Innaa LilLaahi… Masuk MUI, Pengusung Kemusyrikan Ruwatan dan Pembela Ahok Penista Agama

  • Pentolan NU Marsudi Syuhud Pengusung Kemusyrikan Ruwatan, dan Dedengkot NU Masdar F Mas’udi Pembela Ahok Penista Agama, Masuk MUI

Siapa mereka?

Yaitu KH Marsyudi Syuhud, diangkat jadi Wakil Ketua Umum MUI, yang terdiri dari 3 orang:

– Dr H Anwar Abbas

KH Marsyudi Syuhud

– H Basri Barmanda

 

Adapun dedengkot NU pembela Ahok Penista Agama adalah KH Masdar F Masudi termasuk dalam Wakil Ketua Wantim MUI yang terdiri dari sejumlah tokoh.

Ada yang menyayangkan masuknya Marsyudi Syuhud ke jajaran pengurus MUI. Di antaranya komen di fp:

  • Semoga MUI jauh dari orang2 liberal dan NU Garis Am****

     · 1 jam

    Tiew

    Mudah mudahan MUI ga’ dijegal oleh rejim

     3 jam

    Alimirhan Mirhan Seekonomi

    Tapi di MUI ada Marsudi Syuhud dari nu yg liberal, kyai gereja, pendukung ahok, ini gmn? Malah ust. Tenku Zulkarnain dan Dien Syamsudin ga’ jadi pengurusMUI lagi…

     · 3 jam

Ada jawaban untuk

Alimirhan Mirhan Seekonomi

Marsudi Syuhud ketua PBNU begitu mimpin acara kemusyrikan ruwatan Gibran di Solo kemudian langsung diangkat jadi Wakil Ketua Umum MUI (terdiri 3 orang). Masa’ pengusung kemusyrikan malah diangkat jadi pengurus MUI.

***

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ulang berita Ketua PBNU Marsudi Syuhud pimpin acara kemusyrikan ruwatan Gibran di Solo.

***

Ketua PBNU Ruwat Gibran di Solo, padahal Ruwatan Itu Ritual Syirik Akbar

Posted on 12 November 2020

by Nahimunkar.org

 

Ketua PBNU Ruwat Gibran di Solo, padahal Ruwatan Itu Ritual Syirik Akbar

Ruwatan dan Bahayanya bagi Aqidah Islam

 

Silakan simak ini.

***

Gibran Jalani Ruwatan

 
 Gibran jalani ruwatan dipimpin ketua PBNU Marsudi Suud (kiri).

SOLO, indonesiabaru.id – Rabu (11/11) siang tadi, Gibran rakabuming raka menjalani ritual ruwatan yang diselenggarakan asosiasi petani pengolah hortikultura di kota Solo Jawa Tengah. Putra sulung presiden Jokowi ini tiba di lokasi acara tanpa ada pengawalan ketat. Kedatangan suami Silvi Ananda ini pun langsung disambut warga yang hadir dengan diiringi lagu hadrah.

Rangkaian ruwatan untuk calon walikota Solo dengan nomor urut 01 ini pun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an dan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan rambut Gibran. Ruwatan Gibran yang akan maju sebagai walikota solo ini dipimpin oleh ketua PBNU Marsudi Suud. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan siraman ke kemeja yang dikenakan Gibran. Selanjutnya usai prosesi tersebut, Gibran pun menerima potongan tujuh buah tumpeng yang telah dipersiapkan. Selama prosesi ruwatan buang sial ini, doa terus dipanjatkan untuk kemenangan Gibran dalam pilkada kota Solo yang akan digelar 9 Desember mendatang.

Ruwatan buang sial untuk pasangan Gibran Teguh ini sengaja digelar sebagai dukungan kepada pasangan ini, agar bila terpilih nantinya, bisa bekerja dengan penuh tanggungjawab, memikul amanat yang telah dipercayakan warga Solo kepada pasangan ini. Doa dan harapan pun diberikan untuk pasangan ini.

Pada pilkada walikota Solo 9 Desember nanti dua pasangan calon siap bertarung, masing masing pasangan Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakoso dengan nomor urut 01 dan pasangan nomor urut 02 Bagyo Wahyono dan FX Suparjo. (R34)/ ByIndonesia Baru

indonesiabaru.id, Rabu, 11 November 2020

***

Ruwatan dan Bahayanya bagi Aqidah Islam

 

Posted on 23 Oktober 2014

by Nahimunkar.org



Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Ruwatan, Kemusyrikan yang Dihidupkan Kembali Oleh Kiyai Liberal

Para ulama, muballigh dan tokoh Islam sudah berupaya meredam kemusyrikan, dosa terbesar berupa menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Di antara kemusyrikan yang sudah diredam adalah ruwatan, yaitu upacara kemusyrikan, percaya kepada Betoro Kolo, hingga meyakini dengan diadakan ruwatan maka terhindar dari dimangsa Betoro Kolo dan terbuanglah sialnya. Padahal sial ataupun beruntung itu datangnya hanya dari Allah Ta’ala, maka mestinya meminta hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya, dan bukan dengan cara-cara yang tidak diajarkan Allah Ta’ala.
Terus terang ketika di tahun 2000 ada berita bahwa Presiden Abdurrahman Wahid akan diruwat, saya langsung teringat zaman PKI (PartaiKomunis Indonesia) sebelum peristiwa pemberontakan G30S/PKI 1965. Karena setahu saya adanya ruwatan itu hanya di daerah-daerah PKI atau kalangan orang abangan (Islam tak shalat) di Jawa. Sedang desa-desa yang masyarakatnya Islam tidak pernah melaksanakan ruwatan. Meskipun tidak otomatis ruwatan itu identik dengan PKI, namun timbul pertanyaan, apakah Gus Dur mewarisi ajaran ruwatan itu dari gurunya, Ibu Rubiyah yang memang Gerwani/PKI perempuan? Wallahua’lam. (Tentang guru Gus Dur di antaranya orang Gerwani itu lihat buku Bahaya Pemikirian Gus Dur II, Menyakiti Hati Umat, Oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2000).
Ruwatan itu sendiri tidak terdengar di masyarakat sejak dilarangnya PKI tahun 1966 (TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme).

Namun Ruwatan mulai terdengar lagi sejak 1990-an, setelah dukun-dukun berani muncul terang-terangan bahkan praktek di mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan dan membuat paguyuban yang mereka sebut PPI (Paguyuban Paranormal Indonesia). Konon anggota paguyuban “wali syetan” (istilah hadits Nabi Muhammad untuk dukun) itu 60.000-an dukun. Meskipun demikian, istilah ruwatan tidak begitu terdengar luas, dan baru sangat terdengar ketika ada khabar bahwa Gus Dur, Presiden Indonesia ke-4 yang bekas ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, satu organisasi yang berdiri sejak zaman Belanda 1926) akan diruwat, dan kemudian dia benar-benar hadir dalam acara ruwatan di UGM (Universitas Gajah Mada) Yogya, 18/8 2000.

Apa itu ruwatan?

Ruwatan adalah satu upacara kepercayaan yang diyakini sebagai ritual membuang sial yang disebut sukerto alias penderitaan. Istilah ruwatan, artinya membebaskan ancaman dari marabahaya yang datangnya dari Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak raja para dewa yakni Batoro Guru.
Batoro Kolo, menurut kepercayaan kemusyrikan ini, adalah raksasa buruk jelmaan dari mani (sperma) Batoro Guru yang berceceran di laut, ketika gagal bersenggama dengan permaisurinya, BatariUma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan, karena Batari Uma belum siap. Karena Batoro Guru gagal mengendalikan diri “dengan sang waktu” (kolo) maka mani yang tercecer di laut dan menjadi raksasa buruk itu disebut Batoro Kolo, pemakan manusia.
Lalu Batoro Guru berjanji akan memberi makan enak yaitu manusia yang dilahirkan dalam kondisi tertentu. Seperti kelahiran tanggal sekian yang menurut perhitungan klenik (tathoyyur) akan mengalami sukerto alias penderitaan. Juga yang lahir dalam keadaan ontang-anting (tunggal), kembang sepasang (dua anak lelaki semua atau perempuan semua), sendang apit pancuran (pria, wanita, pria), pendowolimo (5 anak pria semua). Dll. (Lihat AM Saefuddin, Ruwatandalam Perspektif Islam, Harian Terbit, Jum’at 11 Agustus 2000, hal 6).
Itulah orang-orang yang harus diruwat menurut kepercayaan dari cerita wayang. Padahal, cerita wayang itu semodel juga dengan cerita tentang Pendeta Durno yang menyetubuhi kuda lantas lahirlah Aswotomo. Konon Durno diartikan mundur-mundur keno/kena, jadi dia naik kuda betina lantas mundur-mundur maka kenalah ke kemaluan kuda, akhirnya kuda itu melahirkan anak manusia. Hanya saja anak yang lahir dari kuda ini diceritakan tidak jadi raksasa dan tidak memakan manusia.
Jadi, nilai cerita ruwatan itu sebenarnya juga hanya seperti nilai cerita yang dari segi mutunya saja sangat tidak bermutu, seperti anak lahir dari rahim kuda itu tadi.
Upacara ruwatan itu bermacam-macam. Ada yang dengan mengubur seluruh tubuh orang/ anak yang diruwat kecuali kepalanya, ada yang disembunyikan di tempat tertentu dsb.
Adapun Ruwatan yang dilakukan di depan Gedung Balairung Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jum’at malam 18/82000 itu dihadiri Presiden Abdurrahman Wahid didampingi isterinya Ny Nuriyah dan putri sulungnya Alissa Qatrunnada Munawaroh. Selainitu tampak hadir pula Kapolri Jenderal Rusdihardjo (belakangan, 3 bulan kemudian Rusdihardjo dipecat dari jabatannya sebagai Kapolri oleh Gus Dur, konon karena ada berita bocor yang menyebutkan hasil penyidikan kasus Bruneigate yang diduga menyangkut Presiden Gus Dur), Rektor UGM Ichlasul Amal, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sri Edi Swasono, dan Frans Seda.
Ruwatan itu dilaksanakan terhadap 11 orang akademisi disebut ruwatan bangsa, penyelenggaraannya diketuai Mayjen (purnawirawan) Hariyadi Darmawan. Mereka yang diruwat ituadalah Prof.Sayogya,Prof Kunto Wibisono, DrHariadi Darmawan, Tjuk Sukiadi, Prof Sri Edi Swasono, Ny Mubyarto, Bambang Ismawan, Nanik Zaenudin, Ken Sularto, Amir Sidharta, dan Wirawanto.
Sebelas orang yang diruwat itu bersarung putih. Kumis dan jenggotnya dicukur bersih, kemudian tubuhnya disiram dengan air kembang. (lihat Rakyat Merdeka, 19/8 2000).
Sementara itu di luar Gedung UGM telah berlangsung demonstrasi mahasiswa yang menentang ruwatan tersebut.
Itulah acara ruwatan untuk menghindari Batoro Kolo dengan upacara seperti itu dan wayangan. Biasanya wayangan itu untuk memuji-muji Batoro Kolo, agar terhanyut dengan pujian itu, dan lupa memangsa. Di UGM itu wayangan dengan lakon Murwokolo dan Sesaji Rojo Suryo oleh dalang Ki Timbul Hadiprayitno.

Kemusyrikan

Ruwatan itu ada yang menyebutnya adat, ada pula yang menilainya sebagai kepercayaan. Islam memandang, adat itu ada dua macam, adat yang mubah (boleh) dan adat yang haram. Sedang mengenai kepercayaan, itu sudah langsung haram apabila bukan termasuk dalam Islam.
Adat yang boleh contohnya blangkon (tutup kepala) untuk orang Jawa. Itu tidak dilarang dalam Islam.Tetapi kemben, pakaian wanita yang hanya sampai dada bawah leher, itu haram, karena tidak menutup aurat. Tetapi kalau dilengkapi dengan kerudung, menutup seluruh tubuh dan juga menutup rambut kepala, maka tidak haram lagi, jadi boleh. Hanya saja namanya bukan kemben lagi tapi busana Muslimah atau jilbab, kalau jelas-jelas sudah menutup aurat secara Islam.
Adat yang boleh, seperti blangkon tersebutpun, kalau disamping sebagai adat masih pula diyakini bahwa akan terkena bahaya apabila tidak memakai blangkon (yang kaitannya dengan kekuatan ghaib) maka sudah menyangkut keyakinan/kepercayaan, hingga hukumnya dilarang atau haram, karena tidak sesuai dengan Islam. Keyakinan yang dibolehkan hanyalah yang diajarkan oleh Islam.

Demikian pula ruwatan, sekalipun ada yang mengatakan bahwa itu merupakan adat, namun karena menyangkut hal ghaib, berkaitan dengan nasib sial, bahaya dan sebagainya; maka jelas merupakan keyakinan batil, karena Islam tidak mengajarkan seperti itu.

Sedang keyakinan adanya bala’ akibat kondisi dilahirkannya seseorang itupun sudah merupakan pelanggaran dalam hal keyakinan, yang dalam Islam terhitung syirik, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang orangnya disebut musyrik, pelaku durhaka terbesar dosanya.Tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya keyakinan itu, namun justru ada ketegasan bahwa meyakini nasib sial dengan alamat-alamat seperti itu adalah termasuk tathoyyur, yang hukumnya syirik, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala; dosa terbesar.

Tathoyyur atau Thiyaroh adalah merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.
Abu Dawud meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

الطِّيَرَةُ
شِرْكٌ،
الطِّيَرَةُ
شِرْك،ٌ
وَمَا
مِنَّا
إِلاَّ
،
وَلَكِنَّ
اللَّهَ
يُذْهِبُهُ
بِالتَّوَكُّلِ

“At-thiyarotu syirkun, at-thiyarotu syirkun wamaa minnaa illa, walaakinnallooha yudzhibuhu bittawakkuli.”
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, dan tiada seorangpun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.”(Hadits Riwayat Abu Daud). Hadits ini diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dengan dinyatakan shahih, dan kalimat terakhir tersebut dijadikannya sebagai ucapan dari Ibnu Mas’ud. (Lihat Kitab Tauhid oleh Syaikh Muhammad At-Tamimi, terjemahan Muhammad Yusuf Harun, cetakan I, 1416H/ 1995, halaman 150).

عَنْ
عَبْدِ
اللَّهِ
بْنِ
عَمْرٍو
قَالَ
قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِصلى
الله
عليه
وسلم– « مَنْ
رَدَّتْهُ
الطِّيَرَةُ
مِنْ
حَاجَةٍ
فَقَدْ
أَشْرَكَ ». قَالُوا
يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
مَا
كَفَّارَةُ
ذَلِكَ
قَالَ « أَنْ
يَقُولَ
أَحَدُهُمْ
اللَّهُمَّ
لاَ
خَيْرَ
إِلاَّ
خَيْرُكَ
وَلاَ
طَيْرَ
إِلاَّ
طَيْرُكَ
وَلاَ
إِلَهَ
غَيْرُكَ ».

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Amr bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapayang mengurungkan hajatnya karena thiyarah,maka dia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya: “Lalu apakah sebagai tebusannya?”Beliau menjawab:”Supaya mengucapkan:

اللَّهُمَّ
لاَ
خَيْرَ
إِلاَّ
خَيْرُكَ
وَلاَ
طَيْرَ
إِلاَّ
طَيْرُكَ
وَلاَ
إِلَهَ
غَيْرُكَ.

Allahumma laa khoiro illaa khoiruka walaa thoiro illaa thoiruka walaa ilaaha ghoiruka.
YaAllah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau, dan tiada sembahan yang haqselain Engkau.”(H R Ahmad). (Syaikh Muhammad At-Tamimi, Kitab Tauhid, hal 151).
Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar tidak dimangsa dengan upacara ruwatan dan wayangan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا
تَدْعُ
مِنْ
دُونِ
اللَّهِ
مَا
لَا
يَنْفَعُكَ
وَلَا
يَضُرُّكَ
فَإِنْ
فَعَلْتَ
فَإِنَّكَ
إِذًا
مِنَ
الظَّالِمِينَ(106)

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian,termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106).

{ إنك
إذاً
من
الظالمين } : أي
إنك
إذا
دعوتها
من
المشركين
الظالمين
لأنفسهم .

“…maka sesungguhnya kamu, dengan demikian,termasukorang-orang yang dhalim (musyrik).” Artinya sesungguhnya kamu apabila mendoa kepada selain-Nya adalah termasuk orang-orang musyrik yang mendhalimi kepada diri-diri mereka sendiri. [أيسر
التفاسير
للجزائري – (ج 2 / ص
153)]

وَإِنْ
يَمْسَسْكَ
اللَّهُ
بِضُرٍّ
فَلَا
كَاشِفَ
لَهُ
إِلَّا
هُوَ
وَإِنْ
يُرِدْكَ
بِخَيْرٍ
فَلَا
رَادَّ
لِفَضْلِهِ
يُصِيبُ
بِهِ
مَنْ
يَشَاءُ
مِنْ
عِبَادِهِ
وَهُوَ
الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ(107)

“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia- Nya…”( Yunus: 107).

Kesimpulan:
1.Ruwatan Mendatangkan Dosa Terbesar.

2.Ruwatan itu kepercayaan non Islam berlandaskan cerita wayang. Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo, raksasa pemakanmanusia, anak Batoro Guru/ raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk jelmaan dari sperma Batoro Guruyang berceceran di laut, setelah gagal bersenggama dengan permaisurinya, BatariUma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan.
Itulah kepercayaan musyrik/ menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang berlandaskan cerita wayang penuh takhayyul, khurofat, dan tathoyyur (menganggap sesuatu sebagai alamat sial dsb). Upacara ruwatan itu bermacam-macam:
ada yang dengan mengubur sekujur tubuh selain kepala,
atau menyembunyikan anak/ orang yang diruwat,
ada yang dimandikan dengan air kembang dan sebagainya.
Biasanya ruwatan itu disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa.

3.Ruwatan itu dari segi keyakinannya termasuk tathayyur, satu jenis kemusyrikan yang sangat dilarang Islam, dosa terbesar. Sedang dari segi upacaranya termasuk menyembah/ memohon perlindungan kepada selain Allah, yaitu ke Betoro Kolo, satu jenis upacara kemusyrikan, dosa terbesar pula.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ
شِرْكٌ
ثَلَاثَ
مَرَّاتٍ

“Thiyarah (tathayyur) adalah syirik/ menyekutukan Allah, thiyarah adalah syirik, thiyaroh adalah syirik, (diucapkan) tiga kali. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

4.Merasa sial karena sesuatu atau alamat-alamat yang dianggap mendatangkan sial, termasuk perbuatan kemusyrikan. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ
رَدَّتْهُ
الطِّيَرَةُ
عَنْ
حَاجَتِهِ
فَقَدْ
أَشْرَكَ
قَالُوا : وَمَا
كَفَّارَةُ
ذَلِكَ
؟
قَالَ : أَنْ
يَقُولَ
اللَّهُمَّ
لَا
خَيْرَ
إلَّا
خَيْرُك
وَلَا
طَيْرَ
إلَّا
طَيْرُك , وَلَا
إلَهَ
غَيْرُكَ(رواه
ِأَحْمَدَ
عن
عَبْدِ
اللَّهِ
بْنِ
عُمَرَ. قال
الشيخ
الألباني : ( صحيح ) انظر
حديث
رقم : 6264 في
صحيح
الجامع)

“Barangsiapa yangtidak jadi melakukan keperluannya karena merasa sial, maka ia telah syirik.Maka para sahabat RA bertanya, Lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah? Maka jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Katakanlah : Allahumma laa khairaillaa khairaka walaa thiyara illa thiyaraka walaa ilaha ghairaka.” Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tidak ada kesialan kecuali kesialan (dari)Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Mu. (HR.Ahmad dari Abdullah bin Umar dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Allah SWT berfirman:

وَلَا
تَدْعُ
مِنْ
دُونِ
اللَّهِ
مَا
لَا
يَنْفَعُكَ
وَلَا
يَضُرُّكَ
فَإِنْ
فَعَلْتَ
فَإِنَّكَ
إِذًا
مِنَ
الظَّالِمِينَ(106)

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik)”. (QS Yunus/ 10:106).

5. Sudah jelas, Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat melarang kemusyrikan. Dan bahkan mengancam dengan adzab, baik di dunia maupun di akherat. namun kini kemusyrikan itu justru dinasionalkan. Maka perlu dibisikkan ke telinga-telinga mereka, bahwa sebenarnya lakon mereka tu menghadang/ menantang datangnya adzab dan murka Allah SWT, di dunia maupun di akherat.
Masyarakat perlu diberi penjelasan, bahwa ruwatan itu adalah kemusyrikan, dosa terbesar yang tidak diampuni. Hingga pelakunya bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat dan berstatus musyrik, maka haram masuk surga, dan tempatnya di neraka. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

{إِنَّهُ
مَنْ
يُشْرِكْ
بِاللَّهِ
فَقَدْ
حَرَّمَ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ
النَّارُ
وَمَا
لِلظَّالِمِينَ
مِنْ
أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

(nahimunkar.org/edt.: br)

***

Adapun berita dedengkot NU bela Ahok penista agama, silakan simak ini.

***

Memalukan! Masdar F Mas’udi dari NU Terjerembab dalam Dalil Serampangannya demi Bela Ahok


Posted on 30 Maret 2017

by Nahimunkar.org


Ahok terdakwa penista agama (kiri) Masdar Wong NU, saksi ahli meringankan Ahok (kanan)/ foto rpblkin


Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, berpendapat bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut dia, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“(Dalam surat Al Mumtahanah ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar saat menjadi saksi dalam sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaha Purnama (Ahok), di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017). Demikian berita BERANINEWS.COM dengan menyebutkan sumber kompas.com.

Rupanya media itu sebegitu kagumnya terhadap wong NU yang dikenal nyeleneh tersebut, hingga memberi judul mencolok dengan ungkapan: Saksi Ahli Agama Dari PBNU Kyai Masdar F Mas`udi Keluarkan Dalil Pamungkas Soal Arti Auliya.

Komentar kami, apabila Masdar F Mas’udi yang pernah berani melontarkan gagasan sangat aneh, yaitu perubahan waktu berhaji (berkonotasi, wuquf jangan hanya tanggal 9 Zulhijjah. Pendapat ini sama dengan merusak syari’at haji) itu sedikit mau jujur, atau sedikit mau tunduk pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, maka dia akan malu sekali dengan berdalih secara serampangan seperti itu.

Dengan lantangnya dia berbicara bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut dia, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“(Dalam surat Al Mumtahana ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar.

Apakah Anda berani jamin, wahai pentolan NU, apa yang kau katakan: “Kalau sekadar beda agama, enggak masalah”?

Perkataan Masdar Farid Mas’udi ini benar-benar serampangan, dan merupakan perkara besar. Karena perbedaan agama (Islam dan kekufuran) itu adalah masalah besar. Islam diridhai Allah Ta’ala (lihat QS Al-Maidah ayat 3), sedang kekufuran sama sekali tidak diridhoi (lihat QS Az-Zumar/39:7). Adanya larangan memilih pemimpin Yahudi dan Nasrani dalam QS Al-Maidah 51 justru kaitannya dengan ridho dan tidak ridhonya Allah itu, di samping untuk maslahat bagi Umat Islam yang mematuhi wahyu Allah yakni ayat Al-Qur’an tersebut. Sedang hidup ini bagi orang Muslim adalah untuk meraih keridhoan Allah, sehingga Umat slam senantiasa berdoa setiap shalat dengan membaca Surat Al-Fatihah agar dihindarkan dari jalan orang yang maghdhub (dimurkai, tidak diridhoi) dan dihindarkan dari jalan dhoolliin (orang-orang yang sesat).

Itu persoalan pertama.

Adapun masalah kedua yang menunjukkan betapa serampangannya pentolan NU yang tampaknya dianggap memiliki senjata dalil pamungkas oleh media-mdia pro penista agama itu, adalah masalah (sang saksi ahli meringankan Ahok ini) hanya asal menghantam ayat pakai ayat yang dia anggap bisa untuk menghantamnya. (Na’udzubillah, saya khawatir, itu termasuk memain-mainkan agama).

Masdar F Mas’udi tidak usahlah seenak perutnya menghantam Al-Maidah 51 pakai surat Al Mumtahanah ayat 8. Apalagi untuk membela orang kafir terdakwa menista agama lagi.

Siapa yang lebih faham tentang Al-Qur’an. Wong NU Masdar F Mas’udi, atau isteri Baginda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, Aisyah yang sangat dibenci oleh orang-orang Syiah yang sering berkoncoan dengan oknum-oknum pengkhianat NU?

Kalau Masdar F Ma’sudi merasa lebih faham, ya silakan, kangkangi ini hadits.

Ada hadits shahih sebagai berikut:

عَنْ
جُبَيْرِ
بْنِ
نُفَيْرٍ،
قَالَ
دَخَلْتُ
عَلَى
عَائِشَةَ
فَقَالَتْ: هَلْ
تَقْرَأُ
سُورَةَ
الْمَائِدَةِ؟
قَالَ
قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَتْ: ” فَإِنَّهَا
آخِرُ
سُورَةٍ
نَزَلَتْ
فَمَا
وَجَدْتُمْ
فِيهَا
مِنْ
حَلَالٍ
فَاسْتَحِلُّوهُ،
وَمَا
وَجَدْتُمْ
فِيهَا
مِنْ
حَرَامٍ
فَحَرِّمُوهُ

وَسَأَلْتُهَا
عَنْخُلُقِ
رَسُولِ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ؟
فَقَالَتْ: ” الْقُرْآنُ “. والحديث
صححه
شعيب
الأرناؤوط
في
تحقيق
المسند. مسند
أحمد
ط
الرسالة (42/ 353)

‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata: Surat terakhir yang diturunkan adalah surat al Maidah.

Ahmad (25588) meriwayatkan dari Jubair bin Nufair berkata:

Saya telah menemui ‘Aisyah dan beliau berkata: “Apakah kamu membaca (hafal) surat al Maidah?, saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata: “Surat al Maidah adalah surat terakhir yang diturunkan dari al Qur’an, jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram. Saya juga bertanya kepada beliau tentang akhlak Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka beliau berkata: “Akhlak Nabi adalah al Qur’an”. (Hadits ini dishahihkan oleh Syu’aib al Arnauth dalam Musnad yang sudah diteliti)./ https://islamqa.info/id/21916

 Coba simak baik-baik: Beliau (Aisyah Radhiyallahu ‘anha) berkata: “Surat al Maidah adalah surat terakhir yang diturunkan dari al Qur’an, jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram.”

Yang dibicarakan dalam kasus Ahok ini dan dibela dengan dalil serampanga oleh Masdar F Mas’udi dari NU itu  adalah ayat Al-Maidah 51:

۞يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ
لَا
تَتَّخِذُواْ
ٱلۡيَهُودَ
وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ
أَوۡلِيَآءَۘ
بَعۡضُهُمۡ
أَوۡلِيَآءُ
بَعۡضٖۚ
وَمَن
يَتَوَلَّهُم
مِّنكُمۡ
فَإِنَّهُۥ
مِنۡهُمۡۗ
إِنَّ
ٱللَّهَ
لَا
يَهۡدِي
ٱلۡقَوۡمَ
ٱلظَّٰلِمِينَ
٥١ [سورة
المائدة,٥١]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah,51].

Sesuai dengan penegasan dari Aisyah isteri Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam “jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya (Surat Al-Maidah) maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram,” ternyata para ahli tafsir (bukan hanya diangkat-angkat sebagai saksi ahli untuk meringankan Ahok terdakwa penista agama) menyusun tafsir resmi Departemen Agama RI (kini Kemenag) tunduk patuh kepada petunjuk Aisyah RA itu. Bukan seperti Masdar F Mas’udi yang hanya diangkat-angkat sebagai saksi ahli untuk meringankan Ahok terdakwa penista agama, yang berani berdalil secara serampangan itu.

Berikut ini buktinya.

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Resmi Depag RI


۞يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ
لَا
تَتَّخِذُواْ
ٱلۡيَهُودَ
وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ
أَوۡلِيَآءَۘ
بَعۡضُهُمۡ
أَوۡلِيَآءُ
بَعۡضٖۚ
وَمَن
يَتَوَلَّهُم
مِّنكُمۡ
فَإِنَّهُۥ
مِنۡهُمۡۗ
إِنَّ
ٱللَّهَ
لَا
يَهۡدِي
ٱلۡقَوۡمَ
ٱلظَّٰلِمِينَ
٥١
فَتَرَى
ٱلَّذِينَ
فِي
قُلُوبِهِم
مَّرَضٞ
يُسَٰرِعُونَ
فِيهِمۡ
يَقُولُونَ
نَخۡشَىٰٓ
أَن
تُصِيبَنَا
دَآئِرَةٞۚ
فَعَسَى
ٱللَّهُ
أَن
يَأۡتِيَ
بِٱلۡفَتۡحِ
أَوۡ
أَمۡرٖ
مِّنۡ
عِندِهِۦ
فَيُصۡبِحُواْ
عَلَىٰ
مَآ
أَسَرُّواْ
فِيٓ
أَنفُسِهِمۡ
نَٰدِمِينَ
٥٢ [سورة
المائدة,٥١٥٢]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim
  2. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka  [Al Ma”idah,51-52]

Tafsir

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi da Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

Demikianlah. Betapa jauh bedanya, antara penafsiran para ahli tafsir yang menulis tafsir resmi Depag RI, dengan saksi ahli meringankan Ahok yang langsung atau tidak langsung seakan merasa lebih faham tentang ayat Al-Qur’an dibanding Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa sok tahunya, dan betapa memalukannya.

Secara keilmuan saja, kalau tanpa tujuan apa-apa, itu sudah menunjukkan kesombongan luar biasa di atas keserampangannya. Apalagi masih pula demi meringankan Ahok yang non Muslim dalam kasus sebagai terdakwa penista agama.

Oleh karena itu, media yang menyanjung Masdar F Mas’udi setinggi langit seperti berikut ini, terjengkang pula tampaknya dalam kemaluan yang luar biasa.

Silakan simak.

***

Saksi Ahli Agama Dari PBNU Kyai Masdar F Mas`udi Keluarkan Dalil Pamungkas Soal Arti Auliya

BERANINEWS.COM – Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, berpendapat bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut dia, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“(Dalam surat Al Mumtahanah ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar saat menjadi saksi dalam sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaha Purnama (Ahok), di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).

Ia menjadi saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa Ahok dalam persidangan.

Masdar menambahkan, Islam memperlakukan sama semua anggota masyarakat. Tak boleh ada diskriminasi berdasarkan perbedaan suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA).

“Yang terpenting bagi Islam itu adil. Bisa enggak melindungi hak warga. Keadilan adalah inti dari keberagaman dan kepemerintahan,” kata dia.

Ahok didakwa melakukan penodaan agama karena mengutip surat Al-Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.

JPU mendakwa Ahok dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP.

Saksi dari PBNU Sebut Ada Inkonsistensi Saat Cagub Non-muslim Hanya Dipersoalkan di Jakarta

Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Masdar Farid Mas’udi, membenarkan bahwa kepala daerah non-Muslim yang ikut pemilihan umum tidak hanya ada di DKI Jakarta, tetapi juga di provinsi lain.

Namun, menurut dia, isu mengenai larangan memilih pemimpin Muslim berdasarkan Al Maidah ayat 51 hanya terjadi di Jakarta.

“Ya, itulah inkonsistensi,” ujar Masdar saat bersaksi dalam sidang kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Rabu (29/3/2017).

Masdar menjadi saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa hukum Ahok. Ia mengatakan, masalah ini berkaitan dengan kedewasaan politik warga di suatu wilayah.

Masdar mencontohkan Sadiq Khan, seorang Muslim yang menjadi wali kota di London. Menurut dia, warga di London sudah memiliki kedewasaan politik.

“Jadi saya kira itu kembali kepada kedewasaan politik,” ujar Masdar.

Ia juga mengatakan, seharusnya perdebatan soal memilih pemimpin Muslim tidak terjadi lagi di Jakarta ini.

Seharusnya, kata dia, pertimbangan agama dalam memilih pemimpin hanya ada di internal masyarakat saja.

Pengacara Basuki atau Ahok pun bertanya apakah kasus dugaan penodaan agama ini cenderung politis.

Atas pertanyaan itu, Masdar mengaku sependapat. “Agaknya saya sependapat dengan itu,” kata Masdar.

sumber: kompas.com
/BERANINEWS.COM

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.465 kali, 1 untuk hari ini)