VIVAnews – Pengamat Tindak Pidana Teroris, Al Chaidar, menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 13 aliran sesat yang sampai saat ini sudah memasuki dan hidup subur di wilayah Indonesia.

13 aliran itu di antaranya, Syiah, Jamaah Ahmadiyah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Agama Salamullah/Lia Eden, Aliran Kutub Robani, Kelompok Husnul Huluq, Jemaat Kristiani Pondok Nabi dan Rasul Dunia, NII KW IX Pontren Alzaytun Indramayu, Darul Islam (DI Fillah), Wahidiyah, Al Qiyadah Al Islamiyah, Al – Qur’an Suci, dan Aliran Hidup di Balik Hidup

Namun, tidak semua aliran tersebut divonis sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Ada satu aliran yang tidak divonis sesat, yaitu NII KW IX Pontren Alzaytun Indramayu,” ungkap Chaidar kepada VIVAnews, Kamis 25 September 2014.

Padahal, lanjut Chaidar, secara ajaran Alzaytun sangat jauh melenceng dari ajaran agama Islam. “Makanya, saya juga heran kenapa itu (Alzaytun) tidak divonis sesat. Mungkin, karena punya (campur tangan) pemerintah,” tudingnya.

Lebih jauh, Chaidar menjelaskan, sebagian besar aliran sesat masuk ke Indonesia melalui tiga negara yakni Malaysia, Pakistan, dan Banglades.

“Kalau dari Malaysia itu biasanya lewat Al-Arqam. Pakisan lewat Jamaah Islami, dan Jamaah Tabligh Banglades. Biasanya, mereka mulai menyusupkan ajarannya di tempat-tempat itu,” bebernya. (asp)

© VIVA.co.id Kamis, 25 September 2014, 19:49Haris Supriyanto

***

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.
Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:
“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.
MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 32.599 kali, 6 untuk hari ini)