Gerakan Indonesia Tanpa JIL – inilah.com/Putra Prima

Gerakan #IndonesiaTanpaJIL menargetkan hilangnya JIL dan pemikiran sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme agama (SEPILIS) di Indonesia. 

Demi menyelamatkan generasi muda Indonesia, #IndonesiaTanpaJIL menyeru:

  • Kepada pemerintah, melalui Kemendikbud, untuk menghentikan liberalisasi agama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.
  • Kepada para pendidik, untuk berani menolak kurikulum pendidikan yang menjurus pada liberalisasi agama yang dipaksakan kepada mereka.
  • Kepada media massa, untuk mendukung upaya penyelamatan generasi muda Indonesia.
  • Kepada orangtua, untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anaknya, karena keluarga dalah benteng terakhir moralitas generasi.

Inilah beritanya:

***

Ratusan Perwakilan Pemuda Indonesia Gelar Silaturahmi Lawan Pemahaman Sepilis

BANDUNG, muslimdaily.net –Lebih dari 150 pemuda-pemudi dari berbagai wilayah di Indonesia menghadiri kegiatan Silahturahmi Nasional (Silatnas) gerakan #Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal) di Cikole Jaya Giri Resort, Sabtu (10/12) sampai dengan Ahad (11/12). Pertemuan besar itu menghasilkan kesimpulan untuk menyerukan perlawanan terhadap gerakan liberalisasi agama yang dianggap telah merusak moral pelajar dan mahasiswa Indonesia.

“Gerakan ini adalah gerakan simpatik yang peduli terhadap bahaya pendangkalan akidah umat muslim. Ini sekaligus penyelamatan pemuda dengan melakukaan perlawanan terhadap liberalisme,” ujar Fajar saat konferensi Pers di depan wartawan, Ahad (11/12).

Gerakan #IndonesiaTanpaJIL menargetkan hilangnya JIL dan pemikiran sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme agama (SEPILIS) di Indonesia. 

“Target minimal kita untuk membentengi para pelajar dan mahasiswa dari Jaringan Islam Liberal dan target maksimal kami adalah menghapuskan gerakan JIL,” ujarnya.

Selain menargetkan hilangnya pemahaman SEPILIS dari Indonesia, Silatnas juga menghasilkan beberapa poin tuntutan dan seruan. Mereka menuntut pemerintah melalui Kemendikbud untuk menghentikan liberalisasi agama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Kepada tenaga pendidik, mereka menyerukan untuk berani menolak kurikulum pendidikan yang menjurus kepada liberalisasi agama yang dipaksakan.

Selain itu, gerakan yang dibentuk secara formal pada tanggal 15 Februari 2012 itu juga meminta media massa untuk mendukung upaya penyelamatan generasi muda Indonesia. Kepada orang tua, mereka menghimbau untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anaknya di lingkungan keluarga karena keluarga dinilai sebagai benteng terakhir moralitas generasi muda Indonesia.

Menurut Fajar, keempat poin tuntutan itu disampaikan sebagai seruan dan ajakan untuk penyelamatan generasi muda Indonesia.

Langkah konktir yang akan ditempuh gerakan ini antara lain dengan menuntut pemerintah untuk menyiapkan tenaga pendidik yang profesional di lingkungan pendidikan Indonesia.

“Langkah kongkritnya, kita menuntut perhatian pemerintah terhadap agama dengan menyiapkan tenaga pendidikan yang profesional sehingga pendidikan agama tidak hanya bersifat formalistik dan hanya sampai pembentukan karakter saja,” tambah salah satu pengurus pusat gerakan #IndonesiaTanpaJIL, Hafidz Ary Nurhadi.

Ketika disinggung soal pembiayaan, Hafidz menolak jika gerakan ini dikatakan dibiayai pihak asing atau elite politik. Sampai saat ini, pembiayaan hanya berasal dari anggota gerakan #IndonesiaTanpaJIL.
“Pendanaan masih dari para aktivis Indonesia Tanpa JIL. Kita hanya gerakan dakwah yang berangkat dari kesadaran ibu-ibu yang anaknya mulai terkontaminasi oleh Jaringan Islam Liberal,” tegas Hafidz. [mzf] Diposting Senin, 12-11-2012 | 10:18:58 WIB

***

Empat Seruan Utama Gerakan IndonesiaTanpaJIL

Diposting Senin, 12-11-2012 | 11:06:17 WIB

BANDUNG, muslimdaily.net – Ratusan pemuda dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar kegiatan Silahturahmi Nasional (Silatnas) gerakan #IndonesiaTanpaJIL, Sabtu (10/12) sampai dengan Ahad (11/12), menyerukan perlawanan terhadap gerakan liberalisasi agama yang dianggap telah merusak moral pelajar dan mahasiswa Indonesia.

“Hampir setiap hari kita diperlihatkan contoh nyata perilaku pelajar dan mahasiswa yang semakin jauh dari nilai-nilai agama. Sering sekali kita mendengar berita mengenai pelajar yang kehilangan nyawanya sia-sia dalam tawuran. Banyak juga cerita mengenai rusaknya moral pelajar dan mahasiswa, mulai dari mereka yang menjadi budak narkoba hingga korban gaya hidup liberal yang menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan bebas, sehingga merelakan kehormatannya hanya demi uang dan kenikmatan duniawi,” bunyi rilis pers hasil Silatnas #IndonesiaTanpaJIL di Bandung, Ahad (11/11).

“Kondisi di atas diperparah dengan sistem dan kurikulum pendidikan yang tidak mendekatkan pelajar dan mahasiswa pada nilai-nilai agama. karena dalam sepekan hanya 2 (dua) jam pelajaran agama diberikan kepada mereka. Pendidik dengan pemikiran ‘ngawur’ semakin menjamur,” tambah pernyataan resmi hasil Silatnas.

“Ada dosen (pendukung LGBT) yang mengajarkan bahwa Allah hanya melihat taqwa seseorang, bukan orientasi seksualnya. Bahkan ada juga yang menuliskan lafadz ‘Allah’ hanya untuk diinjak-injak di depan kelas.”

“Karena dididik oleh para pendidik yang seperti itu, muncullah generasi mahasiswa yang dengan berani mengatakan “selamat datang di kampus bebas tuhan” dan berteriak lancang, ‘mari kita berdzikir Anjinghu Akbar’.”

Demi menyelamatkan generasi muda Indonesia, #IndonesiaTanpaJIL menyeru:

  • Kepada pemerintah, melalui Kemendikbud, untuk menghentikan liberalisasi agama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.
  • Kepada para pendidik, untuk berani menolak kurikulum pendidikan yang menjurus pada liberalisasi agama yang dipaksakan kepada mereka.
  • Kepada media massa, untuk mendukung upaya penyelamatan generasi muda Indonesia.
  • Kepada orangtua, untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anaknya, karena keluarga dalah benteng terakhir moralitas generasi.

#IndonesiaTanpaJIL adalah gerakan simpatik yang peduli terhadap bahaya pendangkalan akidah umat Muslim. Gerakan ini didukung oleh akademisi, cendekiawan, kaum profesional, aktivis mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan selebriti. [mzf] muslimdaily.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.130 kali, 1 untuk hari ini)