Seorang pria Muslim Rohingya Naseer Ud Din memegang anak laki-lakinya, Abdul Masood, yang tenggelam saat kapal yang mereka tumpangi terbalik sebelum mencapai pantai, saat istrinya Hanida Begum menangis saat mencapai pantai Teluk Benggala di Shah Porir Dwip, Bangladesh, Kamis, (14/9)


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA —  Amnesty International menyebut pihak berwenang telah memberikan peringatan di beberapa daerah bahwa rumah-rumah akan dibakar. Ini merupakan indikasi yang jelas bahwa serangan di daerah-daerah tersebut disengaja dan direncanakan.

Di Kyein Chaung, di kota Maungdaw, seorang pria berusia 47 tahun mengatakan, administrator desa mengumpulkan penduduk desa Rohingya dan memberitahu bahwa militer akan segera membakar rumah mereka. “Hal itu mendorong warga Rohingya berlindung di luar desa di tepi sungai,” tulis Amnesty International dalam keterangan tertulis, Jumat (15/9).

Keesokan harinya, 50 tentara melewati desa dari dua sisi. Mereka mendekati orang Rohingya di tepi sungai dan mulai menembak secara acak orang-orang yang panik berlarian. Sebagian menyelamatkan diri dengan berenang menyeberangi sungai.

Para tentara menembaki laki-laki dalam kelompok tersebut dari jarak dekat dan menusuk mereka yang tidak bisa melarikan diri.

Amnesty International menyebutkan saksi mata Rohingya di negara bagian Rakhine dan para pengungsi di Bangladesh menggambarkan modus operandi yang digunakan oleh aparat keamanan. Tentara, polisi, dan kelompok vigilante dituduh main hakim sendiri.

Mereka mengelilingi sebuah desa dan menembak ke udara sebelum masuk, namun sering kali hanya menyerang dan mulai menembak ke segala arah. Orang-orang melarikan diri dengan panik, kata

Saat penduduk desa yang berhasil bertahan hidup mencoba meninggalkan daerah tersebut, pasukan keamanan membakar rumah dengan menggunakan bensin dan roket peluncur.

Seorang pria berusia 48 tahun mengatakan, ia menyaksikan tentara dan polisi masuk ke desa Yae Twin Kyun di Maungdaw utara pada 8 September. Ketika militer datang, mereka menembaki orang-orang yang lari ketakutan.

“Saya melihat militer menembak banyak orang dan membunuh duaanak laki-laki. Mereka menggunakan senjata untuk membakar rumah kami. Dulu ada900 rumah di desa kami. Sekarang hanya 80 yang tersisa. Tidak ada yang tersisauntuk menguburkan mayat,” kata pria itu.

Amnesty International berhasil mengonfirmasi pembakaran dengan menganalisis foto-foto yang diambil dari seberang sungai Nat di Bangladesh. Foto itu menunjukkan pilar besar asap yang meningkat di Myanmar.

Seorang pria Rohingya lain melarikan diri dari rumahnya di Myo Thu Gyi, di Maungdaw pada 26 Agustus. Ia mengatakan, pasukan militer menyerang sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Mereka menembaki orang-orang danrumah-rumah. Mereka berjalan sekitar satu jam. Ia mengaku melihat temannyatewas di jalan.

Pukul 16.00 waktu setempat, militer mulai menembak lagi.orang-orang melarikan diri. Para tentara membakar rumah dengan bensin dan roketpeluncur. Pembakaran itu berlangsung selama tiga hari. “Sekarang tidak ada rumah di sekitar kami. Semua dibakarsepenuhnya,” ujar dia.

Data kebakaran di Myo Thu Gyi terdeteksi dari satelit pada28 Agustus.

Rep: Sri Handayani/ Red: Teguh Firmansyah

AP/ Dar Yasin

Sumber : republika.co.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 379 kali, 1 untuk hari ini)