Ilustrasi : http://berkahsolusiku.blogspot.co.id


Di antara perbedaan pencari ilmu demi dunia dengan pencari ilmu demi akhirat:

Pencari ilmu demi dunia semata, ia akan berpikir selalu job apa setelah lulus/selesai belajar, demi menghasilkan uang dan kemapanan hidup semata. Kalaupun memberi manfaat buat insan, ia berpikir benefit duniawi apa yang akan didapat sebagai feedback.

Pencari ilmu demi akhirat, ia lebih memikirkan apa yang bisa ia khidmahkan untuk insan. Ada kekhawatiran keikhlasan terkikis. Karena ketika ia fokus menuju akhirat, ia faham dunia akan datang padanya.

Rekan-rekan yang kuliah/belajar ilmu dunia, selagi mereka berkhidmah dengan ilmunya demi maslahat insan di jalan Allah, maka merekalah pencari akhirat.

Rekan-rekan yang kuliah/belajar ilmu agama, bagaimana indikasi bahwa mereka tidak tulus belajar agama untuk maslahat insan?

Di antara indikasi (harap inshaf dan introspeksi):

[1] Bercita-cita setelah lulus nanti, dakwah di lahan ‘basah’ semata.

[2] Saat liburan (biasa disebut shaifiyyah), hilang bekas mulazamah kepada ulama dan kewibawaan ilmunya. Hanya hobi tidur, jalan-jalan, main game dan kegiatan pemuda yang tidak kenal agama kecuali syukur-syukur masih shalat. Lupa baca al-Qur’an, lupa menelaah hadits, lupa baca kitab dan aji mumpung seolah menuntut ilmu itu ada masa cuti.

[3] Tidak/belum ada rasa bahwa kaum muslimin membutuhkan pengajarannya.

Di manapun antum sekolah/kuliah, wahai calon duat, jika ada salah satu dari 3 indikasi di atas, maka hendaknya istighfar. Ubah mindset dan lihatlah kaum Muslimin. Hafizhakumullah.

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 662 kali, 1 untuk hari ini)