Innaa Lillaahi, Ulama Hadits KH Dr Ahmad Lutfi Fathullah Wafat

 

  • Kitab Durratun Nashihin begitu populer di Indonesia, India, dan Turki. Namun, menurut hasil penelitian Dr. Lutfi Fathullah, 30% dari 839 hadis di dalamnya ternyata berkategori palsu.

     

 

Direktur Pusat Kajian Hadist, Ahmad Lutfi Fathullah sekaligus Ketua Basnas DKI Jakarta wafat Ahad (11/7)

Foto: Republika/Agung Supriyanto

KH Dr Lutfi Fathullah Wafat menjabat Ketua Basnas DKI Jakarta

JAKARTA – Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Umat Islam Indonesia kembali berduka. Salah satu ulama Betawi di bidang hadits, KH Dr Lutfi Fathullah, meninggal dunia pada Ahad (11/7).

Kabar meninggalnya sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Baznas/Bazis DKI itu dibenarkan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Noor Achmad.

“Betul. Kami merasa kehilangan, beliau sahabat yang sangat baik, beliau telah menjadi partner yang efektif bagi Baznas,” kata Noor pada Ahad.

Adapun untuk penyebab wafatnya, Noor belum mengetahui dengan pasti. Noor mengatakan, sebelumnya keduanya telah berjanji untuk bertemu tiga pekan lalu, namun akhirnya pertemuan tersebut dibatalkan. “Memang sudah cukup lama tidak bertemu, komunikasi melalui telepon,” kata Noor.

Noor mengungkapkan, kinerjanya di Baznas DKI Jakarta sudah tidak diragukan lagi. Melalui keterlibatan Ketua Bazis DKI, Baznas lebih banyak membantu mustahik.

“Beliau sangat berhasil di Jakarta untuk mengumpulkan dan mendistribusikan, di DKI Jakarta itu hampir Rp 200 milyar karena pengaruh beliau dan jaringan beliau sehingga banyak yang bisa dibantu bekerja sama dengan Gubernur,” kata Noor.

“Kita harus mengikhlaskannya, sabar, memang kita telah kehilangan banyak ulama. Di masa Covid-19 sudah banyak sekali, kemarin tiga hari lalu 543, kemudian tambah lagi,” lanjut Noor.

Ahad 11 Jul 2021 19:57 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah

***

 

Kitab Durratun Nashihin كتاب درة الناصحين Berisi 251 Hadits Palsu, Diantaranya 30 Keutamaan Shalat Tarawih

n 30% atau 251 dari 839 hadits di dalam Kitab Durratun Nashihin كتاب درة الناصحين ternyata berkategori palsu.

n Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits mutawatir :

n « مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ».

n “Barangsiapa yang berdusta atas nama saya dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat duduknya di Neraka” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah sorotannya.

***

Ini di antara hasil penelitian Dr. Lutfi Fathullah, 30% dari 839 hadis di dalam Kitab Durratun Nashihin ternyata berkategori palsu.

Kitab Durratun Nashihin begitu populer di Indonesia, India, dan Turki. Namun, menurut hasil penelitian Dr. Lutfi Fathullah, 30% dari 839 hadis di dalamnya ternyata berkategori palsu.

Silakan simak artikel berikut ini.

***

Kajian Hadis dalam Kitab Durratun Nashihin, Awas, Hadits Palsu !

 

Kitab Durratun Nashihin begitu populer di Indonesia, India, dan Turki. Namun, menurut hasil penelitian Dr. Lutfi Fathullah, 30% dari 839 hadis di dalamnya ternyata berkategori palsu.

Bagi Anda yang merasa punya dosa, sebesar dan seberat apa pun dosa itu, jangan takut. Cobalah baca salawat kepada Nabi Muhammad saw. Sebanyak seratus kali setiap hari Jumat. Maka dengan salawat itu dosa-dosa Anda praktis akan diampuni Tuhan. Ini sesuai dengan sebuah hadis yang dikutip Utsman ibn Hasan Al-Khubawi (w. 1824) dalam kitabnya Durratun Nashihin (DN). Hadis itu persisnya berbunyi, “Man shalla `alayya mi’atan fi kulli yaumi jumu`atin ghafarallahu lahu walau kanat dzunubuhu mitsla zabadil-bahri” (Barangsiapa membaca salawat seratus kali untukku setiap hari Jumat, maka Allah akan mengampuni dosanya, sekalipun dosanya itu seperti buih laut). Benarkah demikian? Tunggu dulu. Hadis itu, menurut Dr. Lutfi Fathullah, ternyata palsu dilihat dari segi kekuatan hukumnya. Merujuk pada ahli hadis Asy-Syakhawi dalam kitabnya Al-Qaulul-Badi`, dosen ilmu hadis di IAIN Jakarta itu berpendapat bahwa hadis tersebut tak dikenal perawinya. Asy-Syakhawi tidak menemukan asal atau sumber hadis itu yang valid sebagai sabda Nabi Muhammad. “Karena itu,” kata Lutfi, “Asy-Syakhawi memasukkan hadis tersebut sebagai hadis yang tidak sahih alias palsu.” Dan, itu berarti pula, belum tentu benar bahwa hanya dengan membaca salawat seratus kali di hari Jumat segala dosa diampuni Tuhan.

Lutfi menyatakan pendapatnya itu dalam disertasinya berjudul “Kajian Hadis Kitab Durratun Nashihin” yang ditulisnya guna meraih gelar doktor falsafah dalam bidang ilmu hadis pada Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Malaysia. Disertasi setebal 787 halaman di bawah bimbingan Prof. Dr. Jawiah Dakir itu telah dipresentasikannya di depan sidang promosi doktor di UKM, 27 Oktober 1999 lalu, dengan penguji Prof. Dr.Muhammad Radhi, Prof. Dr. Abdul Samad Hadi, Prof. Dr. M. Zein, dan Prof. Dr.Muddasir Rosdir. Dan hasilnya, Lutfi meraih gelar doktor dengan yudisium memuaskan.

 

RUJUKAN PESANTREN.

Anak Betawi asli yang lahir pada 25 Maret 1964 itu memang sudah lama peduli hadis. Selain berhasil mengantongi gelar master dalam ilmu-ilmu hadis (‘ulumul hadits) dari Fakultas Syariah Universitas Yordania (1994), Lutfi juga selama empat tahun pernah secara intens bergelut dengan kitab-kitab tafsir-hadis karya ulama-ulama ternama, seperti Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, dan lain-lain. Lebih-lebih lagi, komunikasi-intelektualnya sangat dekat dengan Prof. Dr. Nuruddin `Itr, salah seorang pakar ilmu hadis yang sangat dikenal di dunia Arab.

Dengan dasar-dasar itu, Lutfi merasa jengah melihat cara masyarakat Islam, khususnya kalangan ulamanya, dalam menggunakan hadis. Menurut dia, dalam mengutip sebuah hadis, banyak kiai dan ulama hanya mengandalkan ucapan “Qaala Rasulullah…”, tanpa menyebut siapa perawi dan apa sanadnya. Ini berbahaya, baik bagi pengucapnya atau pendengarnya. Dalam ilmu hadis, lanjut alumnus Gontor itu, kalau sebuah hadis tak jelas perawinya, mungkin itu hadis palsu. “Menggunakannya sebagai dalil, dosanya sangat besar,” ujar Lutfi seraya mengutip hadis dari kitab Sahih Bukhari, “Man kadzaba `alayya muta`ammidan fal-yatabawwa’ maq`adahu minan-nar” (Barangsiapa berbohong kepadaku secara sengaja maka tempatnya di api neraka), sebagai landasan teologis penelitiannya.

Nah, dari situlah Lutfi merasa terpanggil untuk memilih DN sebagai objek kajiannya. Menurut dia, DN merupakan salah satu kitab populer di Indonesia. Menurut penelitian Martin van Bruinessen dan penelitian Masdar F. Mas`udi dkk., DN kerap dijadikan rujukan di masjid-masjid, musala, sekolah, dan terutama pesantren-pesantren di Sumatera, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura. DN pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahkan menurut Lutfi, sudah ada tujuh versi terjemahan DN berbahasa Indonesia, dengan penerjemah dan penerbit yang berbeda-beda–pertama kali diterjemahkan H. Salim Bahreisy, diterbitkan Balai Buku, Surabaya (1978).

DN ternyata juga cukup populer di Malaysia, Turki dan India. Di Malaysia, menurut Lutfi, hadis-hadis dalam DN sering dikutip di TV1, TV2, TV3, Berita Harian, dan lain-lain. Sementara di Turki bahkan sudah lebih lama lagi dikenal: sudah diterbitkan sejak 1262 H dan mengalami beberapa kali cetak ulang. Begitu pula di Mesir (terbit pada 1264 H), Libanon (dicetak ulang pada 1993 M) dan India (dicetak pada 1281 H). “Pokoknya,” kata Lutfi, “di mana pun tradisi tasawuf cukup kuat, di situlah DN mendapat tempat. Sebab, hadis-hadis di dalamnya memang cenderung lebih dekat ke tasawuf.” Yang agak mencengangkan adalah hasil temuan Lutfi sendiri. Hadis yang dikutip di atas bukanlah satu-satunya hadis palsu dalam DN dilihat dari kekuatan hukumnya.

Menurut dia, setelah merujuk pada kitab-kitab ahli hadis yang diakui mu`tabarah, secara keseluruhan Lutfi menemukan sebanyak 251 hadis palsu (30%). Sementara yang lemah (dha`if) 180 hadis (21,5%), amat lemah 48 hadis (5,7%), dan belum dapat dipastikan sebanyak 56 hadis (6,7%). “Yang terakhir ini dikategorikan demikian karena hadis-hadis tersebut tak dikenal perawinya. Atau bila dikenal, sanadnya tak diketahui,” jelasnya.

JANGAN ASAL SEBUT.

Adapun hadis yang shahih sebanyak 204 hadis (24,3%), shahih lighairihi 12 hadis (1,4%), isnadnya shahih 2 hadis (0,2%), hasan 67 hadis (8%), dan hasan lighairihi 19 hadis (2,2%) (Lihat tabel 1). Dari sejumlah itu, Lutfi juga mengklasifikasikan boleh-tidaknya hadis-hadis tersebut untuk digunakan sebagai dalil dalam berbagai keutamaan amal (fadha’ilul a`mal). Dari 839 hadis itu masing-masing boleh digunakan sebanyak 484 hadis (57,7%), tidak boleh digunakan sebanyak 336 hadis (40,2%), dan tak dapat dipastikan sebanyak 18 hadis (2,1%) (Lihat tabel 2).

Secara sederhana, Lutfi berkesimpulan seperti itu karena dua alasan.

Pertama : Dari segi kredibilitas penulisnya, keahlian Al-Khubawi dalam ilmu-ilmu keislaman, khususnya tafsir-hadis, masih diperdebatkan. Ismail Basya, misalnya, penulis biografi Al-Khubawi, tak pernah memujinya dengan sebutan Al-`Allamah, Asy-Syaikh, atau Al-Imam. Sementara Umar Ridha Kahhalah memuji Al-Khubawi dengan gelar wa`izh (pemberi nasihat), mufassir (ahli tafsir), dan muhaddits (ahli hadis). Lutfi menolak julukan itu, karena Al-Khubawi bukan mufasir dan muhaddits. “Saya setuju julukan wa`izh, pemberi nasihat. Memang itulah isi DN sebenarnya,” tuturnya seraya menjelaskan bahwa DN merupakan satu-satunya karya Al-Khubawi.

Kedua Karena Al-Khubawi bukan muhaddits, wajar jika kandungan DN lemah secara metodologi ilmu hadis. Misalnya, seperti ditemukan Lutfi, Al-Khubawi menukil hadis dari kitab-kitab tak dikenal pengarangnya; tidak menyebut sanad, baik dari dia sendiri atau dari perawi yang dinukilnya; tidak lazim menyebut perawi hadis setingkat sahabat; menyebut hadis dengan lafaz-lafaz kitab yang dinukil, bukan kitab asal yang meriwayatkan hadis dengan sanadnya; tidak menjelaskan hadis-hadis yang dinukilnya dapat dijadikan dalil atau tidak; tidak menilai hadis (hasan, dha`if, dan seterusnya) atau mengeritiknya; dan tidak menggunakan lafaz penyampaian (qaala, ruwiya, rawaa) sebagai syarat kekuatan hadis yang disebutkan.

Berdasarkan studinya itu, Lutfi menyarankan agar umat Islam–khususnya kiai dan ulama–lebih hati-hati dalam menggunakan hadis dan tidak asal sebut. DN juga perlu direvisi dengan penjelasan-penjelasan seperlunya. Misalnya ada keterangan hadis ini shahih, hadis itu palsu, dha`if, dan sebagainya. Bisa juga dibuat edisi mukhtasharnya dengan membuang semua hadis palsu atau yang tak jelas sumbernya. Ini mendesak dilakukan, mengingat sudah begitu terkenalnya kitab DN di masyarakat, sementara kritisisme masyarakat sendiri sangat minim terhadap hadis. “Kalau ini kita biarkan, berarti kita melestarikan kepalsuan-kepalsuan. Dan itu sangat berdosa,” tegas Lutfi. Dengan begitu, Lutfi sebetulnya sedang berbicara pada dirinya sendiri, atau dengan sesama ahli hadis lain–yang di Indonesia sangat minim, atau boleh dibilang langka. Akan lebih baik lagi jika hal serupa dilakukan juga terhadap kitab-kitab lain. Jadi, kita tunggu saja hasilnya. Dan Lutfi sudah memulainya. [Nasrullah Ali-Fauzi]

Kekuatan Hukum Hadis-hadis dalam Durratun Nashihin

Hukum Hadis, (Jumlah %)

Shahih, = (204) (24,3%)

ShahihLighairihi, = (12) (1,4%)

Isnaduhu Shahih, = (2) (0,2%)

Hasan, = (67) (8%)

Hasan Lighairihi, = (19) (2,2%)

Dha’if, = (180) (21,5%)

Amat Dha’if, = (48) (5,7%)

Palsu, = (251) (30%)

Belum Dapat Dipastikan, = (56) (6,7%)

Jumlah, = (839) (100%)

Kegunaan Hadis-hadis dalam Durratun Nashihin Sebagai Dalil

Kegunaan, (Jumlah %)

Boleh Digunakan, = (484) (57,7%)

Tidak Boleh Digunakan, = (336) (40,2%)

Tidak Dapat Dipastikan, = (18) (2,1%)

Jumlah, = (839) (100%)

Rabu, 5 Juli 2006 11:41:11 WIB

Kategori : Al-Masaa’il

KAJIAN HADITS DALAM KITAB DURRATUN NASHIHIN, AWAS HADITS PALSU!

[Disalin dari Majalah PANJI MASYARAKAT, Kolom AGAMA / PANJI NO. 32 TH III. 24 NOVEMBER 1999. Sumber: Kajian Hadis dalam Kitab Durratun Nashihin]

http://almanhaj.or.id

 

Hajaiz

13 jam  · 

***

Kenapa Kitab Durratun Nashihin Dipersoalkan

Posted on 12 April 2021

by Nahimunkar.org

 

Kenapa Kitab Durratun Nashihin Dipersoalkan

  • Ada sekitar 30 persen hadits palsu dalam kitab Durratun Nashihin. Diantaranya adalah hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih per malam Ramadhan.



Sumber: Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Kitab Durratun Nashihin banyak memuat hadits-hadits palsu

Judul Kitab: Durratun Nashihin

Penulis: Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khubari

Komentar: Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Kitab ini tidak bisa dijadikan sandaran karena banyak memuat hadits-hadits palsu dan hal-hal yang tidak bisa dijadikan sandaran, termasuk diantaranya dua hadits yang ditanyakan oleh si penanya di atas, sebab kedua hadits tersebut tidak ada asalnya dan didustakan kepada Nabi. Maka kitab seperti ini dan juga kitab sepertinya yang memuat banyak hadits-hadits palsu jangan dijadikan sandaran…”. (Fatawa Nur Ala Darb hal. 80)

Sumber: Waspadailah Kitab-Kitab Berikut Ini… Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, / abiubaidah.wordpress.com

***


Kitab Durrotun Nashihin Tak Bisa Dipertanggungjawabkan

Kitab Durrotun Nashihin (Mutiara-mutiara Nasihat) tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, apalagi  sebagai  pegangan dalam  beragama. Karena kitab ini banyak memuat kisah-kisah  imajiner yang tak jelas sumbernya. (lihat Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

 Penilaian  terhadap Kitab Durrotun Nashihin itu  disampaikan Ustadz  Suwito Suprayogi, dosen LPDI (Lembaga  Pendidikan  Dakwah Islam) Jakarta kepada Pelita, Senin (3/12) sehubungan adanya hasil penelitian  yang  diseminarkan di Pesantren  Al-Hikmah  di Benda Sirampong   Brebes  Jawa  Tengah  bahwa  sejumlah  kitab   kuning megandung hadist-hadits   maudhu’ (palsu).  Maka   kitab   itu disarankan agar tidak diajarkan di pesantren-pesantren. Di antara yang dinilai mengandung hadits-hadits palsu adalah Kitab Durrotun Nashihin (sudah  diterjemahkan)   Al-‘Ushfuriyyah(diterjemahkan oleh Mustafa Helmy), Wasyiyatul Mushtofa, Daqoiqul Akhbar, Tanki hul  Qoul, Sittin Mas’alah, dan Qurrotul  ‘Uyun. (Pelita, 23/12 1993).

Menurut  Ustadz  Suwito yang biasa memberi  pengajian  kitab kuning  kepada para da’i (juru dakwah), Kitab  Durrotun  Nashihin tidak  sesuai dengan kaidah ilmiah dan agama. Dicontohkan,  dalam mengutip  apa-apa  yang disebut hadits,  rujukannya  bukan  Kitab Hadits  seperti  Shohih Bukhori, Shohih Muslim,  Sunan  Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud dan sebagainya. Namun hanya disebut misalnya kitab Zubdatul Wa’idhin, Kitabul Hayah, Raunaqul Majalis dan sebagainya yang semuanya itu bukan Kitab Hadits. Maka  secara ilmiah tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Lebih  dari  itu,  lanjut Suwito,  Kitab  Durrotun  Nashihin mengandung  kisah-kisah  imajiner  yang  berbahaya  bagi   agama.Dicontohkan,  pada  halaman  8 dikisahkan  seorang  yang  namanya Muhammad  tidak  pernah  sholat  sama  sekali.  Lalu  pada  bulan Ramadhan  dia mengagungkan bulan itu dan mengqodhonya. Inti  dari kisah itu mengesankan, ungkap Suwito, seakan-akan semua orang tak usah  sholat,  cukup diqodho di bulan  Ramadhan.  Jadi  kewajiban sholat seakan tak berharga. Sedang nama Muhammad dalam kisah  itu yang disebut tidak pernah sholat sama sekali itu pun tidak jelas siapa orangnya. Padahal agama itu harus jelas bahwa itu dari Nabi Muhammad  SAW atau bahkan dari Al-Quran. “Jadi itu bukan  sekadar Hadits palsu, tetapi kisah imajiner,” tutur Suwito.

Masih pula di halaman 8, Kitab Durrotun Nashihin (yang asli, belum  diterjemahkan) itu memuat kisah Daud At-Toi yang  bermimpi tentang  surga.  “Kisah semacam itu tidak layak  untuk  pedoman,” tandas Suwito sambil menunjuk matan kitab ini, karena tidak jelas siapa Daud At-Toi itu, dan agama itu tidak bisa berpedoman  hanya kepada mimpi.

Dijelaskan,  dalam  Kitab Sunnah  Qoblat  Tadwin dijelaskan secara   metodologis tentang  sebab-sebab   penyelewengan   dan pemalsuan  hadits.  Di antaranya disebabkan oleh  pembuat  kisah-kisah  (qoshosh) yang dihubungkan dengan agama, atau  orang  yang cinta ibadah tapi dia bodoh dalam agama. Terhadap kasus ini, Nabi mengancam,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Man  kaddzaba  ‘alayya  muta’ammidan   falyatabawwa’ maq’adahu  minan  naar. Barangsiapa berbohong  atas  saya  secara sengaja maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya di  neraka. (Hadits Mutawatir/di jajaran paling kuwat).

Untuk  mengecek  masalah ini, lanjutnya, bisa  disimak  pada kitab  MinhajusSholihin karangan ‘IzzuddinBliq dari  Palestina yang  dalam pengantarnya dia menyebut dirinya  berkeliling  dunia sebagai utusan Dewan Dakwah. Kitab yang tebalnya 1024 halaman itu menyebut,  pemalsuan  terutama  dalam  hal  fadhilah  (keutamaan)membaca  surat-surat Al-Quran. Pada halaman 32  dicontohkan,  Nuh Bin  Abi  Maryam mengaku  membuat  hadits-hadits  palsu  tentang fadhilah  membaca  surat-surat  Al-Quran.  Pengakuan  itu  dengan kilah:  Kami  berdusta bukan untuk saya tetapi  demi  Nabi  (agar cinta kepada Nabi).

Yang  lebih  lucu  lagi,  lanjut  Suwito, (mengenai pembuatan hadits palsu) pada  halaman  31 –Kitab Minhajus Sholihin–disebutkan,  ada  penceramah di masjid  mengemukakan:  Man  qoola laailaaha  illalloh  kholaqolloohu min kulli  kalimatin  thoiron, minqoruhu  min  dzahabin wa riisyuhu min  marjaanin.  Barangsiapa mengucapkan Laailaaha illallohu, maka Allah membuatkan  tiap-tiap kata itu burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari mutiara.Ini disebut Hadits Nabi yang riwayatnya dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya  bin  Ma’in. Saat itu Imam Ahmad bin Hanbal dan  Yahya  bin Ma’in  mendengarkan  ceramah ini langsung, dan kedua  ulama  yang disebut  itu saling memandang sambil bertanya: Apakah kamu  meriwayatkan  itu? Masing-masing mengatakan, tidak. Lalu kedua  ulama ini  menemui  penceramah, dan menyatakan diri:  Kami  ini  adalah Ahmad  bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, namun  tidak  meriwayatkan Hadits yang Anda sebutkan itu.

Jawab  penceramah, ” Alangkah bodohnya dunia ini.  Memangnya yang  namanya  Ahmad  bin Hanbal dan Yahya bin  Ma’in  itu  hanya kalian berdua?”

Dari  kenyataan itu, Suwito mengharapkan hadits-hadits  yang palsu  perlu  dihindari, sebab pemalsunya  sampai  sengotot  itu.Untuk itu perlu memberikan alternatif kitab-kitab yang jelas bisa dipegangi.  Banyak  kitab yang bisa  dipertanggung  jawabkan,  di antaranya  Minhajus Sholihin, Minhajul Qoshidin, Minhajul  Muslim lil  Jazairi,  Dalilul  Falihin  Syarah  Riyadhus  Sholihin dan sebagainya.  Saat ini masih banyak ayat-ayat Al-Quran yang  masih belum  banyak dipelajari, di samping hadits-hadits  shohih.  Maka hendaknya  umat Islam tidak disibukkan oleh kisah-kisah  imajiner yang tak bisa dijadikan pegangan seperti kitab yang telah dinilai memuat  hadits-hadits  palsu tersebut,  kata  Suwito  mengakhiri. (hht/ Jakarta, Pelita, 4/ 1 1994 ).

Sumber: Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

 ***

 [ سؤال حول مقولة وردت في كتاب درة الناصحين ]

هذا الكتاب لا يعتمد عليه

س 27 – سائلة تسأل تقول: قرأت في كتاب درة الناصحين في الوعظ والإرشاد لعالم من علماء القرن التاسع الهجري، واسمه عثمان بن حسن بن أحمد الشاكر الخوبري، ما نصه: عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده قال: إن الله تعالى نظر إلى جوهرة فصارت حمراء، ثم نظر إليها ثانية فذابت وارتعدت من هيبة ربها، ثم نظر إليها ثالثة فصارت ماء، ثم نظر إليها رابعا فجمد نصفها، فخلق من النصف العرش، ومن النصف الماء ثم تركه على حاله، فمن ثمة يرتعد إلى يوم القيامة. وعن علي رضي الله عنه إن الذين يحملون العرش أربعة ملائكة لكل ملك أربعة وجوه أقدامهم في الصخرة التي تحت الأرض السابعة مسيرة خمسمائة عام أرجو أن تفيدوني عن صحة ما قرأت؟

الجواب: هذا الكتاب لا يعتمد عليه، وهو يشمل أحاديث موضوعة، وأشياء سقيمة لا يعتمد عليها، ومنها هذان الحديثان، فإنهما لا أصل لهما بل هما حديثان موضوعان مكذوبان على النبي صلى الله عليه وسلم ، فلا ينبغي أن يعتمد على هذا الكتاب، وما أشبهه من الكتب التي تجمع الغث والسمين، والموضوع والضعيف ، فإن أحاديث الرسول عليه الصلاة والسلام قد خدمها العلماء من أئمة السنة، وبينوا صحيحها من سقيمها، فينبغي للمؤمن أن يقتني الكتب الجيدة المفيدة، مثل الصحيحين، ومثل كتب السنن الأربع، ومثل منتقى الأخبار لابن تيمية، ومثل رياض الصالحين للنووي.

هذه كتب مفيدة ونافعة، ومثل بلوغ المرام، وعمدة الحديث، وهذه يستفيد منها المؤمن، وهي بعيدة من الأحاديث الموضوعة المكذوبة، وما في السنن أو في رياض الصالحين أو في بلوغ المرام من الأحاديث الضعيفة فإن أصحابها بينوه ووضحوه، والذي لم يوضح من جهة أصحابها بينه أهل العلم أيضا ونبهوا عليه في الشروح التي لهذه الكتب، وفيما ألف أهل العلم في الموضوعات والضعيفة.

فالحاصل أن هذه الكتب هي المفيدة والنافعة فهي أنفع من غيرها، وما قد يقع في بعضها مثل ما قد يقع في البلوغ أو في المنتقى أو في السنن من بعض الأحاديث التي فيها ضعف يبينها العلماء ويوضحها العلماء الذين شرحوا هذه الكتب أو علقوا عليها فيكونون على بينة وعلى بصيرة، أما الكتب التي شغف مؤلفوها بالأحاديث الموضوعة والمكذوبة والباطلة فلا ينبغي اقتناؤها.

نور على الدرب (ص: 40، بترقيم الشاملة آليا)

الكتاب : فتاوى نور على الدرب للعلامة عبد العزيز بن باز رحمه الله

المؤلف : عبد العزيز بن عبد الله بن باز (المتوفى : 1420هـ)

اعتنى به : أبو محمد عبد الله بن محمد بن أحمد الطيار – أبو عبد الله محمد بن موسى الموسى

Posted on 29 Juni 2014

by Nahimunkar.org

(nahimunkar.org)