Inilah Nasehat yang Dinilai Baik oleh Para Pembacanya

Entah kenapa, tulisan berupa nasehat mengenai berbakti kepada kedua orangtua ini mendapatkan banyak perhatian dari para pembacanya, hingga dibagikan 817 kali dan ada 127 komen.

Silakan simak, semoga manfaat.

 

***

 

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

26 Mei pukul 21.23 · 

[Nasehat Orang Tua Tentang Orang Tua]

 


WA dari biro Umroh ke Ustadz yang menulis artikel ini.

 

Semalam -yakni malam Selasa- saya bermimpi menemui Ustadz Yazid Jawas dan putra beliau, Ustadz Fathi Jawas -hafizhahumallah- di suatu tempat. Di mimpi tersebut, lebih banyak saya berbincang dengan Ust. Fathi. Namun saya luput ingatan apa saja yang kami bincangkan. Dhuha kemudian, dengan sedikit canda saya wartakan kepada Ust. Fathi, selaku teman lama sejak di pondok, perihal mimpi semalam.

Dan saya tidak berdusta akan hal ini, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang mengutarakan suatu mimpi yang tidak, atau menceritakan akan mimpi sesuatu padahal tidak seperti itu. Sabda beliau:

مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَنْ يَفْعَلَ

“Barangsiapa menyatakan diri bermimpi padahal tidak, ia dipaksa untuk menyatukan dua biji gandum dan ia tak akan bisa melakukannya.” [H.R. Al-Bukhary, no. 6520]

Berkenaan dengan itu, sekaligus menatap teriknya belakangan hari, saya ingin menceritakan hal yang semoga Allah menjaga hati saya dan menjadikan semua ini ibrah untuk pembacanya. Semoga Allah merahmati saya, seluruh asatidzah dan kaum muslimin.

Selepas umrah tahun 2018 bersama ibu, istri dan anak dengan kemudahan dari Allah, suatu waktu saya duduk di ruang tamu di rumah orang tua saya. Kami menyebut-nyebut kemurahan Allah Ta’ala dan kemudahan dari-Nya setelah umrah. Sampai ibu saya berdoa -dan beliau termasuk orang yang paling sering berdoa yang pernah saya kenal-, “Mudah-mudahan tahun depan Allah kasih kita umrah lagi bersama ayah.” Ayah di sini maksudnya ayah saya. Maka saya aminkan. Walau batin saya agak sedikit menggumam soal dana.

Tapi, aminkan saja. Dan selepas itu saya tak pernah mengingatnya.

Kisaran Oktober 2019 (satu tahun setelah kisah di atas), suatu hari ibu saya tetibanya ada rasa kangen sama Ka’bah dan Masjid al-Haram. Lalu minta sama Allah Ta’ala. Beberapa hari kemudian, tetibanya ada hamba Allah yang baik ingin mengumrahkan kedua orang tua saya. Ayah dan ibu. Alhamdulillah. Jawaban dari Allah yang tidak terduga.

Saya pun ada niatan ingin ikut. Namun melihat keadaan, baik ekonomi terlebih keadaan istri sedang hamil, lumayan berpikir panjang. Tapi kedua orang tua saya sudah tua. Harus ada yang menjaga. Dengan kegamangan itu, kedua orang tua belum mendaftar di travel manapun, padahal ada yang siap. Tapi konon ayah saya hatinya urung mendaftar. Entah kenapa rasanya.

1 November 2019. Jum’at itu saya khutbah di Masjid Nurullah Kalibata City. Masih sangat lekat ingatan, di jalan pulang sebelum Cilangkap, tetibanya mendung yang diteruskan hujan deras kemudian. Saya pun minggir ke tepian. Tertambat di suatu warung dan duduk di sana. Buka HP. Buka WA. Terkejut bukan main ada tawaran dari seorang owner travel umrah. Tawaran untuk membimbing umrah tanggal 21 Desember.

Saya membaca, membalas dan menanggapi tawaran tersebut dengan gemetar tangan. Tetibanya teringat doa ibu setahun lalu. Allahu akbar. Segera kemudian saya kontak orang tua dan memberitakan hal ini. Ini jawaban dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala ingin agar saya menjaga orang tua selama umrah. Allahu akbar!

Adapun perjalanan umrah, bukan menjadi suatu cerita di sini.

Alhamdulillah Allah mudahkan semuanya.

Qaddarallah, selepas umrah, dagangan kami terkena efek musibah. Banjir melanda Jakarta awal tahun 2020. Kerugian yang membuat ibu saya kemudian banyak berdoa semoga Allah Ta’ala ganti yang lebih baik.

Di awal Januari, alhamdulillah Allah mudahkan saya untuk ikut serta daurah Ponpes Imam Bukhary yang diampu oleh Syaikh Ibrahim ar-Ruhaily -hafizhahullah-.

Diperingkas:

Suatu pagi di sesi sarapan, saya menemui Ustadz Yazid Jawas -hafizhahullah- yang sedang memilih makanan. Begitu pula para asatidzah. Beliau bertanya, “Ana dengar abi antum kemarin umrah?!”

Saya jawab, “Betul, ustadz. Sama ana dan ibu ana.”

Beliau pun lekas menasehati (sedengar saya), “Iya. Jaga ayah antum. Sudah tua beliau itu.” (Ini dengan kenyataan ayah saya memang usianya lebih tua dari al-ustadz)

Demi Allah, nasehat tersebut saya pegang. Tentu bagi banyak orang, nasehat semisal ini sudah biasa dimanapun terdengar. Tapi saya berazam akan selalu memegang nasehat ini. Selepas itu, beliau bertanya, “Sudah ketemu Fathi (Ust. Fathi)?”

Saya jawab belum. Maka beliau menghimbau saya agar menemuinya. Saya pun turuti itu dan akhirnya makan bersama putra beliau dan rekan asatidzah lainnya.

Selesai cerita? Tentu belum.

Suatu momentum yang saya ingat pula. Saat daurah kemarin, di antara ustadz yang duduk dekat saya adalah sahabat kami, Ust. Fuad Mubarak -hafizhahullah-. Selesai menyimak salah satu sesi daurah, kami saling bercerita -sebagaimana biasanya-. Di antara cerita, bertemakan orang tua. Dan betapa semakin berusia orang tua, semakin besar harusnya perhatian anak terhadap mereka.

“Begitu pula ana. Kita semua sama,” tukas Ust. Fuad Mubarak.

Kalimat beliau yang masih terngiang sampai sekarang, “Sebagaimana antum harus jaga/peduli sama orang tua, ana pun begitu. Apapun kesulitannya. Sebagaimana dulu kita masih kecil, seperti itulah sulitnya. Sekarang ini tugas kita.” (tentu bahasanya tidak seformal ini; karena kita sahabatan lama)

(Qaddarallah, belakangan waktu, ayah Ust. Fuad Mubarak, yaitu Ustadz Firdaus Sanusi -rahimahullah- meninggal.)

Sepulang menuju Jakarta, saya pun satu pesawat dengan beberapa asatidzah. Di antaranya Ust. Yazid Jawas beserta kedua putranya -hafizhahumullah-. Saya pun sampingan kemudian dengan Ust. Amri Azhari -hafizhahullah-. Kita berdua saling berbincang dan berkisah. Di bandara Halim Jakarta, sebelum naik taksi, Ust. Amri Azhari berpesan ke saya perihal orang tua (baik tua dari segi ilmu/dakwah ataupun keluarga) agar bersabar.

Sekiranya Anda wahai pembaca, mengalami 3 nasehat yang sama dari pihak yang berbeda dengan jangka waktu yang tak begitu jauh, bagaimana perasaan di hati?!

Yang kemudian masa, saya berusaha dengan kemudahan dari Allah Ta’ala agar bisa menerapkan nasehat-nasehat mulia itu.

Di antara bentuk menjaga orang tua: menjaga perasaan mereka, menjaga nama mereka, menjaga kehormatan mereka dan menjaga stabilitas hidup mereka. Semua ini harus ditunaikan, rekan sekalian baarakallahu fiikum.

Suatu Kamis di bulan Ramadhan kemarin, saya memesan seekor kambing untuk dibagi-bagikan menjadi nasi kotak ke keluarga dan tetangga. Terutama sekali orang tua kami. Jum’at sore jelang Maghrib rencananya akan dikirim ke rumah orang tua. Saya ingat sekali: Jum’at sore ba’da Ashar mengisi kajian online melalui zoom untuk suatu perusahaan. Selesai jam 5 sore. Selepas kajian, saya melihat-lihat WA. Allahu akbar. Ada dua hamba Allah yang baik, transfer ke saya uang yang digabungkan kira-kira senilai 7x lipat dari harga pesanan kambing yang kemarin saya pesan. Allahu akbar. Yang itu bagi saya adalah titipan dari Allah untuk orang-orang yang sedang Allah uji. Saya ceritakan ini ke orang tua dan mereka bahagia.

Pekan depannya suatu sore Ramadhan kemarin, saya berniatan membeli Nasi Gudeg untuk malamnya dikirimkan ke orang tua. Belum sempat saya berangkat membeli, tiba-tiba ada salah satu ikhwan kontak saya. Rupanya beliau ingin ke rumah. Untuk apa? Rupanya ada titipan nasi kebuli untuk saya. Allahu akbar! Saya belum pula berangkat membeli untuk orang tua, Allah Ta’ala memberikan saya yang lebih baik terlebih dahulu. Bahkan saya mendapat 3 paket nasi kebuli. Saya ceritakan ini ke orang tua dan mereka bahagia.

Pekan depannya suatu hari Ramadhan kemarin, saya berniatan membeli setampah nasi mandhi untuk malamnya dimakan oleh orang tua dan para adik di sana. Dan hari itu juga, entah ada dua atau tiga paket sembako beserta segala pernak-pernik makanan menghampiri rumah, dari beragam pihak. Saya ceritakan ini ke orang tua dan mereka bahagia.

Saya sudah lama menahan-nahan cerita ini. Namun bismillah, saya ingin sekali semua yang membaca tulisan saya, belajar bersama saya dan dekat dengan saya, agar sama-sama mengamalkan birrul walidain dan menghormati orang tua.

Tak luput tentunya orang tua dari segi pengalaman ilmu dan dakwah. Di belakangan bulan, terlebih belakangan hari, saya mendapati sikap-sikap yang tidak baik terhadap beliau beliau ini. Terutama sekali terhadap ustadz yang nasehatnya saya pegang dan setiap saya merasakan kebaikan Allah dengan kedekatan bersama orang tua, nasehat beliau kembali teringat.

Bersamaan dengan itu pula, jika saya sambangi rumah orang tua, saya dapatkan ayah saya memberi nasehat yang beliau kutip dari ceramah Ust Yazid Jawas yang beliau simak di Radio Rodja pada malam harinya. Di antara nasehat sang ustadz yang dihikayatkan oleh ayah saya:

1. Banyak ayah Muslim yang menelepon keluarganya menanyakan, “Sudah makan belum?!” Kenapa bertanya soal makanan. Tanyakan, “Sudah shalat belum?!”

2. Ayah saya berkata, “Semalam (saya mendengar) Ustadz Yazid berceramah tentang keutamaan banyaknya anak.” Dan kalimat seterusnya yang saya khawatir tulisan ini kian panjang.

Semoga Allah merahmati para orang tua kaum Muslimin, menjaga mereka, merahmati orang-orang yang telah lampau dari segi ilmu, dan kesabaran berdakwah.

Saya mengajak siapapun saudaraku yang membaca, agar kian berazam untuk menghormati orang-orang tua di antara kita. Sudah tertutur hadits soal ini di beberapa tulisan kami. Mari kita amalkan. Jika beliau dan beliau ada salah, utamakan adab. Jika tidak setuju dengan pandangan orang tua, pertimbangkan lagi, barangkali kita tergesa menepis atau menjauh. Jika memang tidak setuju karena kesalahan orang tua yang begitu jelas, maka pertimbangkan cara meralatnya.

Dan berhentilah dari menuding sesuatu yang buktinya dipungut dari tempat sampah. Ketika tak terbukti, selain berdosa, kita akan berusaha membela diri sampai titik memalukan. Lihatlah orang yang tenggelam, sampai sehelai daun pun berusaha ia raih; karena sangkanya itu dapat menjadi penyelamatnya.

Atau minimal fikirkan jika orang tua tersebut adalah ayah kandung Anda; dengan tebaran cacian, hinaan, bantahan dan tudingan di sana sini.

Atau minimal fikirkan jika Anda kelak menjadi orang tua. Jika umur panjang, seorang muda akan mengerti betul bagaimana rasanya menjadi orang tua dan bagaimana sensitifnya perasaan orang tua.

Tulisan ini hanyalah kecemburuan. Tidak ada ajakan apapun melainkan berhentilah dan bertakwalah.

وبالله التوفيق وهو المستعان


 

Top of Form

1,7 rbWildan Arif, Achmadi ZM dan 1,7 rb lainnya

127 Komentar817 Kali dibagikan

 

Via fb

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

26 Mei pukul 21.23 · 

 

Bottom of Form

***

 

Di antara 127 komen dan 817 kali dibagikan, ada komen yang begini:

Indra G Harahap Masya Allah tabarakallah, syukron untuk nasehatnya ustadz, tak terasa air mata mengembang, semoga Allah mudahkan kita semua untuk birrul walidain dan mudahkan juga semua yang ingin membawa serta orangtua kita untuk pergi umroh atau Haji

Edy Irwanto Sering banget Alhamdulillah…. Pernah nitip uang ke sodara untuk abah di kampung. Uang nya belum sampai ke beliau Udah Allah ganti bahkan lebih dari itu. Sungguh saya sering begini, bukan sekali dua.

Sirun Muyassirun 
Ana teringat dulu semasa masih di dalam aliran IJ, pernah berbuat makar terhadap ayah ant, ustadz Hartono ahmad Jaiz.

Waktu itu kami mendengar ayah ant akan menggelar bedah buku beliau di IAIN Makassar perihal aliran2 sesat di Indonesia. Kami dari IJ/eldehihi tentu tidak terima karena semua doktrin2 dan rahasia2 kami dikupas tuntas dalam buku itu. Akhirnya malam sebelum hari H kami bermusyawarah untuk ‘jihad’ membuat skenario makar agar bedah bukunya gagal dan menjadikan ayah ant target. Pada hari H, teman2 kami disebar di dalam dan di luar gedung. Yang di dalam membuat kekacauan dan yang di luar siap2 mencari target.

Bedah buku hari itu benar2 kacau, skenario teriakan, interupsi dan provokasi peserta benar2 berhasil sehingga ruangan menjadi keos. Beruntung panitia sigap melindungi lalu mengamankan ayah ant dari teman2 yang mulai beringas. Teman2 kami yang diluar juga langsung bergerak mengejar. Qodarulloh waktu itu beliau selamat dari makar kami.

Titip permohonan maaf ana buat beliau hafidzahulloh, ustadz. Semoga Allah melindungi ant sekeluarga, aamiin…

Zainal Arifin Sirun Muyassirun aamiin…

Irfan Fathurrahman Sirun Muyassirun semoga antum Istiqomah dalam kebenaran akh… Semoga Alloh mengampuni antum…

(Seorang doctor yang sebelumnya di Universitas Islam Madinah): Muhammad Ihsan Zainuddin Masya Allah, TabaarakaLlah…Jazakumullah khairan atas kisah pengingatnya, Ustadz…Jika memungkinkan, titip salam hormat untuk kedua orangtua Antum. Terutama Ayahanda. Alhamdulillah, saya berkesempatan membersamai beliau semasa di Pustaka al-Kautsar, dan dalam perjalanan dakwah di Samarinda beberapa tahun silam…HafizhakumuLlahu jami’an…

Taufik Tak terasa mataku berkaca berkaca, lewat wasilah beliau lah orang tuaku mengenal dakwah tauhid ,dan yg kurasakan ketika mendengarkan nasihat nasihat beliau adalah seperti nasihat bapak terhadap anak anaknya ( betapa sayangnya beliau kepada jamaahnya)

Aziz Muslim Masyaallah Tabarokalloh,cerita singkat tp gabungan dari semua episode kejadian,cerita untuk memotivasi kita yg masih mempunyai para orang tua,بارك الله فيك

Raswan Jazakallohu khoiron ustadz nasehat nya 
Pengen nangis rasanya soalnya kedua orang tua sudah meninggal 
Barakallahufikum

Musa Yazid Attamimi Termasuk tulisan paling emas yg pernah ana baca selama ini…

Jazaakallah Khairan Ustadzi Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy atas tadzkirnya.

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 668 kali, 1 untuk hari ini)