KH Makruf Amien Terpilih Ketum

Para Pembela Syiah, Ahmadiyah, LDII, dan bahkan pemuji Anand Krishna masuk di jajaran kepemimpinan MUI.

Muhyidin Junaidi pembela syiah masih tampak bercokol sebagai salah seorang ketua MUI, walaupun Umar Shihab sudah terdepak. Hanya saja, Ustadz Ahmad Khalil Ridwan yang lantang terhadap syiah dan LDII, bahkan pernah mengakui dirinya menyaksikan pihak L*II memberikan sesuatu kepada orang penting di lembaga ini, tampaknya kini kyai dari Dewan Dakwah itu justru “dibuang” (?).Apakah dia karena menjadi saksi hidup tentang perselingkuhan orang penting di lembaga ini dengan aliran sesat? Belum ada kejelasan.

Keprihatinan mulai akan terbersit pula bagi Umat Islam yang tinggi ghirah Islamiyahnya. Karena disamping masih bercokolnya sosok yang membela aliran sesat syiah, LDII dsb, masih pula masuk ke jajaran kepemimpinan MUI ini dedengkot liberal pembela aliran sangat sesat Ahmadiyah, yakni Azyumardi Azra.

Azyumardi Azra “berjasa” dalam membela aliran sesat yakni Ahmadiyah. Di saat para Ulama, tokoh Islam, dan para pejabat sudah hampir klimaks sepakat untuk dilarangnya Ahmadiyah, ternyata Azra mengganjalnya lewat perannya di Istana Wakil Presiden Jusuf Kalla waktu itu.  Azra yang jadiDeputi Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Wapres RI yang Jusuf Kalla sebagai Wapres saat itu (2008) sengaja menjegal akan dilarangnya Ahmadiyah.

 Dan ternyata Azra berbangga dengan upayanya mengganjal rencana pelarangan Ahmadiyah itu hingga akhirnya Ahmadiyah belum dilarang sampai kini.

Perlu diketahui, pembelaannya dalam mempertahankan aliran sesat itu justru dibanggakan di antaranya lewat buku berjudul”Cerita Azra, Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra”, sebuah buku biografi tentang mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah.

Buku ini disoroti SI Online terutama dalam kasus pembelaan Azra dan Jusuf Kalla terhadap aliran sesat Ahmadiyah, dengan judul mencolok : Atas Jasa Azyumardi Azra dan Jusuf Kalla, Ahmadiyah Hingga Kini Bebas Menodai Islam

SI Online menyoroti, dalamkasus Ahmadiyah,” tulis Andina Dwifatma dalam buku “Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra”, halaman 124 yang diterbitkan Pernerbit Erlangga pada 2011 lalu.

“Pada suatu pagi, terdengar kabar bahwa tiga pihak, Departemen Agama, Kejaksaan Agung dan Polri sepakat memaklumkan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang,” lanjut Andina di halaman yang sama.

Mendengar berita itu, Mardi, langsung datang ke ruang kerja Wakil Presiden Jusuf Kalla dan menyampaikan perkembangan ini.

Atas laporan Mardi, tulis Andina, Wapres langsung menelpon petinggi-petinggi terkait, dan juga Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, untuk menyatakan bahwa kesepakatan menyatakan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang adalah melanggar konstitusi.

Menurut Azuymardi, jika Ahmadiyah dinyatakan sebagai organisasi ilegal, maka para anggota atau jemaahnya boleh diperlakukan seperti anggota PKI pasca persitiwa 30 September 1965. “Ini jelas melanggar UUD 1945 dan HAM.”

Akhirnya, pemerintah benar-benar tidak secara tegas melakukan pelarangan dan pembubaran terhadap organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) seperti tuntutan umat Islam Indonesia saat itu.

“Pada akhirnya maklumat tidak jadi diberlakukan. Ahmadiyah ‘hanya’ dilarang menyiarkan paham keagamaannya seperti ditetapkan dalam SKB Menteri Agama No.3/2008, Jaksa Agung No Kep 033/A/JA/6/2006 dan Menteri Dalam Negeri No. 199/2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat,” tulis Andina pada halaman 125 buku biografi Mardi itu.

Menurut penelusuran SI Online terhadap SKB yang dimaksud, penulisan SKB pada buku biografi Mardi ini ternyata terdapat kesalahan. Untuk Jaksa Agung mestinya ditulis No. KEP-033/A/JA/6/2008 dan perihal surat keputusan bersama itu adalah “tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)dan Warga Masyarakat.”

Karena ‘jasa’ Mardi dan JK inilah, hingga kini Jemaat Ahmadiyah Indonesia masih bisa terus beraktifitas dan bebas melakukan penodaan terhadap ajaran Islam, tulis  shodiq ramadhan dalam SI Online Senin, 19/05/2014. https://www.nahimunkar.org/jusuf-kalla-dan-azra-pembela-aliran-sesat/

Memuji Anand Krishna

Lebih dari itu, bahkan Nasaruddin Umar pun masuk di jajaran kepemimpinan MUI yang baru ini. Padahal Nasaruddin Umar ini adalah tokoh yang dekat dengan penyesat non Muslim, dan tersangkut kasus pelecehan seks yakni Anand Krishna. Bahkan Nasaruddin Umar memberi kata pengantar buku Anand Krishna yang sangat menyesatkan.

Dalam hal penyesatan, kiprah Nasaruddin Umar tercatat sebagai orang yang bekerjasama dengan orang kafir dalam merusak Islam.

Inilah beritanya:

Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dia ini memberi kata pengantar dengan memuji-muji buku Anand Kreshna, keturunan India kelahiran Solo, yang tidak jelas agamanya apa, tetapi isi bukunya itu mencampur aduk aneka ajaran agama. Hanya saja judul-judulnya membahas tentang Islam, bahkan Al-Qur’an. Buku-buku Anand diterbitkan oleh penerbitan Katolik, Gramedia alias Kompas Group di Jakarta. Karena isinya banyak merusak pemahaman Islam, maka dihujat orang lewat Majalah Media Dakwah danRepublika, akhirnya buku-buku Anand Kreshna ditarik dari peredaran oleh penerbitnya. (Silahkan baca selengkapnya ada di buku Hartono Ahmad Jaiz ,Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan 2, Desember 2001 ).

Anand Kreshna mengacak-acak Al-Qur’an tapi dipuji Nasaruddin Umar

Berikut ini akan kami kemukakan contoh-contoh ungkapan Anand Kreshna yang mengandung masalah dalam bukunya yang berjudul Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern, sebuah apresiasi, dengan kata pengantar Dr Nasruddin Umar MA pembantu rektor IV IAIN Jakarta (sekarang UIN –Universitas Islam Negeri), terbitan PT GramediaPustaka Utama, Jakarta. Kami akan mengutip secukupnya, kemudian kami beri tanggapan singkat.

Kutipan: Menurut beberapa riwayat, Nabi Muhammad pun pernah mengatakan, Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! Juga, “Aku adalah Arab tanpa ‘ain”. Berarti, Akulah Rabb –Ia Yang Maha mencipta, Maha Melindungi, Maha Menguasai! (halaman 43).

Tanggapan: Ini ada berbagai persoalan. Pertama, riwayat itu harus jelas, karena perkataan Nabi SAW itu harus jelas periwayatannya. Kedua, perkataan yang diatas namakan sabda Nabi SAW itu isinya merupakan bentuk kemusyrikan dan bertentangan dengan ayat Al-Qur’an: Katakanlah: “sesungguhnya aku ini (Muhammad) hanya seorang manusia.seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS Al-Kahfi/ 18: 110).

Pernyataan Anand Kreshna itu adalah kemusyrikan diatas namakan Nabi Muhammad SAW, dan untuk menerjemahkan surat Al-Ikhlash yang justru menegaskan tauhid..

Kutipan: Dalam buku ini Pak Anand Krishna ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa bukan aspek mistisnya surah-surah ini yang perlu ditonjolkan, melainkan penghayatan maknanya yang begitu dalam dan komprehensif. (kata pengantar Dr Nasruddin Umar MA, halaman xviii).

Tanggapan: Pujian itu sangat jauh dari kenyataan. Isi buku ini jauh dari makna dan maksud ayat-ayat yang ia jelaskan itu.

Dengan mengetahui latar belakang seperti ini, maka para Ulama dan Ummat Islam yang memperjuangkan agamanya agar tidak terkecoh oleh orang-orang yang sebenarnya musuh Islam namun duduk di lembaga resmi seakan mengurusi Islam. Banyak musang berbulu ayam, dan kokoknya berbunyi nyaring. Waspadalah wahai sauara-saudaraku!

https://www.nahimunkar.org/gus-dur-anand-kreshna-nasaruddin-umar-dan-ruu-peradilan-agama-tentang-perk

Tentang kepengurusan MUI 2015-2020, inilah beritanya.

***

Rais Aam PBNU KH Makruf Amien Terpilih Ketum

Inilah Susunan Pengurus MUI 2015-2020

 Kamis, 27 Agustus 2015 10:21:39
Reporter : Rahardi Soekarno J.

logo MUI

Surabaya (beritajatim.com) – Rais Aam PBNU KH Makruf Amin terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020 melalui musyawarah mufakat oleh tim formatur pada Musyawarah Nasional IX di Surabaya, Kamis (27/8/2015) dini hari.

“Selamat kepala KH Makruf Amin atas amanah ini. Tim formatur telah sepakat,” kata Ketua Tim Formatur Munas IX MUI Din Syamsuddin di Garden Palace Hotel Surabaya.

KH Makruf Amin mengaku bersyukur dan berterima kasih kepada peserta Munas IX yang memercayakannya menjalankan amanat memimpin MUI ke depan. “Pengurus baru segera melakukan konsolidasi organisasi sekaligus pembenahan dan perumusan kembali rencana kerja agar lebih terarah. Tentu saja hal ini akan membuat kinerja lebih efektif, termasuk tentang peta dakwah maupun sasaran dakwahnya,” katanya.

Usai pembacaan pengurus baru, Munas IX MUI yang semula dijadwalkan akan ditutup oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla itu langsung ditutup secara resmi oleh Ketua umum MUI Pusat terpilih tepat pukul 01.30 WIB.

Pada struktural Dewan Pimpinan MUI Pusat terbaru periode lima tahun ke depan, posisi ketua umum dan wakil ketua akan dibantu oleh 12 orang ketua, delapan wakil sekjen, dan lima orang bendahara.

Tim formatur Munas IX MUI selain memilih Ketua Umum sebagai pengurus harian, juga Ketua Dewan Pertimbangan. Bahkan, kepengurusan harian dibawah KH Makruf Amin dan dewan pertimbangan Prof Dr Din Syamsudin juga sudah dibentuk. [tok/but]

Berikut ini susunan struktur dan personalia organisasi MUI Pusat masa khidmat 2015-2020 yang sudah diputuskan oleh tim formatur:

Dewan Pertimbangan

Ketua
Prof Dr HM Din Syamsudin

Wakil Ketua
Prof Dr Nasaruddin Umar
Prof Dr KH Didin Hafiduddin
Prof Dr Azyumardi

Sekretaris
Dr Noor Ahmad

Wakil Sekretaris
Natsir Zubaidi
Dr Bachtiar Nasir

Anggota
Ketua-ketua umum ormas Islam (yang diundang sebagai peserta munas 2015), tokoh tokoh ulama, zuama, cendikiawan muslim.

Dewan Pimpinan MUI

Ketua Umum
DR KH Makruf Amin

Wakil Ketua Umum
Prof DR Yunahar Ilyas
KH Slamet Effendy Yusuf

Ketua-ketua
H Basri Bermanda
DR H Yusnar Yusuf
Prof DR H Maman Abdurrahman
Prof DR Hj Huzaemh T Yango
Prof DR Hj Tuty Alawiyah
KH Muhyidin Junaidi
KH Abdullah Jaidi
HM Ichwan Sam
H Zainut Tauhid Sa’adi
DR Ir H Lukmanul Hakim
DR KH Sodikun
KH Abdussomad Buchori

Sekretaris Jenderal
DR H Anwar Abbas

Wakil Sekretaris
DR KH Tengku Zulkarnain
DR Amirsyah Tambunan
DR H Zaitun Rasmin
DR Najamudin Ramli
H Solahuddin Al Ayubi
Rofiqul Umam
DR Hj Valina Subekti
H Misbahul Ulum

Bendahara Umum
Prof DR Hj Amani Lubis

Bendahara
dr Fahmi Darmawansyah
Yusuf Muhammad
DR H Nadratuzzaman Hosen
H Iing Solihin
Burhan Muhsin

/ http://beritajatim.com/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 15.756 kali, 5 untuk hari ini)