّتَيْنِ ، فَكَبُرَ فِي ذَرْعِي ، وَتَأَخَّرْتُ وَظَنَنْتُ أَنَّهُ يُرِيدُنِي ، فَقَالَ : مَا لَكَ ؟ امْشِ ، قَالَ : قُلْتُ : أَحْدَثْتُ حَدَثًا يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : وَمَا ذَاكَ ؟ قُلْتُ : أَفَّفْتَ بِي ، قَالَ : لاَ ، وَلَكِنَّ هَذَا قَبْرُ فُلاَنٍ بَعَثْتُهُ سَاعِيًا عَلَى بَنِي فُلاَنٍ ، فَغَلَّ نَمِرَةً فَدُرِّعَ الآنَ مِثْلَهَا مِنْ نَارٍ ،.

Abu Rafi’ berkata,

“Suatu saat Rasulullah melewati kuburan Baqi’ dan beliau berkata, ‘Celaka kau, celaka kau’. Abu Rafi’ berkata, ‘Saya mengira beliau bermaksud kepadaku’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Saya tidak bermaksud kepadamu, aku bermaksud kuburan fulan ini. Dulu aku mengutusnya untuk mengambil zakat si fulan. Akan tetapi ia curang mengambil pakaian sutra dan pakaian besi. Sekarang yang ia curi itu menjadi api yang membakarnya’.”(HR. Ahmad)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ . فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيلُ ؟ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ.

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Pada malam Isra’ Mi’raj aku pernah melewati sekelompok orang yang memiliki kuku dari tembaga yang mereka garukkan pada wajah dan dada mereka. Saya bertanya, ‘Siapa itu wahai Jibril?’ Dia menjawab, ‘Mereka itu adalah orang yang makan daging manusia (memeras dan memakan harta orang lain) serta merampas kehormatan mereka’.”(HR. Ahmad)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ : يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ . قَالَ : فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ ، آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ ، فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا ؟ قَالَ : فَقَالَ : نَعَمْ ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengatakan,

“Ya muqallibal qulub wa abshar tsabit qalbi ‘ala diinika”. (Wahai Yang membolak-balikkan hati dan penghilatan, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa, apakah kamu mengkhawatirkan kami?” Beliau menjawab, “Ya. Sesungguhnya hati-hati itu berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkan sekehendak-Nya”. (HR. Ahmad)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِجِبْرِيلَ : مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ ؟ قَالَ مَا ضَحِكَ مِيكَائِيلُ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Jibril,

“Mengapa aku tidak pernah melihat Mikhail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Mikhail tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan”. (HR. Ahmad)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِى النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ.

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِى الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِى الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِى بُؤُسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Di hari kiamat nanti, diambil satu orang yang paling nikmat di dunia dari calon penduduk neraka. Ia lalu dicelupkan ke neraka sekali celupan. Kemudian ia ditanya, ‘Wahai anak Adam! Apakah kamu pernah merasakan kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan walau sedikit?’ Ia menjawab, ‘Tidak! demi Allah wahai Tuhanku’. Kemudian diambil satu penduduk dunia dari calon penduduk surga dan dicelupkan ke surga sekali celupan. Lantas ia ditanya, ‘Apakah kamu merasakan kesengsaraan? Apakah kamu pernah merasakan musibah walau sedikit?’ Dia menjawab, ‘Tidak! Demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah merasakan kesengsaraan sedikitpun’.”(HR. Muslim)

Ibnu Umar berkata,

“Barangsiapa yang membeli pakaian dengan sepuluh dirham, sementara ada satu dirham yang haram, Allah tidak akan menerima shalatnya selama ia mengenakan pakaian itu.”(HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Setiap yang memabukkan adalah haram dan sesungguhnya Allah memiliki janji atas orang yang meminum khamr untuk diberi minum dengan ‘thinatul khabal’. Para sahabat bertanya, “Apa itu thinatul khabal?” Beliau menjawab, “Itu adalah keringat atau perasan penduduk Neraka.”(HR. Muslim)

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إنِّى أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لاَ تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلاَّ عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ لَوْ عَلِمْتُمْ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيراً وَلاَ تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشَاتِ وَلَخَرَجْتُمْ عَلَى – أَوْ إِلَى – الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللَّهِ ». قَالَ فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ وَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى شَجَرَةٌ تُعْضَدُ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat dan mendengar apa yang tidak kamu dengar, langit menggelegar dan sudah saatnya ia menggelegar setiap empat jari di langit ada malaikat yang sujud bertasbih kepada Allah. Seandainya kalian tahu apa yang aku tahu, sungguh kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa, kalian tidak akan bersenang-senang dengan isteri di atas ranjang, dan kalian akan pergi ke tempat-tempat sepi di atas gunung untuk beribadah kepada Allah”. Abu Dzar berkata, “Sungguh setelah itu akau berniat menggigit akar pohon untuk beribadah kepada Allah”. (HR. Ahmad dan Abu Dzar)

Sheikul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Manusia yang terbaik adalah para nabi, maka orang yang paling jahat adalah orang yang meniru mereka (para nabi), namun mereka sebenarnya bukan termasuk golongan mereka sedikitpun, artinya mereka hanya meniru penampilan lahirnya saja”.

Abu Wafa’ ibnu Uqail berkata,

“Berhati-hatilah terhadap perbuatan maksiat dan jangan terperdaya (tertipu), karena tangan akan dihukum potong hanya karena mencuri tiga dirham. Orang akan dihukum jilid hanya karena meminum satu tetes jarum khamr. Ada perempuan masuk nereka karena seekor kucing. Orang mati syahid akan masuk neraka, karena ia mencuri barang walau berupa lilin”.

{ دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ , قَالُوا : وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ مَرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لَا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا , فَقَالُوا لِأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ قَالَ : لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ فَقَالُوا لَهُ قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا , فَقَرَّبَ ذُبَابًا فَخَلَّوْا سَبِيلَهُ قَالَ : فَدَخَلَ النَّارَ , وَقَالُوا لِلْآخَرِ قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا قَالَ مَا كُنْت لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ : فَضَرَبُوا عُنُقَهُ قَالَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ } أخرجه أحمد في الزهد (22) وأبو نعيم في « الحلية » 1 / 203 موقوفا على سليمان الفارسي . عن طارق عن سلمان الفارسي موقوفاً بسندٍ صحيحٍ.

Dalam sebuah atsar dari sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu dia berkata:

“Ada orang yang masuk Neraka karena seekor lalat dan ada seseorang masuk surga karena juga lalat. Para shahabat bertanya, ‘Bagaimana itu terjadi wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ada dua orang laki-laki yang akan melewati sebuah kaum yang memiliki sesembahan berhala. Mereka berdua tidak boleh melewatinya sebelum mempersembahkan sesuatu untuk berhala itu.’ Ia menjawab, ‘Saya tidak memiliki apa-apa’. Mereka berkata, ‘Qurbankanlah walaupun seekor lalat’. Kemudian laki-laki itu mengorbankan seekor lalat dan mereka memperkenankan ia lewat, dan ia masuk Neraka. Mereka berkata yang satunya lagi, ‘Qurbankanlah untuk berhala kami’. Ia menjawab, ‘Saya tidak akan mengurbankan sesuatu pun selain untuk Allah’. Kemudian mereka memenggal kepalanya, dan dia masuk Surga.”(Riwayat Ahmad dalam Az-Zuhd)

Hanya dengan satu kata ini, mampu menjerumuskan seseorang ke dalam Neraka sejauh antara barat dan timur.

Barangkali ada juga orang yang terprdaya dengan nikmat yang diberikan Allah di dunia. Dia mengira bahwa nikmat itu adalah bukti cinta-Nya kepadanya dan Allah akan memberi di akhirat dengan yang lebih baik. Sikap ini adalah termasuk dalam kategori ghurur, yaitu seseorang yang mengira anggapan itu benar, padahal itu tidak.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ». ثُمَّ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika kamu melihat seorang hamba diberi oleh Allah kenikmatan dengan sesukanya atas perbuatan maksiat yang ia lakukan, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj (ujian dan untuk kemudian dihancurkan). Beliau kemudian membaca firman Allah, ‘Dan tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(QS. Al-An’Am ayat 44)” (HR. Ahmad dari Uqbah bin Amir)

Sebagian ulama salaf mengatakan,

“Jika kamu melhat Allah melimpahkan kepadamu nikmat-Nya sementara kamu berbuat maksiat kepada-Nya, maka berhati-hatilah karena itu istidraj”.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فَضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ ﴿٣٣﴾ وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِؤُونَ ﴿٣٤﴾ وَزُخْرُفًا وَإِن كُلُّ ذَلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٣٥﴾

“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka (dan begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan di atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan Akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Az-Zukhruf [43] : 33-35)

Firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ﴿١٥﴾ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ﴿١٦﴾ كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴿١٧﴾

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya untuk dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata, Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata ‘Tuhanku menghinakanku’. Sekai-kali tidak (demikian).”(QS. Al-Fajr [89] : 15-17)

Sebagian ulama salaf mengatakan,

“Banyak orang yang diberi istidraj (penangguhan) oleh Allah dengan nikmat. Padahal, ia tidak mengetahui (menyadari), dan banyak yang terbuai (terfitnah) oleh pujian manusia kepadanya dan ia tak mengetahui dan menyadari, dan banyak orang yang terperdaya, karena Allah menutupi kesalahannya dan ia tidak mengetahuinya”.

Orang yang paling tertipu adalah orang yang tertipu dunia dan kenikmatannya yang sementara. Mengutamakan Dunia atas Akhirat. Ia lebih ridha dengan kehidupan Dunia daripada kehidupan Akhirat. Mereka itu penganut paham Hedonisme. Para hedonis itu, tak yakin tentang kehidupan Akhirat. Mereka lalai. Mereka mengejar kehidupan dan kenikmatan Dunia dengan cara-cara yang bathil.

Mereka mengatakan, “Dunia itu tunai, dan kenikmatannya itu konkrit. Sementara itu, Akhirat itu belum ada sekarang. Yang sekarang berbentuk tunai itu lebih bermanfaat daripada yang belum ada. Kaum hedonis lebih memilih yang tunai. Kaum hedonis lebih memilih mutiara yang tunai, ada sekarang. Sedangkan kehidupan Akhirat, dan Surga itu, masih dijanjikan. Kelezatan dunia itu meyakinkan dan kelezatan akhirat itu meragukan. Saya tidak akan tinggalkan yang meyakinkan untuk memilih yang meragukan”.

Ini adalah bisikan dan rasukan setan yang paling dahsyat. Binatang ternak lebih pandai dari mereka. Binatang ternak bila takut dengan sesuatu yang membahayakan mereka tidak akan berjalan ke depan. Meskipun dipukul. Jika para hedonis itu mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pertemuan dengan-Nya, maka mereka adalah manusia yang paling sengsara. Karena mereka mengetahuinya. Jika mereka tidak beriman dengan itu semua, maka mereka lebih jauh lagi dari kebenaran. Sungguh ini sebuah malapetaka.

Pernyataan mereka bahwa yang tunai lebih baik daripada yang tertunda, maka jawabannya adalah jika diantara yang tunai dan yang tertunda sama nilainya, maka yang tunai lebih baik. Namun, jika keduanya berbeda, yaitu yang tertunda lebih baik dan besar nilai manfaatnya, maka yang tertunda lebih baik. Lantas bagiamana dibandingkan antara Dunia dan Akhirat? Sementara Dunia hanyalah satu nafas dari nafas-nafas Akhirat.

Orang-orang hedonis menggunakan seluruh nafas hidupnya hanyalah untuk mengejar kenikmatan. Kenikmatan syahwat. Kenikmatan perut dan kenikmatna farj (seks). Tidak lebih dari itu. Pikirannya, hatinya, dan seluruh inderanya, hanyalah diarahkan (diorientasikan) kepada pemenuhan kebutuhan perut dan farj (seks).

Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wassalam,“Perumpamaan dunia dengan akhirat adalah kalian mencelupkan jari kalian ke laut, kemudian diangkat, lihatlah dunia hanya air yang ada di jari itu”.

Maka mengutamakan Dunia yang tunai ini atas Akhirat yang tertunda adalah tipuan dan kebodohan yang besar. Jika demikian perbandingan antara Dunia beserta isinya dengan Akhirat, maka berapakah umur manusia? Berapa lama manusia menikmati Dunia? Kemudian, selanjutnya mereka akan memetik hasilnya di Akhirat.

Apakah orang yang berpikir logis akan mendahulukan kenikmatan sekarang dalam waktu singkat dan mengharamkan dirinya dari kebaikan abadi di Akhirat? Atau manusia memiliih meninggalkan kenikmatan kecil dan sebentar untuk memetik kenikmatan yang tak ternilai harganya di Akhirat, yang tak akan ada akhirnya, dan tak terhitung jumlahnya?

Orang-orang hedonis akan menyatakan, “Saya tidak akan meninggalkan sesuatu yang meyakinkan kepada sesuatu yang meragukan”. Akhirat masih meragukan bagi kaum hedonis. Karena tidak berbentuk tunai. Orang hedonis meragukan janji dan ancaman Allah. Meragukan kebenaran rasul-rasul-Nya, atau mungkin kaum hedonis meyakininya. Maka jika mereka meyakininya, sebenarnya kaum hedonis itu, hakikatnya meninggalkan hak-hak Allah ‘Azza Wa Jalla.

Mereka pasti akan hancur. Kaum hedonis itu, tak mampu merenungkan ayat-ayat Allah ‘Azza Wa Jalla, yang menunjukkan keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, Ke-Esaan-Nya, kebenaran para utusan-Nya, yang mereka mengabarkan kepada manusia, tentang kebenaran akhirat.

Mereka memperturutkan hawa nafsu, jiwanya mudah terperdaya, menuruti rayuan setan, tinggi angan-angan, mudah lalai dari kebenaran, cinta kenikmatan segera, maka keimanannya akan segera hilang dari hati kecuali atas kehendak Rabbul ‘alamin yang menahan langit dan bumi.

Karena faktor keimanan dan amal manusia yang bertingkat, hingga berada pada tingkatan keimanan yang hanya seberat atom saja dalam hatinya, mampu mengubah kehidupannya. Tetapi, bila tak ada lagi keimanan pada diri mereka, dan rendah bashirah mereka, rendahnya keshabaran, maka mereka akan terus terjerumus ke dalam kehidupan yang sangat rendah itu.

Allah memuji orang-orang yang shabar dan orang-orang beriman, yang akan diangkat menjadi pemimpin. Mereka akan menjadi penegak agama. Penjunjung tinggi kebenaran, bukan mengutamakan syahwat yang rendah.

Betapapun kaum hedonis akan mendapatkan kenikmatan dunia, yang selalu menjadi angan-angan mereka, dan yang sudah merasuki seluruh jiwa dan pikirannya. Tetapi, hanya sebentar belaka, kemudian mereka akan dicampakkan ke dalam kehinaan.

Sebaliknya, Allah akan memberikan janji kepada orang-orang yang shabar, istiqomah, tsabat (teguh), dan ikhlas, tidak tertipu dengan berbagai tipuan yang mendera mereka oleh kehidupan ala jahiliyah, yang seakan menjanjikan kenikmatan.

Firman-Nya:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ ﴿٢٤﴾

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bershabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”(QS. As-Sajdah [32] : 24)

Berharaplah pertolongan dari Allah’ Azza Wa Jalla dengan kehidupan Akhirat, yang akan memberikan balasan Surga yang kekal abadi, yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan apapun di Dunia. Wallahu a’lam.

ERAMUSLIM > NASIHAT ULAMA

http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/jangan-mengabaikan-perintah-dan-larangan-nya.htm
Publikasi: Senin, 28/11/2011 12:03 WIB

(Judul asalnya “Ingatlah Nasib Kaum Hedonis”, diubah judulnya dan diberi teks hadits oleh nahimunkar.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.381 kali, 1 untuk hari ini)