• Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, Lc, MA menegaskan bahwa berdasarkan kajian yang telah dilakukan ternyata Syiah yang berkembang di negeri ini adalah Syiah Rafidhah sebagaimana yang berkembang di Iran.
  • Kritik yang membangun disampaikan kepada Front Pembela Islam (FPI) terkait pembagian Syiah menjadi tiga kelompok, yakni Syiah Ghulat, Syiah Rafidhah dan Syiah Mu’tadilah (moderat).
  • Menurut ustadz Fahmi, pembagian Syiah yang ketiga, yakni Syiah mu’tadilah ini memang menjadi permasalahan. Sebab dalam beberapa kitab yang ditulis para masyayikh tidak disebutkan kata-kata Syiah Mu’tadilah, namun spesifik kepada Syiah Zaidiyah.
  • Dengan adanya pembagian kelompok Syiah Mu’tadilah (moderat) maka para penganut Syiah di negeri ini sepertinya menginginkan agar mereka dimasukkan ke dalam kelompok ketiga tersebut. Padahal Berdasarkan kajian yang telah dilakukan ternyata Syiah yang berkembang di negeri ini adalah Syiah Rafidhah sebagaimana yang berkembang di Iran.

  hakikat syiah

Ilustrasi/ voais

Inilah beritanya.

 ***

Apa Kata Ustadz Fahmi Salim tentang Pembagian Syiah Jadi 3 Kelompok?

JAKARTA – Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, Lc, MA menyampaikan kritik yang membangun kepada Front Pembela Islam (FPI) terkait pembagian Syiah menjadi tiga kelompok, yakni Syiah Ghulat, Syiah Rafidhah dan Syiah Mu’tadilah (moderat).

Menurut ustadz Fahmi, pembagian Syiah yang ketiga, yakni Syiah mu’tadilah ini memang menjadi permasalahan. Sebab dalam beberapa kitab yang ditulis para masyayikh tidak disebutkan kata-kata Syiah Mu’tadilah, namun spesifik kepada Syiah Zaidiyah.

‘ala kulli hal, dalam persoalan ini pembagian Syiah memang yang menjadi musykil (masalah, red.) itu ada kata moderat (Syiah Mu’tadilah). Karena dalam beberapa kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali Ash-Shalabi, kemudian dalam kitabnya Ali Ahmad Ats Tsaluts itu memang tidak disebutkan kata-kata mu’tadilah, tapi yang disebutkan adalah Syiah Ghulat, Syiah Rafidhah dan Syiah Zaidiyah,” kata ustadz Fahmi Salim di Markas Syariah FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013).

Dengan adanya pembagian kelompok Syiah Mu’tadilah (moderat) maka para penganut Syiah di negeri ini sepertinya menginginkan agar mereka dimasukkan ke dalam kelompok ketiga tersebut.

“Syiah-syiah yang ada di sini ingin dimasukkan ke dalam kelompok yang moderat itu. Dan mereka mengidentikkan itu, nah ini yang berbahaya,” ungkap ustadz muda yang menjabat Wakil Sekjen MIUMI itu.

Untuk mengidentifikasi alian sesat Syiah di Indonesia, menurut ustadz Fahmi bisa dilihat dari buku-buku yang ditulis dan kitab-kitab mereka.

“Kalau kita ingin menukik, siapa sebenarnya kelompok Syiah yang ada di Indonesia, kan sudah jelas buku-bukunya Jalaludin Rakhmat, kemudian kitab-kitab yang mereka pakai baik IJABI maupun Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu semua patronasenya adalah ICC, lalu ICC itu ke Iran, pakai konsepnya wilayatul faqih, konsepnya Imamah yang mengkafirkan sahabat, itu jelas Rafidhah,” jelasnya.

Kemudian, untuk memberikan panduan kepada umat Islam tentang aliran sesat Syiah, MUI telah berencana untuk membuat buku mengenai penyimpangan Syiah.

“Perlu juga kita memberikan guidance kepada umat, bahwa Syiah yang di Indonesia ini apakah dia dikategorikan Zaidiyah atau Rafidhah, itu perlu. Inilah yang kita usahakan di MUI, kita mencoba menulis buku panduan mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah,” tuturnya.

Ustadz Fahmi pun menegaskan bahwa berdasarkan kajian yang telah dilakukan ternyata Syiah yang berkembang di negeri ini adalah Syiah Rafidhah sebagaimana yang berkembang di Iran.

“Jadi ada linknya, itu ketemu antara ajaran yang dikembangkan di Indonesia dengan tokoh-tokoh Syiah yang kita tahu, dari ajaran yang sering kita dengar. Karena kita tidak ingin menilai Syiah itu dari perilakunya, kalau dari perilakunya taqiyah, susah. Tapi dari ajarannya langsung, dari kitab-kitabnya, sumber-sumbernya yang asli, dan ternyata link dan match itu ketemu bahwa yang dikembangkan di sini adalah Rafidhah,” tutupnya. [Ahmed Widad] (voa-islam.com) Senin, 17 Jun 2013

***

Di balik pembagian Syiah jadi tiga

Kalau dilacak, ternyata ada uraian yang menjelaskan misi dibalik pembagian syiah menjadi tiga. Dimasukkanlah syiah ke dalam madzhab fiqh dengan sebutan Ja’fari, lalu digandengkan dengan madzhab fiqh yang empat sehingga bunyinya ,menjadi madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali, dan Ja’fari. Setelah berhasil mengelabui seperti itu, lalu dimasukkanlah yang disebut Madzhab Ja’fari itu ke kelompok syiah ketiga yang mereka sebut mu’tadilah (moderat) itu. Dan sebelumnya sudah dibuatkan jalan dalam satu wawancara dengan mahasiswa Indonesia di Iran, bahwa kalau dengan Ahmadiyah memang kita berbeda, karena mereka punya nabi sendiri. Tapi dengan syiah kan sama.

Penggiringan semacam itu ternyata telah terlacak, di antaranya simak tulisan yang lalu seperti berikut ini.

***

Inikah trik-trik Habib RS dalam membela aliran sesat Syi’ah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَمَّا بَعْدُ :

BOLEH JADI umat Islam awam semakin dibuat bingung oleh sejumput sosok yang gemar berceloteh tentang madzhab dan aliran. Selama ini umat Islam mengenal madzhab empat yang terdiri dari Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Namun oleh pembela syi’ah dan praktisi bid’ah, ke dalam benak umat Islam ‘dipaksakan’ untuk menerima satu madzhab lagi, yaitu Ja’fari, yang dikatakan sebagai madzhab kelima yang diakui masyarakat dunia.

Padahal Madzhab Ja’fari yang dimaksud pembela syi’ah dan praktisi bid’ah adalah nama lain dari sekte syi’ah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah (imam dua belas) yang berkembang dari Iran hingga Sampang, bahkan seluruh dunia. Sekte syi’ah ini mengkafirkan kelompok di luar mereka yang tidak beriman kepada konsep keimaman yang ada dalam rukun iman syi’ah. (lihat tulisan berjudul Inikah Senjata Pengusung Aliran Sesat Syi’ah dan Praktisi Bid’ah dihttps://www.nahimunkar.org/15197/inikah-senjata-pengusung-aliran-sesat-syiah-dan-praktisi-bidah/)

Selain madzhab Ja’fari, para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini juga gemar memperdengarkan faham Asy’ari. Salah satu pengasong syi’ah yang pernah menyebut-nyebut faham Asy’ari ini adalah Zen Al-Hady. Ia menyebutkan bahwa faham Asy’ari dianut oleh komunitas NU, dan pada masa lalu paham dan praktik keagamaan versi madzhab Asy’ari ini pernah dinyatakan sesat bahkan kafir oleh pemerintah Saudi. (lihat tulisan berjudul Radio Silaturahim Pro Syi’ah? di https://www.nahimunkar.org/10988/radio-silaturahim-pro-syiah/)

Selain Zen Al-Hady, pentolah FPI juga termasuk yang gemar menyebut-nyebut faham Asy’ari ini. Misalnya, sosok bernama alias Abu Muhammad Yusuf yang dalam sebuah tulisan panjangnya –yang disebutnya ilmiah namun penuh dengan caci-maki– antara lain menyebutkan bahwa Habib Riziek Shihab itu pembela madzhab Asy’ari yang konon dikafirkan oleh kalangan Wahabi. Juga dikatakan, bahwa Indonesia ini adalah Negeri Asy’ari. (lihat tulisan berjudul Waspadai Ustadz Palsu Pembela Syi’ah dihttp://umarabduh.blog.com/2012/05/03/waspadai-ustadz-palsu-pembela-syi%E2%80%99ah/)

Umat ditipu untuk terjerumus ke apa yang mereka sebut Madzhab Ja’fari, tapi disebutnya mu’tadilah padahal sebenarnya Rafidhah (syi’ah sesat). Kemudian ditingkahi dengan menonjolkan faham Asy’ari. Mungkin ini sengaja dibikin bingung oleh pembela syi’ah dan praktisi bid’ah sehingga dalam kebingungan itu umat Islam hanya melongo ketika dikatakan madzhab ini dan itu juga bagian dari ahlus sunnah wal jama’ah meski praktik ibadahnya tidak menuruti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Madzhab Ja’fari adalah nama alias untuk sekte syi’ah laknatullah yang sesat menyesatkan dan mengkafirkan umat Islam bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedang faham Asy’ari tidak mengkafirkan seperti itu. Bila Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali adalah madzhab fiqih, maka Asy’ari adalah aliran dalam aqidah.

Ketika makna sederhana, fiqih adalah hukum Islam praktis (yang diterapkan), sedangkan makna sederhana aqidah adalah keyakinan atau keimanan, lalu sebagian orang menjajakan Ja’fari dikesankan sebagai madzhab fiqh belaka padahal itu adalah aqidah sesat syi’ah, tentu ada maksud-maksud di balik itu.

Yang menjajakan kerancuan seperti itu ternyata menyuara seolah mewakili faham Asy’ari. Yaitu, mereka yang selama ini menjadikan salafy-wahabi sebagai isu. Kalau dipersonifikasi, mereka yang punya gelagat seperti itu antara lain Habib Riziek Shihab dan Said Agil Siradj. Bahkan ada yang berani menjamin, bahwa keduanya Asy’ari asli.

Keduanya (Habib Riziek Shihab dan Said Agil Siradj) punya kesamaan dan perbedaan. Persamaannya, sama-sama mendukung syi’ah namun tidak mau disebut syi’ah. Sama-samapraktisi bid’ah meski lulusan sekolah yang diledekin wahabi. Perbedaannya, dalam kasus Lady Gaga, Irshad Manji (lesbian, homoseks) dan Ahmadiyah, Habib Riziek Shihab kontra ketiganya; sedangkan Said Agil Siradj pro itu semua.

Nah, jalan pikiran umat yang awam tentu akan mudah sampai pada kesimpulan bahwa faham Asy’ari itu di sini tokohnya yang vokal adalah sosok pendukung syi’ah, praktisi bid’ah yang fiqih dan aqidahnya belum tentu selaras. Madzhab seperti inilah yang dibela habis-habisan oleh Habib Riziek Shihab sebagaimana bisa disimpulkan dari curahan hati Abu Muhammad Yusuf di internet.

Dengan kata lain, para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini agar tidak begitu dikenali sebagai ‘musuh’ oleh umat Islam (ahlussunnah wal jama’ah), cenderung menonjol-nonjolkan identitasnya sebagai penganut faham Asy’ari, yang menurut mereka dianut oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia, sebagaimana dikatakan sosok bernama alias Abu Muhammad Yusuf (salah satu elite FPI) sebagai berikut: “Hei Wahabi ! Indonesia Negeri Asy’ari. Kalau tidak suka, ente ke Nejed saja tempat lahirnya Musailamah Al-Kadzdzab !!! Jangan pecah belah umat Islam di Indonesia !!!” (http://umarabduh.blog.com/2012/05/03/waspadai-ustadz-palsu-pembela-syi%E2%80%99ah/)

Dalam hal syi’ah, Habib Riziek Shihab pernah membagi syi’ah ke dalam tiga kategori yaitu Ghulat, Rafidhoh, dan Mu’tadilah. Syi’ah Ghulat tergolong kafir dan wajib diperangi, karena menjadikan Ali bin Abi Thalib RA sebagai nabi, bahkan Tuhan, serta meyakini bahwa Al-Qur’an sudah dirubah-ditambah-dikurangi (Tahrif). Sedangkan syi’ah Rafidhoh tergolong sesat, karena cenderung melakukan penghinaan, penistaan, pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA.

Golongan ketiga, syi’ah mu’tadilah tidak sesat dan tidak kafir karena hanya mengutamakan Ali bin Abi Thalib ra di atas para Shahabat Nabi lainnya (Abu Bakar ra, Umar Ibnul Khattab ra, Utsman bin Affan ra), dan lebih mengedepankan hadits riwayat ahlul bait daripada perawi hadits lainnya. Jadi, menurut Riziek Shihab yang difatwa sesat oleh MUI adalah syi’ah ghulat. (http://satuislam.wordpress.com/2009/05/07/ustadz-habib-muhammad-rizieq-shihab-%E2%80%9Cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%E2%80%9D/)

Syi’ah Mu’tadilah inilah yang oleh Habib Riziek Shihab dimaksudkan sebagai madzhab Ja’fari. Padahal, sejatinya madzhab Ja’fari inilah yang merupakan sekte syi’ah paling dominan di Iran, terbentang luas hingga Sampang dan seluruh penjuru dunia lainnya. Penganut madzhab Ja’fari inilah yang membunuhi umat Islam di iran, Suriah, dan juga memicu bentrok Sampang. (lihat tulisan berjudul Habib RS Cenderung Syi’ah? di https://www.nahimunkar.org/11901/habib-rs-cenderung-syiah/).

Bagaimanapun, syiah Ja’fariyah sama sekali tidak dapat dibilang sebagai mu’tadilah. Justru syi’ah rafidhah yang memang sesat itulah syi’ah Ja’fariyah. Karena Syiah Rafidhah mempunyai beberapa nama yang lain yaitu:

  1. Syiah Itsa ‘Asyariah (Syiah 12), nisbat kepada keyakinan mereka akan adanya 12 imam.
  2. Syiah Al-Ja’fariah, nisbat kepada Ja’far Ash-Shadiq.
  3. Syiah Al-Imamiah, karena mereka meyakini Ali dan keturunannya adalah para imam, dan mereka masih menunggu seorang yang akan keluar di akhir zaman.

Syaikh Al-Islam berkata dalam Minhaj As-Sunnah (1/22), “Karenanya ada kemiripan antara mereka dengan Yahudi dalam hal keburukan, pengikutan terhadap hawa nafsu, dan selainnya dari akhlak-akhlak Yahudi. Dan ada kemiripan antara mereka dengan Nashrani dalam hal pengkultusan yang berlebihan, kejahilan, dan selainnya dari akhlak-akhlak Nashrani. Betapa miripnya mereka dengan mereka (Yahudi) dari satu sisi dan dengan mereka (Nashrani) dari sisi yang lain. Dan kaum muslimin senantiasa menyifati mereka dengan sifat ini.

[Diringkas dari Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah hal. 29-41]

 (lihat link http://al-atsariyyah.com/mengenal-syiah-rafidhah-dan-pencetusnya.html ).

Nah, dalam rangka membela-bela syi’ah agar bisa diterima di Indonesia, Habib Riziek Shihab tidak saja mensosialisasikan paham sesat syi’ah menjadi tiga bagian yang konon salah satunya layak diterima sebagai madzhab dalam Islam (madzhab Ja’fari alias syi’ah mu’tadilah menurut dia), ia juga berusaha meyakinkan umat Islam bahwa yang difatwa sesat oleh MUI adalah syi’ah ghulat. (lihat http://satuislam.wordpress.com/2009/05/07/ustadz-habib-muhammad-rizieq-shihab-%E2%80%9Cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%E2%80%9D/)

Padahal, syi’ah yang difatwa sesat oleh MUI Sampang ajarannya sama dengan syi’ah yang ada di tempat lain di Indonesia, sama dengan paham sesat syi’ah yang berlaku di Iran, Suriah, dan seluruh penjuru dunia. Jadi, upaya Habib Riziek Shihab membela-bela syi’ah dengan cara-cara tadi, menunjukkan bahwa ia benar-benar konsisten membela paham sesat syi’ah laknatullah yang merupakan induk kesesatan. Layakkah sosok yang getol memberangus Ahmadiyah, Lady Gaga, Irshad Manji, Majalah Playboy dan sebagainya itu tetapi konsisten membela syi’ah laknatullah ini disebut pembela Islam?

Sikap Riziek Shihab itu senada dengan sikap pembela syi’ah lainnya, yang mengatakan bahwa yang dikatakan sesat itu cuma syi’ah Sampang. Seolah-olah ada syi’ah-syi’ah lain yang tidak sesat. Ini jelas upaya pengelabuan khas pembela syi’ah. Selain gemar melakukan pengelabuan (talbis), para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini gemar mengumbar tuduhan klise, bahwa pihak yang anti syi’ah dan bid’ah adalah orang-orang yang suka memecah belah umat Islam.

Di titik ini, gaya dan sikap para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini sama saja dengan gaya dan sikap para pembela liberal. Pembela liberal selain menuding umat Islam yang sedang membela agamanya dengan julukan radikal, juga kerap meledeknya sebagai sumber perpecahan. Apakah adanya kesamaan ini menunjukkan bahwa keduanya mempunyai guru yang sama? Wallahu a’lam…

Habib Riziek Shihab pada sebuah kesempatan on air di Radio Silaturahim (Rasil) corong syi’ah di Cibubur Jakarta, tepatnya pada 20 Mei 2012 sore, menyangkal dirinya syi’ah. Selain menyangkal, Riziek juga mengakui pernah bersekolah di SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi murtadin.

Menurut catatan, Habib Riziek pernah menimba ilmu selama tujuh tahun di Saudi Arabia yang dijuluki berpaham Wahabi oleh para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah, namun hal itu tidak membuatnya menjadi wahabi, justru konsisten dengan praktik bid’ahnya seperti maulidan, tahlilan upacara memperingati orang mati, dan sebagainya.

Namun, meski hanya sempat tujuh hari diundang ke Iran oleh Ayatullah Taskhiri [Taqrib bainal Mazahib] pada Mei 2006, Habib Riziek Shihab begitu kental pembelaannya terhadap syi’ah, seraya membungkus dirinya dengan atribut pembela Islam.

Meski dengan trik-triknya yang sebegitu, namun  tetap terdeteksi betapa kentalnya pembelaan Habib Riziek Shihab terhadap syi’ah. Sebagaimana bisa dibuktikan bahwa hingga kini ia hanya berani mengecam Ahmadiyah dan berbagai aliran sesat lainnya tetapi minus aliran sesat syi’ah.

Meski sebagian anggota masyarakat pernah memergoki ada sejumlah anggota komunitas Petamburan ini yang mempraktikkan shalat ala syi’ah di markasnya, namun tetap saja ia menyangkal menjadi fasilitator syi’ah sekaligus pembela syi’ah laknatullah.

Selain menyangkal menjadi pembela syi’ah, Habib Riziek Shihab juga gemar mencitrakan dirinya sebagai pembela faham Asy’ari. Lha, sekarang semakin jelas siapa Habib Riziek Shihab itu, karena berdasarkan pengamatan umat Islam yang awam sekalipun, ternyata yang dimaksud faham Asy’ari yang ditonjolkannya itu yang dia praktekkan tak lain adalah trik-trik sebagai pendukung syi’ah sekaligus praktisi bid’ah sebagaimana diuraikan di atas. Begitulah adanya.

وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا إلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 (haji/tede/nahimunkar.com).

sumber: https://www.nahimunkar.org/15669/inikah-trik-trik-habib-rs-dalam-membela-aliran-sesat-syiah/

***

Perkembangan terkini

Perkembangan terkini, dapat dibaca dan ditunggu pelaksanaannya apa yang dikatakan oleh Habib RS. Karena dia pernah berkata lantang untuk membakar mimbar yang digunakan untuk mencaci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kenyataannya sampai kini tidak pernah dilakukan membakar mimbar Radio Rasil di Cibubur Jakarta. Padahal Radio Rasil itu telah digunakan untuk mencaci atau merendahkan bahkan membolehkan dihujatnya Mu’awiyah sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan termasuk sekretaris Nabi dalam menulis wahyu, dan ipar beliau pula. Penceramah yang biasa di Radion Rasil, Husein Hamid Alattas mengatakan bahwa Mu’awiyah itu hanya sahabat Nabi secara lughawi, bukan secara syar’i.

“Secara lughowy (bahasa) Muawiyah termasuk sahabat, tetapi secara syar’i Muawiyah tidak termasuk sahabat,” kata Husein Hamid Alattas di tengah acara dialog dan mubahalah antara ustadz Haidar Abdullah Bawazir dengan Husein bin Hamid Alattas di Radio Silaturahim, Jl. Masjid Silaturahim No. 36, Cibubur, Bekasi, Rabu (27/6 2012).

Pernyataan bahwa Muawiyah RA bukan sahabat Nabi SAW dan menghujat Muawiyah RA ia tegaskan kembali dengan sumpah atau mubahalah,”Ana meyakini bahwa Muawiyah bukan Sahabat dalam pandangan syar’i dan boleh menghujatnya, dan ana siap dilaknat dan dikutuk oleh Allah bila ana salah. Tetapi, jika saya benar saya berdoa kepada Allah agar memberi hidayah kepada Haidar,” ungkapnya sembari menjelaskan bahwa ia mencintai sahabat Nabi, terkecuali Muawiyah RA. (nahimunkar.com/husein-bin-hamid-alattas-nyatakan-muawiy… 29 Jun 2012 ) .

Dengan kenyataan diamnya Habib RS dengan FPInya terhadap kasus Radio Rasil dan bahkan dia menggunakan radio itu sebagai tempat menyampaikan pembicaraan-pembicaraannya, maka perkataan Habib RS dalam berita berjudul FPI Anti Syiah, Penyebarannya di Indonesia harus Dicegah, itu perlu kita lihat bukti nyatanya.

Untuk itu marilah kita baca beritanya.

***

Habib Rizieq: FPI Anti Syiah, Penyebarannya di Indonesia harus Dicegah

JAKARTA (voa-islam.com) – Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husain Syihab Asy-Syafi’i kembali mempertegas bahwa FPI anti aliran sesat Syiah dan menyatakan bahwa semua Syiah adalah sesat.

Seperti diketahui, FPI membagi Syiah menjadi tiga bagian;pertama, Syiah Ghulat yaitu Syiah yang menuhankan Ali ibn Abi Thalib atau meyakini Al-Qur’an sudah di-tahrif(dirubah/ditambah/dikurangi) dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari ushuluddin yang disepakati semua madzhab Islam. Syiah golongan ini adalah kafir dan wajib diperangi.

Kedua, Syiah Rafidhah yaitu Syiah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah dan Hafshah. Syiah golongan ini ulama sepakat bahwa mereka adalah ahlul bida’ wal ahwa (ahli bid’ah) mereka sesat menyesatkan dan tetap harus diperangi.

Ketiga, Syiah Mu’tadilah yaitu Syiah yang tidak menuhankan Ali dan tidak menghalalkan mencaci maki sahabat, seperti yang dilakukan oleh Syiah Zaidiyah. Mereka diperangi pemikirannya melalui dialog.

Pembagian ini menurut Habib Rizieq diperlukan agar menjadi kejelasan bagi kaum Muslimin pada umumnya dan khususnya kepada anggota FPI bagaimana seharusnya menyikapi aliran sesat Syiah.

“FPI tidak sendirian dan FPI bukan pemula (dalam membagi Syiah, red.). Pembagian ini bagi Ormas FPI sangat diperlukan supaya sikap FPI jelas ke bawah dalam memandang Syiah; mana Syiah yang mesti diperangi seperti Ghulat dan Rafidhah serta mana Syiah yang harus diselesaikan dengan dialog Al-hujjah bil hujjah, Al-Aqwal bil Aqwal,” kata Habib Rizieq di Markas Syariah FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013).

Habib Rizieq pun menyampaikan bahwa pembagian Syiah tersebut bukan untuk dibenarkan, bahkan ia mempertegas semua Syiah adalah sesat meski Syiah Mu’tadilah sekalipun.

“intinya FPI bukan Syiah dan FPI tetap anti Syiah. Syiah yang manapun apakah itu Ghulat, Rafidhah atau Mu’tadilah semua pendapatnya tidak kami terima, hanya kami membedakan mereka di dalam perlakuan bukan untuk dibenarkan. Nah ini yang perlu saya klarifikasi, jadi jangan ada yang menganggap jika FPI membagi Syiah menjadi tiga lalu yang ketiga dibenarkan, terus yang ketiga ini dibela oleh FPI. FPI bukan pembela Syiah!” tegasnya.

Ia juga sepakat bahwa penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia harus dihalangi, sebab Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah.

“Kita sepakat bahwa penyebaran Syiah di Indonesia harus diantisipasi, harus kita halangi, tidak boleh yang manapun kelompoknya, termasuk yang mu’tadil sekalipun tidak boleh mereka sebarluaskan aqidah mereka di Negara Republik Indonesia yang notabene adalah negara bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah,” tandasnya. [Ahmed Widad] Senin, 17 Jun 2013.

***

Pembagian Syiah jadi 3 kelompok oleh FPI yang ditegaskan kembali oleh Habib RS itulah yang dikritik oleh aggota Komisi Pengkajian MUI tersebut di atas.

Jadi masih ada dua masalah. Pertama, FPI membagi syiah jadi 3 kelompok. Kedua, pernyataan bahwa FPI Anti Syiah, Penyebarannya di Indonesia harus Dicegah itu perlu bukti nyata, sebagaimana masih ditunggu bukti nyata untuk membakar mimbar yang sudah jelas digunakan untuk menghujat sahabat.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.339 kali, 1 untuk hari ini)