Inikah yang dinamakan Toleransi…?

 

  • TOLERANSI YANG KEBLABLASAN

 


aqidah nya hanya sebatas perut??

 

Ini adalah suasana selamatan 40 hari wafatnya seorang Kristen Katolik (lihat salib di dinding rumah) yang dihadiri oleh warga *NU* di Magetan, Jawa  Timur

 

Padahal para Ulama telah sepakat (Ijma’) akan ‘haramnya mendoakan orang kafir agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir’.

 

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

 

Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nash Alqur’an dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

 

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب

 

Semoga Alloh Melindungi kita dari bahaya Fitnah Akhir Zaman ini… Ahadun Ahad ☝️ Allohu Akbar mari Kita pahami Aqidah Al Wala’ (Loyalitas) sesama Muslim Wal’/dan Baro’ (Berlepas Diri) dari Non Muslim dan Munafik jangan makna Al Wala’ wal Baro’nya itu dibalikkan maknanya, Kedudukan *al-wala’ wal bara’* dalam Islam sangatlah tinggi, karena dia adalah tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallohu alaihi wa Salam: “Tali iman paling kuat adalah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh”. (HR. Ibnu Jarir)

 

Dan dengan al-wala’ wal bara’-lah kewalian dari Alloh dapat tergapai. Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallohu anhu: “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Alloh, memberi wala’ karena Alloh dan memusuhi karena Alloh maka sesungguhnya dapat diperoleh kewalian Alloh hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman, sekali pun banyak shalat dan puasanya, sehingga ia melakukan hal tersebut. Dan telah menjadi umum persaudaraan manusia berdasarkan kepentingan duniawi, yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya”. (HR. Thabrani dalam Al-Kabir). Firman Alloh mengenai Al Wala wal Baro’ silahkan rujuk dalilnya yakni:

 

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Alloh, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang-siapa mengambil Alloh, RasulNya dan orang-orang yang beri-man menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang”. (Qs. Al-Maidah: 55-56)

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia …”. (QS.Al-Mumtahanah: 1)

 

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain”. (QS. Al-Anfal: 73)

 

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadilah: 22). 

 

Semoga bermanfaat info ini. Barokallohu fiikum

 

Alfaqir,

 

*Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal, S.Pd, M.Pd, I* حفظه اللّٰه تعالى 

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, saat ini Domisili Bekasi Kota)

 

***

Peringatan Empat Puluh Hari Kematian Adalah dari Adat Fir’aun

بدعة الأربعين عادة فرعونية

 


 

Soal:

Apa asal mulanya peringatan empat puluh (hari kematian) itu, dan apakah ada dalil atas disyari’atkannya mengenang (memperingati) mayit?

Jawab:

Pertama: Asal mulanya, peringatan (empat puluh hari kematian) itu adalah adat Fir’aun, dahulu terjadi di hadapan Fir’aun-fir’aun sebeum Islam, kemudian menyebar dari mereka dan berjalan ke kalangan selain mereka. Dan peringatan (empat puluh hari kematian) itu adalah bid’ah munkaroh (hal yang diada-adakan secara baru –dalam agama– yang buruk), tidak ada asal mula baginya dalam Islam, (maka) ditolak oleh hadits yang tetap (kuat riwayatnya) dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR Muslim)

Kedua: Mengenang (memperingati) mayit dan meratapinya dengan cara yang ada sekarang, berupa kumpul-kumpul untuk itu, dan keterlaluan dalam menyanjungnya, itu tidak boleh. Karena ada hadits yang diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan al-Hakim dari hadits Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْهَى عَنْ الْمَرَاثِي

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang al maratsi (meratapi mayit). (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan al-Hakim dari hadits Abdullah bin Abi Aufa)

Dan (tidak boleh pula) tatkala dalam penyebutan sifat-sifat mayit berupa kebanggaan pada umumnya dan memperbarui duka cita dan membangkitkan kesedihan.

Adapun sekadar memuji mayit ketika menyebutnya, atau lewatnya jenazah, atau untuk mengenalkannya, dengan menyebut perbuatan-perbuatannya yang besar dan semacam itu, yang menyerupai ratapan sebagian sahabat karena kematian seseorang dan lainnya, maka boleh. Karena ada hadits yang tetap (kuat riwayatnya) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

 مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا وَجَبَتْ قَالَ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “wajabat” (Pasti baginya). Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Beliaupun bersabda: “Pasti baginya”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Apa yang dimaksud “wajabat” (pasti baginya)?. Beliau menjawab: “Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga sedang jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”. (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasaai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, dan al-Baghawi). (Al-Lajnah Ad-Daaimah juz 11 halaman 165, fatwa nomor (2612)

 

Bid’ahnya Peringatan 40 Hari Kematian

Syaikh Abu Thariq Al-Buwaihiyawi Abdullah Hashruf Al-Jazairy menjelaskan tentang bid’ahnya empat puluhan (peringatan 40 hari kematian). Pada akhirnya beliau menjelaskan:

Bid’ah empat puluhan (peringatan orang mati pada hari keempat puluh, Jawa :matang puluh, pen) itu adalah adat Fir’auniyah yaitu mayit baru dikubur setelah 40 hari dari pembalsemannya, dan tampak bagi ahli-ahli pembalseman dari orang yang memiliki keahlian dan pengalaman, mereka berpandangan bahwa jangka (40 hari) ini telah cukup untuk menyela-nyelai bahan pembalseman ke jasad mummi, dan jauh dari pembusukan atau lembek setelah dipendam. Mereka menyambut pelayat dua kali: pertama ketika wafatnya, dan yang kedua setelah dipendamnya (dikuburkannya). Adat ini masih tersisa di Mesir setelah memeluk agama Masehi berhalais. Dan (masih tersisa pula) di kalangan orang-orang awam dari pengikut taqlid buta setelah masuknya Islam ke Mesir, kemudian tersebarlah (sisa adat Fir’aun itu) ke seluruh dunia Islam.

Dan demikianlah kerancuan kaum Muslimin terhadap pengadopsian bid’ah ini sehingga mereka memakaikan “sorban” Islam padanya. (Abu Thariq Al-Buwaihiyawi al-Jazairi, بدعة الأربعين 09 shafar 1420H/ 25 Mei 1999, www.majles.alukah.net)

 

و بدعة الأربعين عادة فرعونية و هي أن الميت يدفن بعد أربعين يوما من تحنيطه، و يبدو أن خبراء التحنيط ممن لهم خبرة و ممارسة قد رأوا أن هذه المدة كافية في أن تتخلل مواد التحنيط في جسم المومياء، و تبعد عنه التعفن و التحلل بعد دفنه، و يتقبلون العزاء مرتين: مرة عند الوفاة و مرة ثانية بعد الدفن، و بقيت هذه العادة في مصر بعد اعتناق المسيحية الوثنية، و بين عوام الناس من أهل التقليد الأعمى بعد دخول الإسلام مصر ثم انتشرت إلى العالم الإسلامي.

و هكذا تهافت المسلمون إلى تبني هذه البدعة حتى ألبسوها “عمامة ” الإسلام.

09 صفر 1420 هـ

25 ماي 1999 مـ

أبو طارق البويحياوي الجزائري

http://www.merathdz.com/upload/aln3esa-1204328935.gif

http://www.merathdz.com/play.php?catsmktba=1540

 

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, Kuburan-Kuburan Keramat di Nusantara, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011).

https://www.nahimunkar.org/peringatan-empat-puluh-hari-kematian-adalah-dari-adat-firaun/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.577 kali, 1 untuk hari ini)