Inilah sorotannya.

***

Mengintip Makar di Masjid Al-Mukarromah

KIBLAT.NET, Jakarta – Keserakahan pembangunan di ibukota kembali memakan korban. Kali ini sebuah masjid dijual tanpa sepengetahuan warga dan jamaahnya. Ajaibnya, hasil penjualan itu menjadi ‘bancakan’ oleh orang-orang yang semestinya bertanggung jawab untuk menjaganya.

Masjid Al-Mukarromah adalah sebuah masjid yang berada di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masjid tersebut dulunya didirikan atas hibah dari sebuah perusahaan, dan pengelolaannya dipercayakan kepada Yayasan Al-Mukarromah. Selain tanah dan bangunan masjid, sebuah TK juga menjadi bagian aset yayasan yang berasal dari hibah tersebut.

Masjid yang sudah berdiri selama lebih dari 30 tahun itu kini di ambang kehancuran. Pasalnya tanah yang menjadi tempat berdirinya masjid itu telah dijual kepada sebuah perusahaan bernama PT Cahaya Globalindo Mulia. Naasnya, penjualan tanah dan bangunan milik umat itu justru dilakukan oleh para pembina yayasan yang semestinya menjaganya, tanpa sepengetahuan jamaah dan pengurus masjid.

Puncaknya, pada Ahad (08/02) para pembina yayasan yang notabenenya merupakan pendiri masjid, datang bersama sejumlah algojo untuk menghancurkan masjid. Upaya jamaah dan warga yang mencegah aksi mereka tak digubris. Akhirnya tembok pagar depan masjid pun roboh hari itu.

Kejadian itu terungkap saat Pengurus dan Jamaah Masjid Al Mukarramah didampingi seorang penasihat hukum dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), menceritakan kisah tersebut kepada sejumlah media Islam. Dalam pertemuan yang digelar di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur pada Jumat (13/02) itu, para jamaah dan pengurus mengungkapkan kekecewaannya atas kejadian itu.

“Wilayah masjid ini adalah wilayah yang basah, daerah gusuran yang nilainya mahal sekali,” kata Arif Hidayat, salah satu pengurus masjid Al Mukarramah.

Selama ini, lanjut Arif, warga sekitar dan jamaah masjid hanya mendengar adanya isu-isu penjualan masjid. Pihak yayasan tidak pernah mengadakan musyawarah dan memberitahukan kepada warga perihal rencana penjualan itu. Suatu ketika oknum pembina yayasan pernah melakukan pengukuran, namun membantah ketika ditanya apakah masjis akan dijual.

“Mereka datang ke Global itu kami hanya mendengar isu-isu seperti itu, tidak pernah dimusyawarahkan,” lanjut arif.

Para pengurus juga dipaksa untuk ikut menyetujui penjualan itu. Sejumlah upaya dilakukan oleh pihak pembina yayasan untuk membujuk mereka.

“Terjadi intimidasi dan iming-iming uang kepada kami, alhamdulillah saya tolak saat itu,” kata Arif.

Sementara penasihat hukum dari DDII yang ditunjuk pengurus dan jamaah masjid mengatakan bahwa penjualan itu telah didesain sedemikian rupa. Dia mengungkapkan bahwa menurut akta yayasan, pembina sebenarnya juga tidak punya hak untuk menjual aset yayasan.

“Ini sudah didesain demikian tetapi seolah-olah realokasi. Kalau relokasi kan mestinya diberitahukan ke jamaah, ini silent, diam-diam,” kata Drs Muchtar Lutfi, SH.

“Sebenarnya sudah ada pernyataan warga menolak karena warga tidak pernah diberi tahu, hanya dengar-dengar,” imbuh Muchtar.

Para pembina Yayasan Al Mukarromah, Muchtar menambahkan, sengaja mendesain penjulan dengan seolah-olah mengoperkan kepada PT Cahaya Globalindo Mulia. Belakangan diketahui bahwa salah satu pembina yang terlibat dalam penjualan itu adalah mertua dari Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin.

Selanjutnya pihak penasihat hukum akan melanjutkan ini ke proses hukum. “Ini adalah penggelapan dan penadahan,” kata Muchtar.

Reporter: Imam Suroso

Editor: Fajar Shadiq

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.774 kali, 1 untuk hari ini)