NKRI Jaya ~ Pasca aksi damai 411 yang berakhir dengan sedikit kericuhan yang dipicu oleh penyusupan para provokator non-Muslim di depan Istana Merdeka, Jokowi sibuk blusukan ke berbagai kesatuan elit TI/Polri, mengunjungi barak-barak mereka, dan dengan yakinnya berkata jika dirinya, yang mengklaim sebagai Panglima Tertinggi TNI/Polri, bisa mengerahkan pasukan elit ini kapan saja jika keadaan negara dalam situasi darurat.

Klaim sebagai Panglima Tertinggi TNI/Polri ini langsung dibantah oleh mantan Menkopolhukamnya sendiri, Laksamana Tedjo Edhie, dengan mengatakan jika UUD 1945 tidak menyatakan demikian. “Lihat pasal 10 UUD 1945!” tegas Tedjo.

Banyak pengamat dan analis mengatakan jika Jokowi, yang ngacir ke bandara ketika aksi 411 yang diikuti sekurangnya 2,3 juta peserta itu, tengah melakukan show of force. Mereka menyatakan jika Jokowi tengah menakut-nakuti dan memamerkan kekuasaannya yang sanggup mengerahkan kekuatan TNI/Polri jika umat Islam hendak mengancam kekuasaannya. Jokowi yang menganggap dirinya sebagai personifikasi negara yakin jika kesatuan-kesatuan elit TNI/Polri itu berada di bawah kendalinya dan siapa pun yang hendak mengancam dirinya berarti mengancam NKRI. Ini tentu saja sebuah hayalan naif, mengingat TNI/Polri adalah pengawal kedaulatan dan harga diri NKRI, bukan kepada pribadi-pribadi. Jika seorang presiden terbukti mengkhianati NKRI, maka adalah konyol jika TNI/Polri juga akan ikut–ikutan mengkhianati NKRI. TNI/Polri adalah garda terdepan penjaga dan pengawal kedaulatan dan keutuhan NKRI sampai kapan pun.

Singkatnya, dengan blusukan ke berbagai barat kesatuan elit TNI/Polri, maka Jokowi hendak memberi pesan kepada umat Islam jika dirinya kuat dan diback-up oleh TNI/Polri secara penuh. Benarkah demikian?

Pagi ini, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, mengundang Kapolri dan juga para ulama dan habaib, sebagian besar yang mengikuti aksi 411, di Monas Jakarta, dalam acara bertajuk Doa Bersama Untuk Keselamatan Bangsa. Dengan acara ini, Panglima TNI Jenderal Gatot bisa jadi mengirimkan jawaban kepada Jokowi jika TNI/Polri akan selalu bersama rakyat, akan selalu bersama bangsa yang menginginkan Indonesia utuh dan berdaulat, bukan bersama para boneka asing dan aseng yang jelas-jelas dalam setiap kebijakannya selalu menguntungkan para cukong.

Acara Doa Bersama TNI/Polri dan para Ulama serta Habaib di Monas pagi ini bisa saja diinterpretasikan sebagai  jawaban dari Panglima TNI dan juga Polri kepada penguasa agar janganlah bermain-main dengan amanah rakyat dan jangan sekali-kali mengkhianati konstitusi NKRI.

Atau bisa juga, ini sebuah upaya dari aparatur negara untuk meredam aksi bela Islam lanjutan yang memang akan digagas kembali karena si penista agama masih saja bergentayangan dengan bebasnya, walau statusnya sudah tersangka. Semoga saja Allah Swt memberikan umat-Nya jalan yang terbaik. Amien.

Sumber Berita : eramuslim.com/nkrijaya.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 24.022 kali, 1 untuk hari ini)