Allah subhanahu wa Ta’ala mengecam pemuka-pemuka agama masa lalu yang hanya diam saja ketika melihat kemunkaran. Maka kecaman itu mestinya jadi pelajaran berharga bagi manusia-manusia sekarang kalau tidak mau jadi syetan gagu alias syetan bisu, yang melihat kemunkaran hanya diam saja padahal mampu berbicara.

وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (62) لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ [المائدة/62، 63]

  1. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.
  2. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.(Q.S Al-Maaidah: 62-63)

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi menegaskan, (ayat terakhir itu adalah) celaan buruk terhadap diamnya ulama atas kemunkaran dan tutup matanya mereka atas para pelaku keburukan. Oleh karena itu banyak dari Ulama salaf berkata mengenai ayat ini adalah ayat paling keras terhadap ulama  dan paling bahaya atasnya.  (Aisraut Tafaasiir juz 1 halaman 361).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.860 kali, 1 untuk hari ini)