Negara-negara Asia Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam disebut juga ikut sebagai partisipan

Surat kabar penjajah Haaretz menerbitkan daftar negara-negara untuk berpartisipasi dalam upacara pembukaan kedutaan AS di Al Quds pada hari Senin, di tengah-tengah provinsi Rusia dan negara-negara Arab dan Islam dan sebagian besar Uni Eropa.

Daftar ini mencakup 32 negara, dengan pengecualian delegasi AS, diwakili oleh putri Presiden AS Ivanka Trump dan suaminya, Jared Kouchner, Menteri Keuangan Steven Menuchin, Deputi Menteri Luar Negeri AS John Salivan dan 12 anggota Kongres.

Doantara negera-negara yang berpertisipasi adalah empat negara Uni Eropa  Austria, Republik Ceko, Hongaria dan Rumania, serta anggota non-UE  Albania, Makedonia, Serbia, Georgia, dan Ukraina.

Adapun negara-negara Afrika antara lain:  Ethiopia, Angola, Kamerun, Kenya, Nigeria, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, Zambia, Kongo, Republik Demokratik Kongo, Pantai Gading.

Sedangkan negara-negara Amerika Latin yang berpartisipasi: Republik Dominika, El Salvador, Guatemala, Honduras, Panama, Peru dan Paraguay.

Di antara negara-negara Asia Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam disebut juga ikut sebagai partisipan.*

Rep: Sholah Salim

Editor: Cholis Akbar / hidayatullah.com

***

‘Pemindahan Kedubes AS Makin Menodai

Baitul Maqdis kata Adara akan terus dinodai oleh Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya dengan pemindahan ibu kota Zionis-Israel tersebut.

Ketua Adara Relief International, Nurjanah Hulwani, mengatakan, pemindahan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel dari kota Tel Aviv ke Baitul Maqdis merupakan situasi yang membahayakan bagi penduduk Palestina di Baitul Maqdis.

“Dan kesucian Masjid Al-Aqsha akan makin ternodai,” ujarnya dalam keterangan yang diterima hidayatullah.com, Senin (14/05/2018).

Hal itu, terang Nurjanah, karena Baitul Maqdis adalah kota yang disucikan Allah dimana terletak Masjid Al-Aqsha yang diberkahi.

“Hari ini bangsa Yahudi juga menodai Al-Aqsha untuk memperingati hari suksesnya mereka mengusir 850.000 warga Palestina di hari penderitaan (Nakbah) pada 15 mei 1948,” ungkapnya.

Ia mengatakan, Baitul Maqdis akan terus dinodai oleh Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya dengan pemindahan ibu kota Zionis-Israel tersebut.

Sebagaimana diketahui, Senin (14/05/2018) ini waktu setempat, pemindahan kantor Kedubes AS dari kota Tel Aviv ke Baitul Maqdis (Yerusalem).

Kepindahan tersebut menuai banyak kecaman karena dinilai sebuah pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 1980 terkait larangan bagi setiap negara untuk menggelar misi diplomatik di Baitul Maqdis.

Juga melanggar resolusi yang terbit tahun 1967 mengenai status akhir Baitul Maqdis harus diputuskan lewat negosiasi langsung Palestina dan Israel juga masih berlaku. Kepindahan tersebut juga ditentang 128 negara dalam voting yang dilakukan di Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017.*

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur / hidayatullah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 631 kali, 1 untuk hari ini)