Ini Keterlaluan! … Gubernur Kaltim: Pak Jokowi Pasti Masuk Surga, Tak Usah Lagi Ibadah

    Ibu Kota Negara Pindah ke Kaltim, Gubernur: Pak Jokowi Pasti Masuk Surga, Tak Usah Lagi Ibadah

    Menurut Sufi, Sebagian Orang Tidak Perlu Beribadah Lagi?!

Raja yang Suka Berdusta Tidak Akan Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Qiyamat

Ada Hadits Ancaman bagi Pembela Umara’ yang Zalim

Silakan simak ini.

 

***

 

Ibu Kota Negara Pindah ke Kaltim, Gubernur: Pak Jokowi Pasti Masuk Surga, Tak Usah Lagi Ibadah


 

 

Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Isran Noor mengisahkan pernah menyampaikan ke Presiden Jokowi, bahwa Jokowi bakal masuk surga karena telah memindahkan ibu kota negara.

 
 

Alasannya, karena di era kepemimpinan Jokowi, rencana ibu kota negara yang telah diwacanakan tiga mantan presiden sebelumnya, terealisasi di Kaltim.

 

Tiga mantan presiden yang dimaksud Isran yakni mantan Presiden Soekarno, Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

“Makanya saya sampaikan kepada Bapak Jokowi (presiden). Mas Jokowi, Bapak Presiden, Bapak itu pasti masuk surga. Tidak usah lagi Bapak itu beramal ibadah,” ungkap Isran Noor saat memberikan kuliah umum terkait potensi dan keberlanjutan ibu kota negara di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, yang disiarkan langsung melalui zoom meeting, Rabu (7/4/2021).

 

Isran mengatakan dengan memindahkan ibu kota negara, Jokowi telah mewujudkan cita-cita dua kepala negara yang sudah meninggal dunia yakni Soekarno dan Soeharto.

 

“Artinya Bapak (Jokowi) mewujudkan cita-cita itu,” tutur  Isran.

 

Sebagai informasi, Soekarno mewacanakan pemindahan ibu kota negara ke Palangka Raya, Kalteng, pada 1965.

 

Soeharto mewacanakan daerah Jonggol, Bogor, sebagai ibu kota negara. Setelah tenggelam, pada 2010 wacana ibu kota negara kembali muncul setelah SBY menawarkan opsi pemindahan ibu kota negara sebagai cara mengatasi kemacetan di Ibu Kota Jakarta.

 

Memasuki era pemerintah Jokowi, tepat 2019 pemerintah memutuskan ibu kota negara pindah ke Kalimantan Timur, tepatnya di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

 

Isran melanjutkan, saat itu, Jokowi menyampaikan ke dirinya bahwa pemindahan ibu kota negara ke Kalimatan Timur, tidak ujug-ujug, tapi melalui proses panjang.

 

Bahkan kajian strategis sudah dilakukan sejak tahun kedua masa pemerintahan Jokowi, pada 2016.

 

“Jadi Bapak (Jokowi) tidak usah khawatir pasti Bapak masuk surga,” tutur Isran lagi.

 

Tak hanya itu, Isran juga mengaku meminta Jokowi tak perlu pikir panjang dalam memindahkan ibu kota negara. 

 

“Bapak tidak usah pikir juga. Karena kalau Bapak bisa pindahkan ibu kota ini. Bapak akan dikenang oleh anak bangsa ini sampai kapan pun sebagai sebuah wujud karya besar kepala negara,” jelas Isran sebelum masuk ke materi kuliah umumnya.

 

Kurang lebih satu jam Isran Noor menyampaikan materi kuliah umum dihadapan Rektor UI, Prof Kuncoro, para dekan dan pembantu dekan serta mahasiswa yang menyaksikan secara langsung (offline) di Gedung IASTH lantai 5 Kampus UI, Salemba, Jakarta.

 

Sementara, peserta yang menyaksikan melalui zoom meeting, pantauan Kompas.com di atas 200 peserta.

 

Dalam pemaparannya, Isran menyampaikan kondisi sosial ekonomi di Kaltim serta letak daerah yang dinilai strategis sebagai ibu kota negara. Selain itu, Isran juga memaparkan infrastruktur pendukung yang sudah terbangun serta konsep pembangunan ibu kota negara yang ramah lingkungan.

 

Source: Silahkan Klik Link Ini

Diterbikan: oposisicerdas.com

Foto: Tangkapan layar via meet zoom saat Gubernur Kaltim Isran Noor memaparkan materi potensi dan keberlanjutan ibu kota negara di Kaltim dalam kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta, Rabu (7/4/2021). (Istimewa)

Kamis, April 08, 2021 Politik, Trending Topic

***

Menurut Sufi, Sebagian Orang Tidak Perlu Beribadah Lagi?!

MENURUT SUFI, SEBAGIAN ORANG TIDAK PERLU BERIBADAH LAGI (?!)

Oleh
Ustadz Abu Minhal

Ketika seseorang (atau suatu golongan) tidak berpijak pada nash syar’i dengan pemahaman yang lurus, tidak mengherankan bila kemudian akan muncul pemahaman, keyakinan, perilaku, bentuk ibadah yang tidak sesuai dengan syariat, bahkan juga benar-benar bertentangan dengan syariat. Naûdzubillâh minal khudzlân

Sebut saja golongan Sufi yang cukup mendominasi di tengah masyarakat. Golongan satu ini sebenarnya sarat dengan –kalau boleh dikatakan- keanehan-keanehan yang jelas bertabrakan dengan syariat yang dibawa Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Salah satu pandangan (keyakinan) mereka, ada sebagian orang yang tidak perlu lagi menjalankan syariat Allâh Azza wa Jalla atas dirinya di kehidupan dunia ini. Kedekatan kepada Allâh lah yang membuat hukum taklîf gugur dari pundak mereka. Kewajiban shalat lima waktu, zakat dan kewajiban-kewajiban lain yang terkandung dalam seluruh perintah Allâh Azza wa Jalla gugur atasnya demi kedudukannya yang tinggi di sisi Allâh Azza wa Jalla . Bahkan tidak ini saja, mereka juga memandang sosok-sosok ‘istimewa’ ini boleh melakukan tindakan haram, seperti zina, minum khomr dan perbuatan lain yang secara dzat memang haram dalam syariat Islam.

Ibnu Hazm rahimahullah menerangkan tentang keanehan keyakinan Sufi tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan, “Satu sekte Sufi mengklaim bahwa wali-wali Allâh Azza wa Jalla itu lebih utama ketimbang seluruh nabi dan rasul(?!). Mereka mengatakan, “Siapa saja telah mencapai derajat tertinggi dalam kewalian, niscaya seluruh (tanggungan) syariat gugur pada dirinya seperti shalat (lima waktu), puasa (Ramadhân), (membayar) zakat dan lainnya. Perkara-perkara haram semisal zina, minum khamer dan lainnya menjadi halal bagi dirinya. Akibatnya, mereka ini pun menghalalkan menggauli istri-istri orang.”[1]

Inilah aqidah yang sering kali dipakai oleh sebagian masyarakat untuk membela sosok yang mereka tokohkan bila melakukan hal-hal yang tampak jelas melanggar syariat. Mereka mengatakan, “Dia khan wali Allâh, sudah mencapai ma’rifat”. Atau mengelu-elukan seseorang dengan ekstra dengan satu alasan, lantaran telah mencapai derajat ma’rifah meski secara lahiriah tidak tampak dirinya berkomitmen dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

HUKUM KEYAKIAN INI
Sungguh aneh, seseorang bisa bebas dari tanggungan ibadah dan bebas melanggar syariat Ilahi dengan dalih telah mencapai derajat tinggi di sisi Rabbnya. Berdasarkan logika sehat saja, pandangan di atas sudah dapat disimpulkan hukumnya dalam Islam. Keyakinan di atas secara tidak langsung mendustakan sejarah yang menyebutkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat , insan-insan yang jelas jauh lebih baik dari mereka, tetap beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla sampa akhir hayat. Bagaimana mungkin seorang hamba Allâh Azza wa Jalla di dunia ini akan mencapai sebuah fase dimana ia bebas lepas dari aturan syariat?! Karenanya, tidak heran bila keyakinan ini di vonis kufur, dhalâl (sesat) dan jahl (kebodohan nyata). [2]


Baca Juga  Perbedaan Ahlus Sunnah Dengan Rafidhah Dalam Perkara Ushul Dan Furu

 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menilainya dengan vonis kufur dan ilhâd (menyimpang) dari agama Islam. Setelah menukil perkataan salah seorang mereka yang mengatakan, “Kedekatan haqiqi memindahkan seorang hamba dari kondisi zhahir kepada alam batin serta mengistirahatkan tubuh dan anggota badan dari kelelahan akibat beramal (ibadah),” selanjutnya beliau t mengatakan, “Kekufuran dan penyimpangan mereka ini sangat besar. Sebab, telah menyingkirkan ‘ubûdiyah (dari manusia) dan berkeyakinan bahwa mereka itu tidak perlu lagi melakukan ibadah karena merasa telah puas dengan khayalan-khayalan batil yang berasal dari angan-angan dan tipu daya setan.” [3]

IBADAH KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA, KEWAJIBAN SAMPAI AJAL TIBA
Manusia sebagai hamba Allâh Azza wa Jalla , berkewajiban mengabdikan diri kepada al-Khâliq dengan berbagai macam cara yang sudah ditentukan oleh-Nya. Dunia sebagai ladang akhirat juga menguatkan akan hal ini, bahwa penghambaan manusia kepada Allâh Azza wa Jalla Rabbul Alamin tidak boleh berhenti kecuali ketika nafasnya telah dihentikan. Tentang kewajiban beribadah selama hayat masih di kandung badan, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) [al-Hijr/15:99]

Inilah ayat yang disalahpahami oleh mereka. Mereka mengartikan al-yaqîn dengan ma’rifah. Ini jelas tidak bersandar pada apapun yang dibenarkan dalam menafsirkan ayat. Berdasarkan ayat ini, menjalankan ibadah seperti shalat dan lainnya tetap wajib hukumnya atas setiap insan selama akal sehat (tetap ada). Khusus tentang kewajiban melaksanakan shalat, maka shalat itu dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang disanggupi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Imrân bin Hushain z , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Kerjakanlah shalat dengan berdiri, bila tidak mampu, (kerjakan) dengan duduk. Bila tidak mampu (kerjakan) dengan berbaring [HR. al-Bukhâri no. 1117][4]


Baca Juga  Al-Bathiniyah Kelompok Sesat Dan Menyesatkan

 

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menjadi dalil kesalahan kaum mulhid (pelaku kekufuran) yang berpendapat bahwa pengertian al-yaqîn (dalam al-Hijr 15/99) adalah ma’rifah. (Sehingga menurut versi mereka) siapa saja yang telah mencapai derajat ma’rifah, maka tanggungan (taklîf)nya gugur. Ini adalah bentuk kekufuran, kesesatan dan kebodohan. Para nabi ‘alaihimus salâm dan para sahabat mereka merupakan orang-orang yang paling mengenal Allâh Azza wa Jalla , paling tahu hak-hak dan sifat-sifat-Nya dan segala bentuk pengagungan yang menjadi hak Allâh Azza wa Jalla , meski demikian mereka adalah insan-insan yang paling tinggi penghambaan dirinya kepada Allâh Azza wa Jalla dan paling banyak beribadah dan berbuat kebaikan sampai ajal datang. Yang dimaksud dengan al-yaqîn di sini adalah kematian, seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya”.[5]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,, “Sesungguhnya, semakin dekat seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla , maka jihâdnya (kesungguhannya dalam beribadah) akan lebih besar” Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allâh dengan jihad yang sebenar-benarnya. [al-Hajj/22:78]

Kemudian beliau t menjadikan potret kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat sebagai bukti nyata. Beliau t berkata, “Cermatilah kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat. Ketika mereka kian menapaki derajat kedekatan kepada Allâh Azza wa Jalla (yang tinggi), maka kesungguhan mereka dalam beribadah semakin tinggi”.

PENUTUP
Menafsirkan ayat bukanlah pekerjaan yang mudah, membutuhkan perangkat banyak yang harus dikuasai seseorang untuk dapat menafsirkan ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla , termasuk di dalamnya mengenal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya telah memberitahukan bahwa al-yaqîn bermakna kematian, bukan ma’rifah. Wallâhu a’lam

Daftar Pustaka:
1. Bayâni Mauqifil Ibnil Qayyim min Ba`zhil Firaq, DR. ‘Awwâd bin ‘Abdullâh al-Mu’tiq hlm. 141-143
2. Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm, Imam Ibnu Katsîr, Dar Thaiba 4/553-554

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1431H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. al-Fashl 4/226
[2]. Lihat Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm 4/554
[3]. Madârijus Sâlikîn 3/118
[4]. Lihat Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm 4/554
[5]. Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm 4/553
[6]. Madârijus Sâlikîn 3/118

https://almanhaj.or.id/3629-menurut-sufi-sebagian-orang-tidak-perlu-beribadah-lagi.html

***

Raja yang Suka Berdusta Tidak Akan Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Qiyamat

صحيح مسلم (1/ 102)

172 – (107) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ – وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ “

__________

[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]

 [ ش (وعائل) العائل هو الفقير]

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan Dia tidak akan mensucikan mereka… –Abu Mu’awiyah berkata, “Dan Tidak akan dilihat oleh Allah.”– Dan bagi mereka adzab yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim).

شرح السنة للبغوي (13/ 168)

عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ثَلاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلا يُزَكِّيهِمْ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُتَكَبِّرٌ «.

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ، أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ وَكِيعٍ، وَأَبِي مُعَاوِيَةَ، وَزَادَ فِي رِوَايَةِ أَبِي مُعَاوِيَةَ» وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “.

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan Dia tidak akan mensucikan mereka: orang tua yang berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong.” Ini hadits shhih, dikeluarkan oleh Muslim dari AbiBakrah bin Syaibah, dari Waki’ dan Abi Mu’awiyah. Dan tambahan dalam riwayat Abi Mu’awiyah: , “Dan Tidak akan dilihat oleh Allah. Dan bagi mereka adzab yang pedih”. (Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi 13/168).

Ada Hadits Ancaman bagi Pembela Umara’ yang Zalim

Ada kesan, kerasnya tuduhan terhadap siapa saja yang dianggap sangat bersalah karena mengkritik kezaliman pemimpin padahal kezalimannya itu terhadap Islam, sedang Islam itu ya’lu wala yu’la, tingginya melebihi kehormatan siapapun, maka semestinya Islam itulah yang dibela, namun sebagian manusia justru membela kehormatan manusia itu setinggi-tingginya hingga mengecam pengkritiknya setajam-tajamnya dikaitkan dengan Zulkhuwaisirah segala; maka dikhawatirkan perbuatan itu justru termasuk membela kezaliman. Itupun kezaliman terhadap Islam.

Oleh karena itu, seharusnya manusia ini menyadari, perbuatan yang sudah tegas-tegas ancamannya itulah yang mesti dihindari. Bukan malah dilakoni sambil mengecam sekeras-kerasnya terhadap siapapun yang belum tentu perbuatan mengkritiknya demi ketinggian Islam itu terkena ancaman nas.

Inilah di antara ancaman yang perlu disadari.

***

Hadits tentang Para Pemimpin yang Bohong

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ : ” إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ” ، هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ ، أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ ، فَوَقَعَ لَنَا بَدَلًا عَالِيًا ، وَأَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ

سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ ، مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ ، وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ ، وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ.

(النسائى في كتاب الإمارة).

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallambersabda: “Akan ada setelah (wafat)ku (nanti) umaro’ –para amir/pemimpin—(yang bohong). Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan membantu/mendukung kedhaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak (punya bagian untuk) mendatangi telaga (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (umaro’ bohong) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kedhaliman mereka, maka dia adalah dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (di hari kiamat). (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan An-Nasaa’i dalam kitab Al-Imaroh).

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 433 kali, 1 untuk hari ini)