Ilustrasi hacker Bjorka. Alasan Heroik BJORKA Hacker Indonesia, sangat Heroik, Bjorka: Saya Memilih Menjadi Martir… /Pixabay/kalhh

 

Bjorka, hacker yang sedang menjadi perbincangan di Indonesia, karena meretas berbagai data warga Indonesia yang berada di beberapa instansi.

Nama Bjorka menjadi kata pencarian setelah kemunculannya. Grup Telegram dan akun Twitternya pun semakin banyak pengikut.

Di akun Twitternya, dia mengaku berada di Warsaw Polandia. Memo di profilnya ‘yea cath me if u can,”.

Bjorka mengaku telah meretas 105 juta data pemilu dari KPU. Selanjutnya dia klaim memiliki 1,3 miliar data registrasi SIM, jutaan data history pengguna Telkomsel Indihome dan data milik Badan Intelegn nasional (BIN).

Data Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate juga menjadi sasaran. Data pribadi mulia NIK, alamat, nama orang tua, nama istri, golongan darah juga dibeberkan pada publik.

Bjorka juga mengklaim telah membocorkan dokumen rahasia dari BIN kepada Presiden Jokowi. Meskipun sudah dibantah oleh Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono.

Bahkan dia juga mengancam membocorkan data milik MyPertamina sebagai dukungan kepada warga Indonesia, atas kenaikan BBM di Indonesia.

 

Apa alasan Bjorka ini meretas data di instansi milik pemerintah Indonesia?

 

Melalui akun Twitternya @bjorkanism, Bjorka membeberkan alasan melakukan peretasan di Indonesia. Dia mengaku melakukan ini agar orang-orang yang ditempatkan pada pemerintah, memiliki kemampuan yang sesuai.

 

Dia contohkan seharusnya yang mengurus teknologi di Indonesia merupakan seseorang yang mengerti. Bukan Politisi ataupun seorang Angkatan bersenjata.

 

“Saya hanya ingin menunjukan betapa mudahnya bagi saya masuk ke berbagai pintu, karena kebijakan perlindungan data yang buruk, apalagi jika dikelola oleh pemerintah,” cuitnya berbahasa Inggris, 10 September 2022.

 

“Negara ini sudah terlalu lama dijalankan secara sewenang-wenang tanpa adanya perlawanan. Mereka yang mengkritik akan dihilangkan dengan cara yang salah,” cuitnya pada Minggu 11 September 2022.

 

“Jadi Saya memilik menjadi martir untuk membuat perubahan dengan menampar wajah mereka,” lanjutnya.

 

Hal itu dilakukan oleh Bjorka, karena sang teman. Dia mengatakan jika memiliki teman Indonesia di Warsaw Polandia, tetapi dia memperingatkan untuk tidak melacaknya di Indonesia. Karena telah meninggal dunia pada tahun lalu.

 

Teman Bjorka tersebut merupakan korban kebijakan 1965, meskipun dia merupakan orang tua yang sangat pintar.

Di cuitan berikutnya, Bjorka mengatakan jika orang tersebut telah merawatnya sejak kecil namun sudah meninggal tahun lalu. Dia ingin kembali ke Indonesia dengan kemampuan di bidang teknologi, namun dia sedih melihat Habibie.

“Tampaknya sangat sulit mewujudkan keinginannya dengan cara yang benar, sehingga saya memilih cara ini. Kita punya tujuan sama, agar negara tempat dia dilahirkan bisa berubah lebih baik. Senang bertemu kalian,” cuitnya yang sudah disukai 1.996 akun.***

Editor: Yumi Karasuma

Sumber: Twitter @bjorkanism

portalpurwokerto.pikiran-rakyat.com, 11 September 2022, 11:24 WIB

(nahimunkar.org)