Ilustrasi suaranasional

Pidato KH Munif Zuhri dalam acara pembukaan Konferwil PWNU Jateng, 7 Juli 2018, telah menyebut NU Sudah Agama.

Itu pidato resmi di acara pembukaan konferensi wilayah NU Jawa Tengah, yang hanya diadakan sekali dalam 5 tahun, karena untuk memilih (ketua) Rais Syuriyah, dan Ketua NU Wilayah. Jadi kalau di tingkat nasional namanya Muktamar NU. Para pejabat dan seluruh pengurus NU di bawah wilayahnya diundang semua, plus undangan untuk para ulama dan tokoh2. Maka pidato yang menyebut “NU sudah agama” itu tidak bisa dianggap sebagai angin lalu belaka.

Cuplikan pidato seorang kyai NU dari Demak Jawa Tengah berbahsa Jawa itu sebagai berikut:

“NU niku wis agomo

Ora NU neroko

Soal ono wong ora NU kok mlebu swargo, iku ditulung karo wong NU. Gampang.”

(KH. Munif Zuhri Zuhri dalam acara pembukaan Konferwil PWNU Jawa Tengah, 7 Juli 2018.)./dutaislam.com

Bahasa Indonesianya:

NU itu sudah agama.

Tidak NU neraka. Soal ada orang bukan NU kok masuk surga itu ditolong oleh orang NU. Mudah.

(KH. Munif Zuhri Zuhri dalam acara pembukaan Konferwil PWNU Jawa Tengah, 7 Juli 2018.)./dutaislam.com

Videonya ini:

Coba bandingkan dengan surga Dajjal

Klaim kyai NU tentang surga dan neraka (tidak NU (maka masuk) neraka) itu coba mari kita bandingkan dengan surga dan nerakanya Dajjal.

Surga Dajjal adalah neraka dan neraka Dajjal adalah surga

عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ، مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ، فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ»

Dari Hudzaifah , Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkata: “Dajjal cacat matanya yang kiri, keriting rambutnya, bersamanya surga dan nerakanya. Nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim, no. 2934)

***

Sebelum ini ramai pula adanya klaim dari dedengkot NU. Beredar video yang menjelaskan: Dedengkot NU Penerus Gus Dur Mengklaim Islam Nusantara lah yang Islam Sejati, dan mengecam Islam Arab / Timur Tengah sebagai Islam Abal-abal https://www.nahimunkar.org/dedengkot-nu-penerus-gus-dur-mengklaim-islam-nusantara-lah-yang-islam-sejati-dan-mengecam-islam-arab-timur-tengah-sebagai-islam-abal-abal/

Klaim itu diucapkan Yahya Cholil Staquf dedengkot NU yang dekat dengan Jokowi. Dia baru saja pulang dari “Israel”. Tampaknya sebagai bekas juru bicara Gus Dur, dia mengaku pula sebagai penerus Gus Dur (dalam hal berkomplot dengan Yahudi Zionis?).

Soal Islam Nusantara itu justru kemudian ditanyakan kepada dedengkot NU yang di Australia. Khabarnya lagi ramai. Di antaranya ada netizen menulis komentar sebagai berikut:

Abd Aziz : Tapi ketika ditanya Islam Nusantara buatannya sama tidak dengan Islam yang dibawa nabi Muhammad Shollollohu’alaihi wa salam? Dia jawab Sama. Kalau sama kenapa repot2 bikin Islam Nusantara? Bungkam, nggak bisa jawab dia. Ditanya lagi jika berbeda, dimana letak perbedaannya? Sampai sekarang dia nggak bisa jawab dan nggak ngebalas tweeernya. Kasihan sekali, semoga diberi Hidayah.

Disahut netizen lain:

Maksudnya, Nadirsyah Hosen petinggi NU yg di Australia?

Kasihan bapaknya yg sudah wafat (Prof KH Ibrahim Hosen LML asal Bengkulu alumni Mesir, ulama MUI terkemuka yg senantiasa memimpin Komisi Fatwa MUI. Beliau pernah di pengadilan sebagai saksi ahli dan menegaskan bahwa jilbab itu wajib bagi kaum Muslimah/ wanita Muslim. Tidak seperti fahamnya orang liberal ataupun dedengkot lain seperti Quraish Shihab yang mengaggap jilbab itu budaya Arab). Kini anak lanange Prof Ibrahim Hosen itu (Nadir Syah Hosen, NU Australia) ternyata jadi pentolan apa yang disebut Islam Nusantara (liberal). Semoga mingkemnya (tidak menjawab pertanyaan soal Islam Nusantara yang ditanyakan orang)  itu diikuti dengan pertaubatan. Karena ilmu tidak manfaat itulah yang senantiasa perlu dihindari, bahkan ada tuntunan doa untuk itu. Ingatlah, tepuk tangan dan sanjungan orang-orang liberal yang menyelisihi Islam tidak akan menolong sedikitpun ketika kita sudah meninggal dunia.

Hitung-hitung, dari kalangan NU setelah Said Aqil Siradj dan Msdar F Mas’udi yang sudah sering keblosok-blosok oleh ucapannya sendiri, kini menyusul pula Yahya Cholil Staquf (Dedengkot NU Penerus Gus Dur Mengklaim Islam Nusantara lah yang Islam Sejati, dan mengecam Islam Arab / Timur Tengah sebagai Islam Abal-abal), KH Munif Zuhri (Pidato dengan mengatakan: NU Itu Sudah Agama. Tidak NU Neraka. Soal ada orang bukan NU kok masuk surga itu ditolong oleh orang NU. Mudah), dan Nadirsyah Hosen pentolan NU Australia (yang mingkem ketika ditanya soal perbedaan Islam Nusantara dengan Islam).

Siapa menyusul untuk keblosok?

Dikhawatirkan

Yang dikhawatirkan, Umat Islam akan jadi saksi mujarab ketika mereka (orang-orang NU yang kebangetan nyelenehnya mengenai Islam) meninggal dunia. Karena ada hadits yang cukup penting untuk jadi peringatan benar-benar.

Ada hadits yang tetap (kuat riwayatnya) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

 مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا وَجَبَتْ قَالَ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “wajabat” (Pasti baginya). Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Beliaupun bersabda: “Pasti baginya”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Apa yang dimaksud “wajabat” (pasti baginya)?. Beliau menjawab: “Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga sedang jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”. (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasaai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, dan al-Baghawi). (Al-Lajnah Ad-Daaimah juz 11 halaman 165, fatwa nomor (2612)

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.830 kali, 1 untuk hari ini)