Kupang – Adzan berkumandang di rumah jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, pada Senin petang (28/12). Namun, seruan itu dikumandangkan bukan dalam rangka panggilan shalat, tetapi untuk mengiringi lagu rohani Ave Maria yang dinyanyikan dalam peringatan Natal Bersama Nasional 2015.

Sekitar 10.000 umat Kristiani dan lintas agama dilaporkan mengikuti perayaan Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT. Acara itu juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, panglima TNI dan Kapolri.

Miris bagi Umat Islam. Perusakan Akidah Islam tampaknya disengaja dan semakin menggejala di negeri ini.

Menggunakan adzan milik Islam untuk mengiringi perayaan natalan milik kristen secara sengaja itu menurut pergaulan hidup berarti membajak milik Islam demi kepentingan kristen.

Ketika di antara yang hadir di perayaan kristen itu ada orang yang mengaku Islam, maka jangan salahkan Umat Islam bila menganggap mereka itu bersekongkol dengan orang kristen dalam membajak milik Islam demi kepentingan kristen. Padahal, kepada Umat Islam, Allah Ta’ala telah wanti-wanti dengan tegas:

{هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ} [آل عمران: 119، 120]

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan [Al ‘Imran,119-120]

Kepada mereka yang bersekongkol dengan kafirin itu telah diancam oleh Allah Ta’ala:

{ بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138، 139]

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah [An Nisa”,138-139]

Apabila orang-orang munafik dan kaum kafir dibiarkan saja membajak milik Islam demi kepentingan kaum kafir, maka lafal kerukunan atau toleransi yang mereka gembar-gemborkan selama ini maknanya hanya untuk memojokkan Islam dan sekaligus menggerus Islam demi kepentingan kafirin. Oleh karena itu, Umat Islam perlu mengikuti peringatan dari Allah Ta’ala:

يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٤ [سورة الـمنافقون,٤]

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) [Al Munafiqun: 4]

Inilah beritanya.

***

Innalillahi, Adzan Dikumandangkan untuk Iringi Lagu Rohani Kristen di Natal Bersama Nasional

Jokowi menghadiri perayaan Natal bersama di NTT

Jokowi menghadiri perayaan Natal bersama di NTT

KIBLAT.NET, Kupang – Adzan berkumandang di rumah jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, pada Senin petang (28/12). Namun, seruan itu dikumandangkan bukan dalam rangka panggilan shalat, tetapi untuk mengiringi lagu rohani Ave Maria yang dinyanyikan dalam peringatan Natal Bersama Nasional 2015.

Sekitar 10.000 umat Kristiani dan lintas agama dilaporkan mengikuti perayaan Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT. Acara itu juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, panglima TNI dan Kapolri.

Selain menampilkan kesenian lokal NTT, saat puncak acara diperdengarkan lagu rohani Ave Maria. Namun, secara kontroversial lagu Natal itu dinyanykan dengan iringan kumandang adzan.

Penampilan beriringan panggilan shalat dengan lagu rohani Kristen itu dilakukan, dikatakan sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di wilayah itu. Aksi teatrikal juga menyertai dilantunkannya lagu Ave Maria yang diiringi adzan itu.

“Bagus sekali tadi lagu Ave Maria dan Adzan disajikan bersama. Padahal biasa hanya kita dengarkan di masjid, atau di televisi saat adzan Maghrib,” kata Ruma Laurensius, seorang hadirin dalam acara itu, sebagaimana dilansir JPNN.

Lagu Ave Maria karya Schubert dinyanyikan Reny Gadja dari Gereja Musafir Indonesia. Sementara adzan yang menyertai nyanyian itu dikumandangkan oleh Umarba, imam masjid Oepura yang berdiri di samping Reny.

“Ini sangat berkesan, karena sesuatu yang berbeda ternyata bisa dipadukan menjadi satu paket yang lebih indah,” kata Reny, seperti dilaporkan Kompas.com.

Mirisnya, Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT itu tak hanya menampilkan kolaborasi adzan dan lagu rohani Kristen. Acara itu juga menampilkan lagu qasidah dari komunitas pengajian ibu-ibu di Kupang. Mereka membawakan lagu yang dipopulerkan oleh grup legendaris Nasida Ria.

Sumber: JPNN/Kompas
Penulis: Imam S./ kiblat.net

***

Akidah Oplosan ala Jokowi

Jelas sudah, ini adalah toleransi konyol yang merusak dan menghancurkan Aqidah.

Lantas kebaikan macam apa yang bisa diharapkan dari Oplosan Aqidah seperti ini, kecuali Kemunkaran dan Pengkhianatan terhadap Agama. Dan apa pula yang bisa diharapkan dari seorang pemimpin yang tidak paham akan agamanya sendiri..?!

Ketika badai syubhat kian menerjang, fitnah-pun merajalela, kebenaran kian tersisih, terasing di tengah lautan manusia. Sekat pemisah antara kebenaran dan kebatilan runtuh sudah.

Kehadiran Presiden RI Joko Widodo dalam rangka memimpin Perayaan Natal Nasional di Papua (27/12/2014) adalah salah satu bukti penyimpangan aqidah dan tidak adanya pendirian dalam beragama.
Mencampur adukkan antara yang Haq dan Batil ini merupakan tindakan yang nyata-nyata telah melanggar larangan Allah, sekaligus juga bertentangan dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa umat Islam di larang mengikuti atau ikut-ikutan merayakan Perayaan agama Nasrani/Non Muslim.

Larangan keras dan tegas ini di keluarkan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI KH M. Syukri Ghozali dan Sekretaris H. Masudi, pada 7 Maret 1981. Sementara, Fatwa Haram Mengikuti Perayaan Natal Bersama ini juga disampaikan oleh pimpinan tertinggi Ulama se-Indonesia KH. Ma’ruf Amin beberapa waktu lalu.

Maka jelas sudah di mana garis batas toleransi itu. Bahwa toleransi hanyalah dalam hal bermasyarakat, bermuamalah, dimana urusanya hanyalah sebatas duniawi. Bukan dalam hal urusan ibadah.

Namun dalam hal ini Jokowi justru menutup mata, ia nekad menghadiri bahkan memimpin Perayaan Natal di Papua. Mengesampingkan undangan menghadiri peringatan 10 tahun Tsunami Aceh yang sebenarnya justru lebih dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menyentuh seluruh aspek tanpa memandang perbedaan agama apapun.

Alih-alih mengatas namakan toleransi antar umat beragama, padahal sejatinya gamang terhadap agamanya sendiri, alias ‘’mliyar-mliyur’’. Sehingga berbaur menyatu merayakan Hari Raya Agama lain dianggapnya sepele.

Salah satu kutipan sambutan Jokowi pada Puncak Perayaan Natal di Papua sebagaimana dilansir tribunnews.com pada 27/12/2014, ialah ‘’Jokowi menyampaikan Ucapan Selamat Hari Natal disertai Salam Hormat dan Bahagia kepada seluruh umat Kristiani di Jayapura, Tanah Papua, serta di seluruh pelosok tanah air’’.

Jelas sudah, ini adalah toleransi konyol yang merusak dan menghancurkan Aqidah. Ini adalah hal pokok dan sangat prinsip yang harus diluruskan. Di mana Jokowi sebagai Kepala Pemerintahan sudah nyata-nyata melanggar Pancasila, sila pertama yaitu : Ketuhahan Yang Maha Esa.

Lantas kebaikan macam apa yang bisa diharapkan dari Oplosan Aqidah seperti ini, kecuali Kemunkaran dan Pengkhianatan terhadap Agama. Dan apa pula yang bisa diharapkan dari seorang pemimpin yang tidak paham akan agamanya sendiri..?!

Bangkit! Muslim sejati harus cerdas, harus berani menunjukkan jati diri agamanya, jangan sampai ikut mengambang, mengalir terbawa derasnya arus penyimpangan Aqidah. Ingat! Tidak ada toleransi dalam urusan ibadah, dan tidak ada ibadah yang masih di oplos dengan toleransi. Sebab, kebaikan itu relatif sementara kebenaran itu mutlak!
Wallohu’alam bi Showab.

Liesky Rennita
Ketua Divisi Berita & Peliputan Komunitas Penulis Islam (KOPI)

Si online, Senin, 19/01/2015 22:23:15

(nahimunkar.com)

(Dibaca 28.487 kali, 1 untuk hari ini)