Petugas forensik Polri sedang mengidentifikasi lokasi bekas ledakan bahan petasan di Demak yang tewaskan empat orang./tribun jogja 

Untuk merayakan Iedul Adha maupun Iedul Fithri sejatinya harus mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering disebut sunnah. Sampai tentang waktu shalat Iedul Adha disunnahkan untuk lebih awal karena agar segera memberi kesempatan untuk menyembelih hewan qurban, sedang shalat Iedul Fithri agak lebih siangan agar memberi kesempatan Muslimin untuk menikmati makan minum sebelum berangkat ke tempat shalat Ied; itu semua diatur dalam sunnah.

Demikian pula sampai memberikan zakat fithri bila sesudah shalat Iedul Fithri maka hanya dihitung sebagai sedekah biasa, bukan zakat. Sebagaimana menyembelih hewan qurban bila dilakukan sebelum shalat Iedul Adha maka hanya dihitung sembelihan biasa, bukan qurban; itupun diatur dalam sunnah. Demikian pula rangkaian ibadah dan cara merayakannya, itu semua diatur dalam sunnah. Ummat Islam tinggal mengikuti.

Lantas manusia ini di mana-mana sering mengadakan kreasi-kreasi sendiri, menciptakan aneka macam hal untuk atas nama merayakan hari raya itu. Kreasi-kreasi itu bila sudah menyangkut (masuk dalam) ibadah atau agama maka biasanya disebut dengan bid’ah. Karena agama ini milik Allah Ta’ala, sedang Rasulullah (utusan Allah) itupun hanya bertugas menyampaikannya, kemudian Ummat ini hanya berkewajiban mengikutinya, dan tidak boleh membuat-buat hal yang baru dalam agama, maka hal yang baru alias bid’ah itu semuanya sesat. Karena tidak ada hak bagi manusia untuk mencampuri dalam membuat syari’at (aturan agama).

Tidak langsung menginterupsi masuk ke wilayah ibadah pun kalau merayakan hari raya Islam dengan cara-cara atau mengadakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunnah ataupun syari’ah ataupun agama maka pasti ada mudharatnya atau bahayanya.

Contohnya adalah peristiwa nyata berikut ini:

***

Petasan Meledak 4 Orang Tewas

Ledakan yang terdengar hingga radius 1 km itu juga mengakibatkan tiga rumah hancur dan sejumlah bangunan di sekitar lokasi rusak.

AKHMAD SAFUAN

LEDAKAN petasan menimbulkan korban jiwa dan harta. Peristiwa itu diduga berasal dari rumah Nur Rochim yang terletak di RT 04/RW 02, Dukuh Penjor, Desa Bulusari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Minggu (30/10) malam.

Akibat ledakan itu, empat orang tewas, yakni Romadhon, Masyuri, Nunu Pradewo alias Kamandhanu, dan Irafatul Ibad. Tiga jenazah langsung ditemukan dan dievakuasi setelah kejadian, sedangkan jasad Irafatul Ibad baru ditemukan kemarin.

Dari keempat korban tewas tersebut hanya jenazah Romadhon yang teridentifi kasi, sedangkan tiga korban lainnya sulit dikenali.

Peristiwa itu juga mengakibatkan tiga korban luka, antara lain Kasnawi dan Somah.

Ledakan yang terdengar hingga radius 1 km itu juga mengakibatkan tiga rumah hancur dan sejumlah bangunan di sekitar lokasi rusak. Rumah yang hancur ialah milik Kasnawi, Somah, dan Nur Rochim, sedangkan kerusakan bangunan lain berupa kaca-kaca jendela pecah, dinding retak atau genting rusak. Selain itu, satu unit mobil Avanza bernomor polisi H 8796 EF milik Suyud Murtado rusak akibat tertimpa plafon.

Kepala Desa Bulusari Mashudi mengatakan kejadian berlangsung ketika warga Bulusari berencana membuat petasan berukuran besar untuk merayakan Idul Adha dengan biaya secara swadaya.

“Petasan yang masih dalam tahap pembuatan tersebut berdiameter 50 sentimeter dengan tinggi 80 cm, dan bahan pembuat petasan seberat 25 kilogram,” jelasnya.

Dugaan sementara ketika sedang melakukan pengisian, demikian Mashudi, bahan peledak seberat 25 kg tersebut terkena percikan api, hingga langsung meledak. Empat korban yang ada di lokasi langsung tewas, sedangkan yang berada agak jauh terluka tertimba bangunan.

Hingga sore kemarin, puluhan petugas gabungan TNI-Polri dengan dibantu warga setempat masih melakukan pencarian kemungkinan ada korban lain. Mereka juga memunguti serpihan tubuh korban ledakan di reruntuhan rumah.

Serpihan tubuh korban yang dikumpulkan tersebut selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang untuk diidentifi kasi guna penyelidikan lebih lanjut.

“Melihat kondisi reruntuhan, kita akan terus melakukan evakuasi dan sekaligus mencari kemungkinan ada korban lainnya,” kata Wakil Kepala Polres Demak Komisaris Bambang Purwadi.

Selain memunguti serpihan tubuh korban, petugas dan warga juga mengumpulkan barang-barang berharga yang ditemukan di reruntuhan rumah.

Bambang Purwadi menyatakan, hingga kemarin sore belum dilakukan pemeriksaan dan penetapan tersangka karena polisi masih melakukan penyelidikan.

Bom ikan

Dari Palu dilaporkan, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polda Sulteng, kemarin siang menjemput AWR, tersangka pemilik bahan peledak yang meledak dan menghancurkan gudang miliknya di Kelurahan Dondo, Kecamatan Ampana Kota, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/10).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulteng, AKB Sumarno yang dihubungi, mengatakan polda sengaja mengambil alih penyidikan kasus tersebut karena tersangka AWR mengaku menyimpan bahan peledak itu untuk membuat bom ikan.

‘’Tersangkanya sudah dalam perjalanan menuju Palu dari Tojo Unauna. Kami akan melakukan pendalaman, kemungkinan lain peruntukan bahan berbahaya itu,’’ kataSumarno. (HF/N-1)

achmad_sapuan

@mediaindonesia.com

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/01/PagePrint/01_11_2011_012.pdf

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.261 kali, 1 untuk hari ini)