Ilustrasi Rupiah Anjlok/ pelitaonline.com

Eramuslim.com – Situs tempo pada 24 Februari 2014 memuat satu artikel berjudul “Jokowi Jadi Presiden, Rupiah Bisa Tembus 10 Ribu”. Judul ini mengutip pernyataan Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih yang mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta, (jika) Joko Widodo bisa memenangi pemilu presiden pada Juli mendatang, maka nilai tukar (kurs) rupiah akan menguat signifikan. Dia memperkirakan penguatan akan sangat tajam bahkan bisa mencapai level Rp 10 ribu per dolar Amerika Serikat. Sejumlah ekonom dari bank asing seperti Morgan Stanley juga berpandangan demikian. Sebaliknya, jika Prabowo yang jadi presiden, maka rupiah bisa anjlok hingga Rp.13.000,-

Namun kenyataan berkata sebaliknya. Sejak Jokowi-JK dilantik jadi pemimpin bangsa dan negara ini, perlahan tapi pasti malah ramalan JK yang terbukti: “Negara Indonesia akan hancur jika Jokowi jadi presiden…”

Hari ini, Rupiah sudah tembus Rp.13.800,- terhadap dollar. Krisis semakin membayangi Indonesia. Dan bangsa ini harus menelan pil pahit, terutama bagi mereka yang dulu memilih rezim ini. Be smart! Jangan ulangi kebodohan yang lalu.(rz) Redaksi – Kamis, 28 Syawwal 1436 H / 13 Agustus 2015 06:00 WIB

***

Bandingkan dengan ketika Presiden BJ Habibi jadi Presiden. Lihat ulasan singkat ini.

***

BJ Habibie (Bag. 5) Master of Economic & Cendekiawan Muslim

Written by Al-Faqir

Habibie : Master of Economic

Sejak era reformasi 1998, tampaknya hanya Habibie yang menjadi presiden yang benar-benar sukses mengelola ekonomi dengan baik. Dalam kondisi yang amburadul, kacau balau baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan tiada hari tanpa demonstrasi, Habibie mampu membawa ekonomi Indonesia yang lebih baik.

Meskipun Presiden Singapura Lee Kuan Yeew berusaha mendiskritkan kemampuan Habibie untuk memimpin Indonesia, toh Habibie menunjukkan bukti. Ketika banyak orang yang menyangsikan bahwa Habibie mampu bertahan selama 3 hari sebagai Presiden, namun semua dapat dilalui. Lalu, pihak-pihak yang tidak suka dengan Habibie pun menyampaikan opini bahwa Habibie tidak mampu bertahan lebih dari 100 hari. Sekali lagi, Habibie membuktikan bahwa ia mampu memimpin Indonesia dalam kondisi kritis.

Dari nilai tukar rupiah Rp 15000 per dollar diawal jabatannya, Habibie mampu membawa nilai tukar rupiah ke posisi Rp 7000 per dollar. Ketika inflasi mencapai 76% pada periode Januari-September 1998, setahun kemudian Habibie mampu mengendalikan harga barang dan jasa dengan kenaikan 2% pada periode Januari-September 1999. Indeks IHSG naik dari 200 poin menjadi 588 poin setelah 17 bulan memimpin. Tentu, indikator-indikator kesuksesan ekonomi era Habibie tidak dapat diikuti dengan baik oleh masa pemerintah Megawati maupun SBY.

http://pks-qatar.net/

***

Nilai Tukar Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah di Era Jokowi

JAKARTA (voa-islam.com) – Jokowi yang sudah menjadi ‘cover’ Majalah Time dengan judul ‘A New Hope’, justru membuat bangkrut rupiah. Kepercayaan terhadap rupiah ambruk di masa pemerintahannya.  Hal ini akan menambah berjibunnya utang Indonesia.

Jadi kepercayaan internasional terhadap Jokowi itu, ‘nothing’. Terbukti Jokowi juga tidak masuk nominasi dalam calon tokoh-tokoh dunia. Jokowi hanya ramai ‘di awal’ oleh para media ‘begundal’ yang sengaja mempopulerkan Jokowi. Sesudah itu, ambruk dan terpuruk, dan ini terbukti dengan indikator turunnya nilai tukar rupiah.

http://www.voa-islam.com/, Senin, 27 Syawwal 1436 H / 15 Desember 2014 10:58 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.021 kali, 1 untuk hari ini)